
satu bulan telah berlalu ,keadaan Dimas semakin memburuk ,Begitu pula dengan Erland ,pikiran pria itu terhadap ana membuat nya sudah semakin menggila ,Nabila sang sahabat dari ana tidak memberi tahu di mana ana berada ,
Namun saat ini yang di pikirkan Erland adalah Dimas untuk segera membawa dia ke rumah sakit .
"Ini saat nya aku harus membawa Sahara untuk kak Dimas , dengan kondisi nya semakin memburuk seperti itu aku harus cepat menyeret wanita itu ,agar kak Dimas sadar dan melakukan oprasi kulit ."
Kini Erland bersiap untuk pergi ke perusahaan DA'Group ,dia akan menemui Bryan untuk meminta bantuan , tak butuh waktu lama dia sampai di perusahaan tersebut .
"Bryan ." ucap Erland yang tiba-tiba membuka pintu ruangan Bryan .
"Batu tumpul ,bisa tidak kau masuk ketuk pintu dulu ,kenapa kau main masuk saja hahh ."ucap Bryan dengan kesal nya
"Bantu aku ," ucap nya dengan lesuh .
Bryan mengerutkan kening nya ,ada sesuatu yang berbeda dari sahabat nya itu setelah beberapa Minggu lalu terakhir dia bertemu dengan Erland .
"Erland apa yang terjadi ,kenapa kau seperti tak terurus ," ucap Bryan tengah melihat Erland yang tengah duduk .
"Kakak ku semakin memburuk dan tidak sadar ,aku akan membawa dia ke rumah sakit ?kau tolong bantu aku untuk membawa Sahara ke hadapan kakak ku dan Irsan tidak mungkin bisa membawa Sahara seorang diri ,wanita iblis itu terlalu kuat untuk dia hadapi ,jika dengan bantuan mu aku yakin itu akan berhasil untuk membawa Sahara ke hadapan kakakku." ucap Erland dengan penampilan yang sangat acak-acakan
"Apa ?! kondisi Dimas memburuk ,aku belum sempat menemui dia untuk melihat nya ,karna aku banyak kerjaan di kantor ,bahkan aku bilang sama Roy ,bukan nya ke adaan nya membaik ? lalu kenapa sekarang jadi memburuk." ucap Bryan terkejut .
"Mungkin karna dia memikirkan aku yang mendengar perdebatan antara aku dan Anatasya ,? jadi aku mohon bantu aku untuk membawa Sahara ke hadapan kakak ku ,aku tidak ingin menyeret wanita sialan itu ,aku sudah puas telah menyiksa nya ," ucap Erland berjalan menghampiri Bryan .
"Bantu aku untuk membujuk Sahara dan bawa kehadapan kakak ku ." ucap Erland kembali menepuk pundak Bryan .
Dering ponsel Erland membuyarkan mereka berdua ,dia melihat nama tertara yang ada di ponsel nya tersebut ,di saat dia menerima telpon tersebut seketika Erland terkejut dengan apa yang di katakan Roy dari balik telpon.
"Apaa ...?! baik aku akan segera kesana ...?! " ucap Erland menutup telpon nya .
"Erland ada apa .?! keadaan Dimas baik-baik saja kan..." ucap Bryan berdiri dari kursi kebesaran nya .
"Kakak ku berada di jalan menuju rumah sakit ,aku harus segera pergi Bryan ," ucap Erland telah melangkah pergi
"Ingat perkataan ku tadi Bryan ." ucap nya berhenti dari langkah nya ,dan berlalu pergi .
Bryan tidak mendengarkan perkataan sahabat nya itu ,dia langsung mengambil kunci mobil dan pergi mengikuti Erland untuk ke rumah sakit.
"Dimm ... bertahan lah ,kau jangan mati ?! sia-sia aku dan Erland dulu keluar dari api sialan itu ,jika kau mati ,aku telah sangat menyesal pada diriku sendiri ."
Dimas dan Erland pun tengah sampai di rumah sakit Anggara, mereka berdua berlari dimana Dimas berada .
"Roy ... gimana dengan keadaan Dimas." ucap Bryan tergesa-gesa .
Roy tidak menjawab pertanyaan Bryan , sudah pasti Bryan pun tahu dengan ekspresi Roy , kini dia berlari ke arah pintu di mana Erland melihat Dimas dari kaca pintu ruang rawat Dimas .
"Ini tidak bisa di biarin ." ucap Bryan berlalu pergi meninggalkan rumah sakit .
"Dim ,aku tahu ? kau sangat mencintai Sahara ,aku dan Erland akan membawa wanita itu ,? tapi.... jangan salahkan aku ,jika suatu saat nanti kau menyesal setelah mengetahui Sahara sebenarnya ."
Kini Bryan telah pergi dari parkiran rumah sakit tersebut untuk pergi menemui di mana Sahara yang sekarang di sekap oleh Irsan .
