Terjerat Cinta Dalam Pernikahan

Terjerat Cinta Dalam Pernikahan
Permohonan Sintia .


__ADS_3

"Si jalan tol itu sama saja dengan si brengsek , huh aku ingat waktu pertama aku datang ke sini dia menjawab pertanyaan ku dari pertanyaan satu kali dan dia tidak menjawab ku lagi ,hanya lurus ke depan aja ,persis dengan jalan tol, huh menyebalkan sekali , apa mereka itu punya geng pria tampan dengan sifat mereka masing-masing."


"Siapa yang kau sebut jalan tol itu Anatasya, kenapa kau kelihatan begitu kesal dengan jalan tol itu ."


Ana yang mendengar suara dari arah belakang membuat dirinya diam dan tak berkutik ,dia membalikan badan nya ke arah asal suara.


"E_erland ,"


Erland berjalan menghampiri ana dengan tatapan dingin nya ,ana yang melihat Erland berjalan membuat nya melangkah mundur ke belakang .


"E_erland apa yang akan kau lakukan ,jangan mendekati ku ." ucap ana dengan melangkah ke arah kolam renang .


Erland tidak menghiraukan perkataan ana ,dia terus maju melangkah menghampiri ana .


"Akh tidak ,apa yang akan di lakukan Erland kenapa tatapan nya seperti orang melamun ,gimana jika aku jatuh dari kolam renang yang dalam ini ."


"Erland , jangan men akhh ...."


Ana yang ketakutan membuat kaki nya yang sebelah kanan terlepas ke kolam ,beruntung Erland meraih tangan ana .


"Apa kau bodoh hah ,kenapa kau terus melangkah ke belakang ,kau tidak lihat di belakang sana ada kolam renang ." ucap Erland yang tengah menarik pinggang ana .


"Kau jahat Erland ,kau brengsek ..kau menakuti ku ,kau yang membuat aku melangkah ke belakang ,dan hampir jatuh ke kolam renang itu , a_aku aku takut ke_cebur ke sana ." ucap ana dengan rasa takut nya dan memukul dada bidang Erland .


Erland tertegun dengan apa yang ia lihat dari ekspresi gadis itu ,kenapa gadis itu menangis hanya karna takut dengan kolam renang .


"Kenapa dia menangis ,apa dia tidak bisa berenang ,"


Erland meraih pinggang ana dan langsung memeluk nya untuk menenangkan gadis itu .


"Kau jahat Erland ,brengsek ,lepas kan aku brengsek.." ucap ana yang tengah memukul dada bidang nya Erland..


"Kau bodoh ,kenapa kau melangkah mundur dari ku ,apa aku menakutkan itu ana ,"ucap ana yang tengah memeluk erat ana .


"Lepas kan aku ."


Erland melepaskan pelukan nya ,dia melihat ana pergi dari hadapan nya .


"Sial .? kenapa dia takut dengan ku ,ini belum saat nya aku mengatakan bahwa aku suami mu ."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Ana melangkah ke lantai dua dengan air mata yang masih tersisa di pelupuk mata nya ,di saat dia melangkah kan ke arah kamar nya ,mata nya tertuju ke arah ruangan Dimas , ana memilih pergi ke lantai tiga di mana Dimas berada .


Di saat ana sudah di depan pintu ruang rawat Dimas dia terdiam ,entah dia harus mulai dari mana untuk menemui Dimas , di saat ana akan mengetuk pintu itu , salah satu dokter yang merawat Dimas keluar.


"Ah nyonya ,kenapa anda di sini ." ujar nya


"Dokter ,bisakah aku melihat suami ku ," ucap ana dengan memohon .


"Maaf nyonya ,saya tidak bisa mengijinkan siapapun masuk ,terkecuali dokter."


"Ya ...ya... kau benar , terkecuali dokter ,dan yang lain nya bisa masuk ,hanya aku yang tidak bisa masuk untuk melihat nya ,kenapa begitu aneh ,hanya aku saja yang kalian larang ,untuk apa Dimas menikahi ku ,jika aku tidak pernah merawat nya sekali pun ,"


"Dok ,saya moho....


