
pagi pun tiba Ana melangkah ke bawah dengan wajah di tekuk ,dia menyilangkan dada nya karna kejadian yang semalam itu membuat dirinya tak karuan , di saat dia melangkah ,langkah nya terhenti karna melihat Bi Ani yang tengah berjalan ke hadapan nya .
" Pagi nyonya ana, ini saya bawakan teh hangat untuk anda ,minum lah selagi masih hangat , nyonya saya membuat kan kue kacang untuk anda dan sebentar lagi kue kacang anda akan matang ." ucap bi Ani yang tengah memberikan teh manis itu .
"Terima kasih bi Ani ,? ohh iya bi Ani aku minta tolong untuk minta kunci kamar tamu yang lain lagi , aku ingin pindah kamar ,? aku tidak enak dengan Erland ,dia selalu masuk kamar dengan sembarangan ," ucap ana dengan menghela napasnya berat.
Bi Ani mengerutkan kening nya melihat ana dengan wajah yang di tekuk , lagi-lagi dia harus menghela napas nya panjang menghadapi sepasang suami istri itu ,yang masih dalam tahap perkembangan.
"Kemarin malam ,aku melihat tuan Erland masuk ke kamar tamu yang di tempati nyonya ana ,dan sampai sekarang tuan Erland belum turun juga ,"
"Meminta kunci kamar tamu yang lain ,? kenapa harus pindah kamar lagi nyonya ,kamar pengantin nyonya bahkan kosong ,mungkin tuan Erland kelelahan nyonya ,makan nya dia masuk dengan tidak lihat-lihat siapa yang dia masuki kamar itu ."ucap bi Ani dengan memberikan alasan yang sebisa mungkin untuk menjawab pertanyaan ana .
"Aduh ,alasan apa lagi yang aku katakan tidak lurus ini ."
Ana menghela napasnya panjang ,dia tidak menjawab pertanyaan bi ani ,dia melihat cangkir yang berisi teh manis itu dan menatap nya ,ana melihat pantulan dirinya dalam air teh manis itu dengan wajah yang masih di tekuk .
"Mengalah pun tidak berguna ,bukankah Erland perduli pada Dimas yang tak lain kakak nya itu ,tapi dia melakukan hal itu padaku ,dia tidak sopan dengan kakak ipar nya sendiri ,?dan lagi pria tampan seperti dia tidak mungkin kekurangan wanita dan kenapa mesti menggoda aku ,yang istri dari kakak nya ."
Bi Ani yang melihat ana menundukan kepalanya dengan ekspresi yang tidak baik ,kini dia tidak ingin berdiri lama-lama di hadapan nya dan berlalu pergi ke arah dapur dengan menghela napas nya berat.
"Mungkin mereka belum saat nya untuk berdamai menjadi suami istri ...haiih...."
"Maaf nyonya ,saya tidak bisa membantu anda untuk membocorkan semua yang telah tuan Erland lakukan " gumam bi Ani kecil.
Kini bi Ani mengambil sarapan yang tengah dia siap kan untuk Dimas ,dia berjalan ke arah lift ,di saat dia akan melangkah ,dia melihat ke arah ana yang masih wajah di tekuk nya ,bi Ani hanya bisa menghela napasnya panjang, tak butuh waktu lama ,bi Ani sudah sampai di lantai tiga dan masuk ke ruangan Dimas.
"Ahh tuan Dimas ,ternyata anda bangun ,? maaf saya menganggu ,ohh iya tuan ,hari ini nyonya ana tidak memasak ,kemungkinan saya memberi ini untuk anda seperti yang saya masak sebelum nya ." ucap bi Ani yang menaruh nampan di atas nakas .
__ADS_1
Dimas melihat ke arah bi Ani ,dia terheran-heran di saat bi Ani mengatakan ana yang tidak memasak untuk makanan nya .
"Bi Ani ,tumben adik ipar ku tidak membuatkan sarapan untukku , apa terjadi sesuatu padanya ,aku belum sempat melihat monitor apa yang hari ini telah terjadi padanya ,? apa Erland memperlakukan nya dengan tidak baik pada istri nya. " lirih Dimas yang tengah melihat Bi Ani .
Bi Ani menghela napas nya berat ,yang di katakan Dimas pasti antara dua pasutri itu ,tidak ada hal lain yang di katakan tuan nya itu .
"Tuan hari ini wajah nyonya ana di tekuk dan terlalu di pikirkan? karna tuan Erland masuk kamar tamu yang di tepati nyonya ana , sampai-sampai dia lupa tidak masuk dapur untuk membuat kan sarapan untuk anda."
Dimas hanya mendengarkan perkataan bi Ani yang tengah duduk itu ,Dimas memikirkan Erland yang masih belum mengakui dirinya sebagai suami , dan apa yang di katakan bi Ani membuat dirinya berpikir bahwa mereka sudah tidur bersama .