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sisi lain ana tengah berada di salah satu pendesaan ,dia sudah menjauh dari kota yang penuh perangkap itu , sebelum ana pergi ana berpamitan pada Nabila untuk terakhir kali nya dan ana berpesan pada Nabila siapapun yang mencari nya tidak boleh ada yang tahu dia pergi kemana ,
Sudah satu bulan ini ana tengah berada di desa ,dan dia bekerja sebagai penjahit dan ikut bersama seseorang wanita paruh baya yang tengah membawa nya , kehidupan di desa membuat dia bisa melupakan segalanya.
"Ana ... ibu minta tolong ya ,,?? nanti besok kau bisa kan mengantarkan baju yang sudah di pak itu ,ke salah satu toko yang ada di simpang jalan menuju ke arah sini .." ucap Bu Inggit yang menunjuk ke baju yang sudah di pak .
"Iya Bu ,,nanti saya akan antarkan baju itu , kira-kira jam berapa Bu .." ucap ana yang tengah melangkah pada kursi di mana dia harus menjahit .
"Jam sepuluh pagi ,sekarang kau jangan berkerja dulu ?? istirahat lah dulu ,kau sudah bekerja keras hari ini ,mari makan dulu, tadi ibu beli makanan ini di sisi jalan." ucap Bu Inggit tersenyum..
"Iya benar ana ,kau hari ini terlalu bekerja keras, dengan semangat mu dari pagi ,kau hanya berhadapan dengan mesin saja ..haha .." ucap salah satu pekerja penjahit .
Kini akhirnya mereka tengah makan siang dengan canda gelak tawa nya ,ana mengingat di mana dirinya tinggal di mansion Anggara ,dia selalu memakan makanan enak ,di saat dirinya melihat makanan itu ,dia teringat pria yang dia cintai ,yang tak lain adalah Erland .
"Aku tidak tahu kabar nya mereka ,Bahkan aku pergi dari keluarga Anggara dengan masih berstatus istri Dimas ,?? dan aku juga tidak tahu ,kenapa aku harus merindukan pria jahat itu ,seharus nya aku membenci nya ."
Ana menangis dan melihat makanan yang telah di belikan oleh Bu Inggit ,ana bukan menangisi makanan nya ,entah kenapa dia tiba-tiba mengeluarkan air mata, salah satu pekerja yang melihat ana menangis menenangkan nya..
"Ana kau kenapa ,apa kau sakit ?! apa kau merindukan keluarga mu lagi ." ucap salah satu pekerja .
"Aku gak apa-apa kok ,aku baik-baik saja .." ucap ana menghapus air mata nya .
"Cerita lah pada kami ,kami siap mendengarkan nya ,?? tapi jangan sekarang ,kau harus makan dulu ..." ucap yang satu nya lagi ..
Ana tersenyum dan mengangguk kepala nya ,dia bahagia mempunyai teman baru dari daerah lain ,di saat ana akan memakan makanan nya tiba-tiba perut nya merasa mual ,ana pun langsung berdiri dari duduk nya dan lagi menuju wastafel yang tak jauh dari ruangan itu ..
Huekkk ...
"Ana kenapa , apa rasa nya tidak enak ," ucap Bu inggit yang tengah mengikuti ana
Ana tidak menjawab pertanyaan bu Inggit , lagi-lagi dia merasakan mual dan mengeluarkan cairan di dalam mulut nya .
"Ana apa kau baik-baik saja ." ucap Bu Inggit khawatir
"Aku baik-baik aja kok Bu ... huuekk ....
"Apa nya yang baik-baik saja ana , kau terlihat sangat pucat , sini biar ibu bantu untuk pijatin pundak kamu ya ," ucap Bu Inggit yang di angguki ana .
"Kenapa kamu bisa mual seperti ini , kamu gak perlu bekerja hari ini ya ,kamu istirahat lah ,wajah mu pucat ." ucap Bu Inggit yang masih memijat pundak ana .
Bu Inggit heran dengan ana ,belum juga memakan nya ,kenapa dia bisa langsung mual .
Kini Bu Inggit membawa ana untuk istirahat,setelah itu Bu Inggit kembali di mana mereka tadi makan siang , Bu Inggit memeriksa makanan itu dan menyamakan dengan yang lain nya tidak terjadi apapun .
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Disisi lain seorang pria sudah kewalahan tengah berdebat dengan Sahara ,siapa lagi jika bukan Irsan ,semenjak pulang dari rumah sakit ,dia sudah satu Minggu itu selalu di repot kan oleh Sahara ,dan membuat Irsan kerepotan ,sahara lagi-lagi memanggil Bryan sahabat nya
"Tuan baskara di mana Bryan ,aku ingin bertemu dengan nya ,sudah dua Minggu aku tidak melihat nya dan tak melihat ku ,di mana dia ,"ucap Sahara meninggi
__ADS_1
Anak buah Irsan begitu ngeri setelah mendengar teriakan nya Sahara , Irsan yang sudah di buat pusing dengan wanita itu dia terpaksa harus niat menghubungi Bryan tanpa bilang ke Erland.
"Sahara ... bisa tidak kau jangan memanggil nama Bryan terus ... aku sudah gila mendengar suara mu itu , " ucap Irsan menutup telinga nya .