Derttt ....derttt...


Suara ponsel ana berbunyi tanda ada yang menelpon dirinya , dia langsung pergi dari hadapan dokter itu ,dan membuat dokter yang di tengah pintu menghela nafasnya panjang .


"Hampir saja nyonya .? maaf kan saya nyonya ,tapi suami nyonya bukan lah tuan Dimas ,jika pun tuan Dimas ,pasti nyonya akan bisa masuk ."


Sementara di sisi lain ana sedang menerima telpon dari Sintia .


"iya hallo bi ada apa ,"


"apa yang akan di bicarakan nya itu ,Kenapa dari suaranya begitu antusias sekali .".


"Iya bi .." ucap ana tengah mematikan telpon nya .


Ana melangkah ke bawah di mana dia akan menuju kamar nya ,di saat dia melangkah dia memberhentikan langkah nya ,dia melihat pintu ruangan Dimas ,ana selalu di bikin kecewa di saat dia ingin bertemu dengan nya , kini dia berpikir tentang pembicaraan bibi nya yang tengah nelpon tadi .


"Ada hal apa yang akan di bicara kan keluarga Pratama , jika bukan karna paman aku mana mau pergi ke keluarga Pratama ,tapi bibi Sintia mau bicara apa ."


Kini ana berjalan ke arah kamar nya ,untuk membersihkan muka ,setelah itu memoles kan wajah nya dengan make up yang tipis ,agar tidak terlalu pucat setelah dia menangis , ana melangkah ke bawah untuk pergi ke keluarga Pratama tanpa ijin dari orang rumah .


"Aku gak perlu ijin , toh aku disini juga sama seperti di keluarga Pratama ,hanya seperti orang luar saja ,aku yang sebagai istri dari Dimas ,rasa nya seperti tidak punya suami ,bahkan untuk ijin pun aku tidak bisa ."


Ana yang melangkah kan kaki nya menuju pintu luar menatap lantai tiga di mana Dimas berada ,dia langsung membuka pintu itu untuk pergi , pak Urip yang melihat nyonya nya keluar langsung menghampiri nya untuk mengantark , tapi ana tolak karna dia sudah pesan gojek online .


Tak butuh waktu lama ,ana sampai di depan halaman keluarga Pratama .


Di saat ana masuk dia terkejut melihat meja makan penuh dengan makanan kesukaan nya.

__ADS_1


"Ana kau datang ,bibi memasak semua makanan kesukaan mu ." ucap Sintia dengan tersenyum .


"Ada apa dengan nya , aku yang hanya orang rendah berubah menjadi tamu penting , apa yang akan di lakukan oleh bibi Sintia , dan apa yang nanti akan di bicarakan nya ."


"Ana seminggu lagi Vika ulang tahun ,bibi minta bantuan sama kamu untuk mengundang tuan Erland ,jika bibi yang datang untuk mengundang nya bibi takut menganggu tuan Erland ,bibi dengar dia juga jarang ada di keluarga Anggara ,jika kamu yang bilang itu akan lebih bagus ,kamu kan serumah dengan nya ,kau bisa membantu nya kan ana ." ucap Sintia penuh harap .


Ana mengerutkan kening nya ,dia bertamu dan di panggil untuk datang di keluarga Pratama hanya untuk membahas Erland , kenapa harus dirinya , yang ulang tahun Vika ,kenapa harus menyuruh Nya.


"Kenapa mesti aku ,kalian membuat kan makanan kesukaan ku hanya ada mau nya .,"


"Bibi kau benar ,Erland suka tidak ada di rumah ,bahkan aku jarang ketemu dia ,sekarang bibi menyuruh ku untuk mengundang nya untuk hadir ulang tahun nya Vika , bibi .? kenap mesti aku ,Kenapa tidak kalian aja yang mengundang nya ,dan kenapa gak Vika sendiri yang mengundang Erland ." ucap ana dengan menahan kekesalan nya .


