
Rahma membawa Dista untuk duduk di sofa ,mata dista masih melihat ke arah Dimas yang di periksa oleh dokter ,semua tubuh nya kini merasa tidak nyaman ,rasa di kepalanya pun serasa berat .
Kini dia di temani ,Rahma ,ana ,dan juga Nabila ,sementara para lelaki ke luar untuk menunggu Dimas yang kini masih di periksa dokter ,Abian masuk dengan membawa makan untuk putri dan calon cucu-cucunya,setelah itu Abian Kembali ke luar .
"Sayang !! kamu makan dulu ya ... sedari tadi siang kamu gak makan , anak-anak mu harus makan ,makan dulu ya ." ucap Rahma .
"Iya dis kamu makan ya ... kasian anak-anak mu tidak makan. " ucap ana .
Dista tidak menjawab perkataan mami dan juga ana ,bibirnya sudah keluh dan juga kepalanya serasa begitu sangat berat ,dia hanya geleng kepala tanpa menjawab nya, tapi tiba-tiba dia merasakan rasa sakit di perutnya .
"Aaaaaa sakit mih ,sakit " ucap Dista sedikit berteriak ,yang kini mengusap perutnya .
"Apanya yang sakit Dista !! apa kamu mau melahirkan " ucap nabila
"Itu gak mungkin nabila ,kandungan Dista baru 8 bulan ." ucap Rahma .
"Aaaa ... bila ,mami ,perutku semakin sakit ..." ucap Dista dengan menggenggam tangan Rahma dengan kuat .
"Aku akan panggilkan om Abian kesini untuk membantu Dista ke dokter ,Dista pasti akan melahirkan Tante ." ucap ana melangkah untuk memanggil Abian .
"Aku gak taha.........." ucap Dista terhenti karna merasakan sakit yang sangat amat teramat sakit dan membuat dirinya kini tak sadarkan diri .
"Dista !! bangun , mami mohon Dista kamu bangun " ucap Rahma menepuk pipi dista dengan penuh khawatir.
"Perawat ,tolong panggil dokter ,putri saya tidak sadarkan diri ." teriak Rahma memanggil perawat Dimas .
Perawat itu pun segera keluar untuk mengambil brankas ,ana yang sudah memanggil Abian terkejut saat melihat perawat di dalam tadi kini mengambil brankas dan di bantu oleh perawat lain .
"Dista "
"Mih apa yang terjadi pada Dista ." ucap Abian
"Dista pih ... dia ... dia ..." ucap Rahma terhenti menutup mulutnya dengan mahan tangis .
"Dista merasakan sakit di perutnya om ,karna rasa sakit itu semakin sakit Dista tidak bisa menahannya dan langsung pingsan ." ucap Nabila .
Abian langsung merangkul istrinya yang kini tengah menangis ,Abian hanya bisa berdoa untuk putri dan menantunya ,Ana nampak berkaca-kaca ,dia benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa ,Erland yang melihat istrinya diam berdiri menghampiri nya ,Erland merangkul dan memeluk ana .
"Mas , apa Dista akan baik-baik saja ." ucap ana dengan mata berkaca-kaca .
"Sayang !! Dista baik-baik saja ,aku yakin kakak ipar akan baik-baik saja ,dia adalah wanita dan calon ibu yang kuat ,berhenti menangis !! kau sedari tadi menangis " ucap Erland dengan Kembali memeluk ana .
Pandangan erland melihat ke arah Roy dan juga Bryan ,kedua pria itu tengah melihat ke arah pintu ICU melihat Dimas .
"Roy " panggil Erland .
Roy membalikan tubuhnya dan melihat ke arah Erland, begitu juga Bryan dia langsung melihat ke arah asal suara .
"Ya tuan " ucap Roy .
"Tolong antar istriku pulang ...
"Tapi mas ... aku masih ingin di sini ,aku ingin melihat keadaan dista ." ucap ana .
"Tidak sayang !! kau harus pulang , kasian Kenzie ,seharian ini dia ada di rumah paman Erik ,dia juga pasti membutuhkanmu ,pulang ya ." ucap Erland .
"Tapi Dista mas ...
"Dista ada perawat ,aku gak ingin melihat kamu juga kelelahan , pulang ya .." ucap Erland.
Ana tidak menjawab pertanyaan Erland , dia hanya diam , perkataan suaminya benar ,Kenzie pun membutuhkannya ,dengan begitu ana langsung menganggukkan kepalanya.