"Aku ingin bertemu dengan Bryan ... aku ingin bertemu dia ." ucap Sahara dengan menangis nya ..
"Wanita ini sudah gila ,kenapa dia begitu menyukai si Bryan yang bermuka mendung itu , Dimas juga ,dia telah salah mencintai seseorang wanita seperti Sahara , sialan .? mereka menemukan cinta yang begitu rumit .
"Baik jika kau ingin bertemu Bryan ,makan diam lah kau jangan banyak bertingkah ,diam dengan tenang oke ,aku akan panggilkan dia sekarang juga ." ucap Irsan tengah mengeluarkan ponsel nya .
Di saat Irsan akan menelpon Bryan , tiba-tiba pintu masuk tengah terbuka , Irsan terkejut dan kenapa tiba-tiba Bryan datang , baru saja dia akan menelpon nya .
"B_bryan ., kau kembali ," ucap Sahara senang ,.
Dia ingin melangkah menghampiri pria itu ,tapi dia tidak bisa melangkah karna kedua tangan nya di ikat ,Bryan melihat Sahara dan berjalan menghampiri wanita itu.
"Sahara kau harus ikut dengan ku sekarang ?,aku tidak tahu dengan kehidupan mu yang akan datang ,aku tidak tahu juga jika kau tidak ingin mengikuti ku pergi untuk ke rumah sakit ,maka Erland yang akan turun tangan untuk menghabisi mu , " ucap Bryan yang tengah mencengkram wajah Sahara .
"Dan dengar baik-baik jika dulu adikmu tidak memberi wasiat padaku untuk tidak membunuh mu , aku bisa saja waktu itu sudah membuang mu ke dasar lautan dalam ,tapi dengan adik mu yang mempunyai hati malaikat,? monalisa melarang ku untuk tidak melukai mu ,"
"Tapi sekarang ,?? kematian mu bukan ada di tangan ku ,tapi ada di tangan Erland ,?? sekarang pilihan mu ada dua ... pertama kau pilih mati ,ke dua atau kau memilih pergi dengan ku untuk bertemu dengan Dimas yang sekarang semakin memburuk ."
"Jika Dimas mati ,... kau juga harus mati .? karna semua ini ulah mu ,jika kau ingin masih hidup ,? maka kau ikuti kemauan Erland dengan bertemu Dimas ,hanya satu-satunya harapan hidup dia itu adalah kau , " ucap Bryan dengan penuh kebencian .
"Jika sampai wanita ini tidak ikut dengan ku ,aku akan paksa dan menampar nya hingga tak sadarkan diri ,habis itu akan ku bawa wanita ini ke hadapan Dimas ."
"Dimas sekarat di rumah sakit ,itu bagus ,lebih cepat lebih baik , dia lebih baik mati dari pada hidup Bryan ,kenapa kau mengurusi pria lembek itu ,aku tidak perduli dengan dirinya ." ucap Sahara dengan menolak apa yang katakan Bryan
"Apa kau tidak mengerti dengan ucapan ku tadi hahh ,,jika Dimas mati ,? Erland akan membunuh mu ,termasuk aku ,? aku juga akan ikut mati ." ucap Bryan dengan tatapan tajam nya .
Irsan yang mendengar Dimas keadaan nya semakin memburuk dia terkejut , apalagi yang barusan Bryan katakan ,jika Dimas mati dia juga akan ikut mati .
"Bryan apa yang kau katakan , kenpa kau berbicara seperi itu ,? kita tidak ada cara lain lagi ,jika wanita ini tidak mau pergi ke rumah sakit kita paksa dia .? dan kau .. kau jangan berbicara yang tidak-tidak ,jika kau mati ,siapa yang akan menggantikan teman sekumpulan kita ." ucap Irsan yang tengah melepaskan tangan Bryan dari Sahara .
"Aku lebih baik mati ,jika Dimas mati ,aku juga harus mati ,Karna aku hidup seperti ini karna pertolongan dia Irsan ,aku punya segalanya karna bantuan dari Dimas ,? jika bukan karna dia aku juga pasti sudah mati ,aku tidak bisa hidup jika Dimas mati Irsan ." ucap Bryan terduduk mengingat masa dulu di mana dirinya terjebak api besar di sebuah mobil pasca kecelakaan maut, dan Dimas kecil menolong nya saat di masa kecil.
Irsan terkejut mendengar perkataan Bryan ,dia tidak tahu asal usul nya Bryan ,dia hanya tahu hidup nya seorang diri dan sudah menjadi yatim piatu semenjak kecil , begitu pula dengan Sahara ,dia juga terkejut kehidupan Bryan yang sesungguh nya , tapi Sahara tidak memperdulikan itu .
"Baik ... aku akan ikut dengan mu ke rumah sakit ." ucap Sahara dengan suara lemas nya .
"Aku tidak ingin bryan mati karna Dimas ,jika pun Dimas mati ...? biar aku saja yang menanggung nya ."
.
.
.
.
.
__ADS_1
L,K ,V nya ...☺️🤗