"Ana kau bahkan tahu Vika itu malu-malu jika sudah berhadapan dengan pria , apalagi tuan Erland ,jika kamu membantu nya untuk bilang ,mungkin akan lebih baik ana , kamu tinggal bilang apa susah nya ," ucap Sintia yang masih menekan ana .


"Ana bibi mohon tolong bantu ya , hati Vika lagi tidak baik-baik saja saat ini , Karena di hari ulang tahun nya nanti ,paman mu melarang untuk berpesta terlalu megah ,kau tahu paman mu itu terlalu kuno ," ucap nya sambil memijat pelipisnya


"Huh jika bukan Karna ulang tahun Vika ,paman mu itu tidak akan mengeluarkan uang begitu besar ana ,dan jika pun bibi meminjam uang kepada tuan Erland dia pasti dengan suka rela memberikan nya ,Jika pun boleh kau pasti bisa membatu untuk meminjam kan uang pada nya , banyak yang bilang dia pria kaya ,bahkan kekayaan nya tidak ada setetes pun milik dari keluarga Anggara."


Ana terkejut dengan perkataan orang yang ada di samping nya itu ,bagaimana bisa bibi nya itu tidak tahu malu ,meminta dirinya untuk mengundang dan sekaligus meminjam kan uang ,


"Kenapa mereka seperti itu dan memperlakukan aku seperti pesuruh ,apa Karna aku menikah dengan tuan muda Anggara ,hingga mereka begitu enteng menyuruh ku ."


"Tapi bibi bukan nya lebih baik jika bibi yang mengundang nya secara pribadi ." ucap ana dengan menundukan kepala nya .


"Ana harapan bibi ada di kamu , kau tak perlu khawatir ana ,pinjam uang ke tuan Erland itu hal yang mudah ,bahkan uang yang hanya seratus juta saja adalah uang kecil di mata nya , bibi yakin dia pasti memberikan nya padamu , ana dengan masalah uang kau tak perlu bilang soal itu ke paman mu ."


Ana hanya diam ,kenapa orang yang hidup nya bahkan tidak kekurangan apapun masih ingin mengadakan pesta yang begitu meriah ,hingga mereka berani meminjam uang ke Erland .


"Tapi bi , aku bukan siapa-siapa di kelurga itu ,dan Erland juga dia tidak ada rumah terus ." ucap ana bohong .


"Ana aku tidak sebodoh itu , kau itu kakak ipar nya ,bahkan dia menghormati kakak nya ,pasti dia juga menghormati mu ." ucap Sintia dengan memegang tangan ana penuh harap.


"Yah kau benar ,dia sangat menghormati kakak nya ,tapi tidak dengan ku ,yang memperlakukan ku dengan tidak hormat ."


"Bibi maaf aku tidak bisa ,apalagi meminjam uang aku tak seberani seperti apa yang bibi ucapkan itu ," ucap ana yang menolak permintaan Sintia .


"Ana apa itu cara mu membalas kebaikan keluarga Pratama yang telah membesar kan mu dua puluh tahun lama nya ,kau sadar ana jika bukan aku yang menerima mu di sini Karna paksaan dari paman mu ,kau tidak akan pernah bisa hidup " ucap Sintia dengan menahan amarah nya .


"Bahkan kau hidup di kelurga Pratama masih bisa memiliki ibu dan ayah sambung seperti aku dan paman mu ,bahkan kau hanya menyampai kan sebuah permintaan saja kau tidak bisa ."


"Cukup bi ,aku akan berusaha bilang pada nya , aku permisi ." ucap ana berdiri dan berjalan ke arah luar .

__ADS_1


"Ingat ana kau harus membantu ku demi Vika , " ucap Sintia berteriak.


Ana tidak menghiraukan kan teriakan Sintia ,dia meratapi nasib nya ,kenapa hidup nya harus terjerat dalam pernikahan yang hanya untuk menjadi penanggung keluarga Pratama .


__ADS_2