"Ya udah aku pulang ,tapi nanti kasih tahu aku jika Dista sadar mas ." ucap ana dengan di angguki Erland .
"Roy " panggil Erland mengisyaratkan untuk mengantar istrinya pulang .
Roy pun menganggukkan kepalanyadan melangkah ke arah dimana Erland berada , ana melihat Nabila yang kini tengah menunduk ,dia juga tahu ,Nabila khawatir akan hal Dista .
"Bil .... kamu ikut pulang ayo bersamaku , kamu harus istirahat ,dengan kondisi mu yang hamil tidak baik untuk bermalam di luar " ucap ana .
"Bryan !! aku akan membawa Nabila pulang !! biar Nabila bermalam di mansion saja .", ucap ana ijin pada Bryan .
"Enggak an .... aku akan pulang ke rumah saja ?! kamu pulanglah ." jawab Nabila .
"Sayang !! pergilah ikut bersama nyonya ana ,di rumah kamu sendiri ?! aku gak mungkin pulang ,karna aku akan menunggu Dimas di sini ."ucap Bryan .
"Tapi mas ...
"Enggak ada tapi-tapi ... ?! aku gak mau kamu di rumah sendiri ,jika kamu ikut dengan nyonya ana , kamu akan ada temannya ," ucap Bryan .
__ADS_1
"Benar Nabila !! kamu ikut aku pulang aja ya ." ucap ana .
Nabila menghela napas nya dan langsung menganggukkan kepalanya ,Nabila melihat Tante Rahma ,wanita paruh baya itu masih menangis di pelukan suaminya ,Nabila dan ana melangkah ke arah Rahma untuk pamit pulang, Rahma hanya bisa mengangguk dan mengijinkannya pulang dengan berterima kasih pada kedua sahabat putrinya itu ,
Di saat Nabila dan ana pergi ,seseorang dokter wanita kini tengah keluar ,dan memerintahkan kedua orang tuanya Dista untuk ikut ke ruangannya .
Abian dan Rahma pun menganggukkan kepalanya dan mengikuti dokter ke ruangannya ,dokter menghela napasnya sebelum mengatakan dengan apa yang terjadi pada nyonya Anggara istri dari pemilik rumah sakit itu .
"Dok !! apa keadaan putri saya baik-baik saja ." ucap Abian .
"Nyonya Dista mengalami preeklamsia ,kemunginan bayi yang ada di kandungannya harus segera di tolong ,karna kondisi nyonya begitu lemah .....
"Maksud dokter apa ?! apa yang terjadi pada putri saya dok ." ucap Rahma memotong ucapan dokter .
"Mih !! tenang dulu ,biar dokter selesai bicara dulu ." ucap Abian .
"Nyonya Dista mengalami preeklamsia begitu berat ,kondisi yang sekarang begitu memperhatikan untuk kedua bayi yang ada di kandungannya ,maka yang di alami nyonya Dista untuk lahir secara normal kami para dokter tidak bisa berbuat lebih ,hanya ada satu cara untuk bisa menyelamatkan bayi itu ,kemungkinan nyonya Dista akan melahirkan prematur."
"Beberapa dari yang lainnya nyonya Dista mengalami preeklamsia berbagai ,gangguan pada sistem saraf pusat mengalami sakit kepala ,pandangan nya kabur ,dan gangguan Suasana hati ,maka dari itu janin pun tidak bisa tumbuh secara optimal !? jadi kami sebagai para dokter hanya ada satu pilihan ,yaitu untuk membatu nyonya ana melahirkan secara sesar ." ungkap dokter menjelaskan .
Abian dan Rahma terkejut dengan apa yang di jelaskan dokter ,Rahma semakin memendungi air matanya lagi ,Abian tidak tahu harus menjawab apa ,dengan kondisi anak dan menantunya kini harus terbaring lemah .
"Saya harus menunggu menantu saya sadar dulu dok ?! semua itu harus terlebih ijin dulu pada ayah nya cucu-cucu saya ." ucap Abian .
Dokter pun menganggukkan kepalanya ,karna dia pun sebenarnya akan menjelaskan itu pada suaminya pasien ,di karnakan Dimas belum sadar ,dokter hanya menjelaskan nya pada kedua orang tua Dista .
.
.
.
Di ruangan lain .