"Bi Ani ,apa mereka tidur bersama ." tanya Dimas dengan ingin tahu nya .
"Seperti nya tidak tuan ,nyonya ana tidak tidur bersama dengan tuan Erland , kemungkinan mereka memang belum saat nya ." ucap bi Ani menghela napas nya panjang .
Dimas tidak menjawab pertanyaan bi Ani , dia diam dan sedikit takut, Dimas memikirkan pernikahan mereka yang di permainkan oleh Erland ,bahkan adik nya itu membuat istri nya cemas tinggal di keluarga Anggara.
"Mari tuan ,tuan harus sarapan dulu ." ucap bi yang tengah menyondor kan sendok ke mulut tuan nya .
"Tuan Dimas tidak perlu khawatir akan hal mereka , saya yakin tuan Erland pasti akan melakukan hal nya sebagai suami , saya sudah menghitung tiga hari setelah nya ovulasi nyonya ana ,jika mereka tidur bersama kemungkinan nyonya ana akan hamil."
"Baiklah bi Ani ,kau memang sangat di andalkan , aku ingin mereka cepat-cepat punya anak , jika ana hamil ,kemungkinan Erland akan perduli terhadap ana dan juga anak nya ," ucap Dimas penuh harap .
"Gimana jika mereka sampai saat ini juga tidak melakukan seperti apa yang di lakukan suami istri , ?aku tidak ingin menunggu lama lagi ,setiap hari bahkan setiap detik ini adalah ujian dalam hidup ku ,kita tidak boleh menggagalkan rencana kita untuk mempersatukan mereka."
"Jika pun Anatasya tidak mencintai Erland, tapi dengan ada nya anak ,ana pasti membutuh kan Erland juga ,aku bisa tenang jika suatu saat nanti aku pergi ,ada dua orang yang telah menemani Erland, aku berharap secepatnya itu terjadi ." ucap Dimas lirih .
"Bi Ani aku mohon dengan kerja keras nya ."ucap nya lagi .
__ADS_1
"Tuan Dimas tak perlu khawatir ,itu sudah menjadi tugas saya untuk membatu tuan Dimas untuk mempersatukan mereka, dan saya juga akan membuat makanan bergizi untuk nyonya,agar baik buat perkembangan tubuh nya ." ucap bi Ani yang di angguki Dimas .
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sisi lain ana lupa dengan sarapan untuk dimas ,di saat dia akan melangkah ke dapur bi Ani telah memanggil nya .
"Nyonya anda tidak perlu membuatkan sarapan untuk tuan Dimas, tuan Dimas sudah sarapan ." ucap bi Ani yang tengah memberikan kue kacang ka tangan ana
"A_ahh ,bi Ani maaf ? aku merepotkan bi Ani ." ucap ana yang tak enak hati .
"Tidak apa nyonya ,ini sudah menjadi tugas saya untuk melayani tuan Dimas ." ucap bi Ani tersenyum.
Ana hanya bisa menundukan kepalanya dia benar-benar lupa akan hal Dimas untuk memberikan sarapan nya ,hari ini dia di penuhi dengan pikiran yang telah terjadi semalam itu .
"Mari nyonya , kue kacang nya sudah saya siap kan ,selamat menikmati ."ucap bi Ani tersenyum dan berlalu pergi ke arah dapur .
Di saat ana akan duduk ,dering ponsel yang ada di saku nya membuat pikiran nya buyar ,dia melihat nama panggilan tertara yang ada di ponsel nya .
"Ana maukah kau menemaniku malam ini , aku akan pergi ke klub dan akan menari tiang ."
Ana terkejut dengan suara cempreng Nabila, bagaimana bisa dia mengajak dirinya ke klub untuk menemani nya menari .
"Tunggu Nabila ,?apa yang akan kau lakukan ,kerja paruh apa lagi yang akan kamu jalani itu ,apa uang kerja restoran mu itu tidak cukup." ucap ana dengan menjawab pertanyaan Nabila dengan sedikit pelan .
"Apa yang bisa aku lakukan ana ,hidup ku tak seenak mu ,kau adalah keponakan dari keluarga Pratama ,dan kau juga memiliki kekasih yang kaya raya itu , tidak seperti aku ? hidup ngontrak pun harus di bayar pakai Doku ,bahkan aku juga ingin membantu sedikit-sedikit untuk panti ,yah aku akan cari pekerjaan paruh baya ku di saat aku tidak masuk kuliah ,kebetulan aku bisa menari tiang ."
Ana terkejut dengan perkataan Nabila yang di sebrang telpon itu ,dia mengerti dengan keadaan hidup sahabat nya itu ,dia tidak bisa menjawab apa-apa ,bahkan hidup nya tak seperti yang Nabila bayangkan .
__ADS_1