Erland dan Bryan kini berada di ruang Dimas ,Bryan bersandar di sofa ,sedangkan Erland kini tengah menatap Dimas dengan tatapan sendu , keadaan Dista begitu memperhatikan, yang dimana kini wanita itupun butuh Dimas ,tapi dengan kondisi Dimas yang belum sadar ,terpaksa harus segera memberikan tindakan cepat untuk dista .
Di saat Erland akan duduk , dia melihat kening dimas sedikit berkerut ,Erland yang melihat itu pun dia urungkan untuk duduk , dia masih melihat Dimas yang masih terpejam dengan sedikit menggerakkan keningnya ..
"Euughhhh ." Dimas membuka matanya .
"Kak ... kau sadar ." ucap Erland yang dimana membuat Bryan langsung berdiri dari duduknya karna mendengar ucapan Erland .
Dimas melihat ke sekeliling ruangan itu , dia mengingat kejadian dimana dirinya kecelakaan ,hal itu membuat dirinya langsung terpejam karna merasakan sakit di kepalanya .
"Erland dimana istriku ." ucap Dimas melihat ruangan itu , bahkan di ruangan itu cuman hanya Bryan dan Erland .
"Kakak ipar ... dia ______
"Dimana dia Erland !! aku mendengar istriku menangis !! aku harus pulang , aku sudah janji untuk membelikan keripik nangka untuknya ..." ucap Dimas yang kini akan bangun dari tidurnya .
"Diamlah !! kau jangan banyak bergerak dim, kau baru sadar , " tahan Bryan.
"Erland !! cepat panggil dokter ." ucap Bryan kembali .
"Tidak !! Erland ada apa dengan mu , kenapa kau hanya diam di saat aku menanyakan dista ." ucap Dimas .
"Dia ...
"Erland " cegah Bryan .
"Dia harus tahu Bryan !! kondisi Dista pun membutuhkan kakakku ." ucap Erland .
Bryan hanya menghela napasnya berat ,yang di katakan Erland benar ,Dista pun membutuhkan Dimas ,mau bagaimana pun ini demi anak-anak nya Dimas ,Erland dan Bryan pun menceritakan semuanya tentang kejadian yang di alami Dista ,Dimas yang mendengarkan itu langsung segera mencabut selang yang ada di tangannya ,Erland dan Bryan yang melihat itu mencegah Dimas .
"Lepaskan aku !! aku harus menemui istriku Erland , aku ingin melihat keadaan nya ." ucap Dimas menepis tangan Erland dan Bryan ,bahkan dia tidak perduli dengan tubuhnya yang serasa begitu sakit .
"Kak , jangan lakukan itu ?! dengan caramu seperti ini ...." ucap Erlang terhenti di Karna kan Dimas menatap Erland tajam .
"Aku tidak perduli , istriku pasti sedang menungguku ," ucap Dimas yang kini berusaha untuk turun .
Dimas mengingat ,dimana dirinya meninggalkan istrinya dalam satu Minggu ,bahkan Dista tengah menunggunya di rumah , tapi apa yang dia lihat dengan kondisinya sekarang ,dia malah menjadi pria lemah , Dimas turun dengan menahan rasa sakit di kakinya , Erland dan Bryan menahan Dimas agar tidak berjalan , dia memanggil perawat untuk menyiapkan kursi roda untuk dimas saat ini .
"Tidak !! aku tidak butuh itu !! Erland di mana ruang istriku ,aku ingin menemuinya " ucap Dimas kini tengah berjalan dengan menahan rasa sakit di kakinya .
"Kak jangan keras kepala ,dengan kaki mu yang seperti ini akan...
"Aku tidak perduli ... aku bisa menahannya Erland , dimana ruangan istriku ..." ucap Dimas dengan melihat ke arah Erland dengan tatapan tajam nya .
Bryan dan Erland hanya menghela napasnya berat ,dia melihat Dimas berjalan dengan menahan rasa sakit di kakinya ,Erland tidak percaya kakak nya sekarang benar-benar keras kepala semenjak di permainan kan cintanya oleh Sahara.
__ADS_1
Bryan mengikuti Dimas dengan cepat ,dia langsung menahan Dimas kembali ,Bryan tidak perduli dengan tatapan sahabatnya itu .
"Tenanglah Dimas ,aku mengerti dengan perasaan mu ,tapi dengan begini kau tidak akan baik ,suster sebentar lagi akan membawa kursi roda untukmu ." ucap Bryan menahan Dimas .
"Kau bilang tenang !! bagaimana bisa aku tenang ,?! Bryan kau mempunyai istri ,bagaimana jika kau di posisi ku mendengar kabar berita buruk tentang wanita yang kamu sayangi ?! apa kau akan tetap tenang seperti yang kau katakan itu hah ." Teriak Dimas dengan penuh amarah .
Di saat Dimas mendapatkan penjelasan dari Erland dan Bryan tentang kondisi Dista ,seketika jantung nya serasa berhenti setelah mendengar Dista kini tengah tidak baik-baik saja .
Dimas hidupnya serasa di permainkan ,bagaimana tidak kemarin dia mengalami kecelakaan hebat pada dirinya dan bahkan itu hampir mati ,dan kini di saat dia sadar ,Dimas harus mendapatkan kabar buruk tentang istrinya yang kini juga berada di rumah sakit ,kenyataan pahit yang dimana membuat hati Dimas terasa teriris ,dimana istrinya yang kini tengah menahan sakit tanpa di dampingi olehnya .
Bryan tidak menjawab ,dia lebih memilih diam dari pada harus menambah masalah ,sedangkan Erland kini dia mengahmpiri kedua pria itu dengan membawa kursi roda untuk dimas.
Dengan cepat Bryan dan Erland membatu Dimas pergi ke ruang Dista dengan memakai kursi roda ke arah lift untuk pergi ke ruangan Dista di rawat , sesampainya di sana ketiga pria itu melihat Abian yang kini tengah menunggu di ruang tunggu .
Dimas terburu-buru melajukan kursi rodanya sendiri untuk ke ruangan sang istri ,dia tidak perduli dengan tatapan orang-orang yang ada di sana ,Abian yang melihat Dimas sudah sadar membuatnya terkejut sekaligus senang ,awalnya Abian akan menahan Dimas namun Bryan menahannya untuk tidak mengganggu Dimas ,Di saat Dimas sampai depan pintu ruang rawat Dista ,dokter keluar dari ruangan itu .
"Bagaimana istri saya dok ?! gimana kondisinya ." tanya Dimas .
Dokter tersebut hanya menghela napasnya panjang ,Dimas yang melihat ekspresi dokter sudah mengerti ,pasti terjadi sesuatu pada istrinya itu begitu parah , kini dia masuk tanpa menunggu jawaban dari dokter tersebut .
Pintu ruangan itu pun Dimas buka ,Dimas melajukan kursi rodanya dengan wajah yang sulit di artikan ,dia mengahmpiri tempat tidur pasien yang di tiduri oleh istrinya ,matanya tak terbendung lagi saat melihat wajah istrinya begitu pias.
"Sayang bangunlah ?! aku disini " ucap Dimas dengan menggenggam tangan Dista .
Dista yang tertidur samar-samar mendengar suara suaminya yang dia rindukan ,Dista membuka matanya perlahan dan menoleh ke arah Dimas yang kini tengah Menggenggam tangannya , dista begitu senang saat suaminya kini sudah sadar ,Dista berusaha memberikan senyuman manisnya di hadapan Dimas ,dia tidak ingin mengeluarkan air mata di depan suaminya itu .
"Kak .. kamu akhirnya bangun " ucap Dista dengan menahan tangis nya .
"Maafkan aku Dista !! maff karna kamu sudah menunggu ku terlalu lama ,?! aku janji ,aku tidak akan meninggalkan mu lagi ." ucap Dimas sambil mencium tangan Dista .
"Gapapa kak !! aku mengerti , aku senang !! akhirnya kamu sadar ,dan aku begitu sangat menunggumu dan merindukan mu kak ,?! kakak tidak perlu khawatir ,aku tidak apa-apa kak ,aku hanya kecapean aja ." ucap Dista sambil tersenyum .
Dimas tahu ,istrinya itu tengah berbohong ,tidak mungkin istrinya baik-baik saja ,bahkan wajah Dista begitu sangat pucat, Dimas memberikan senyuman pada sang istri .
"Kamu tunggu di sini sebentar ya !! aku ada urusan dulu sama Bryan " ucap Dimas bohong ,yang padahal dia akan menemui dokter .
"Jangan lama-lama kak !! aku masih merindukan mu ." ucap Dista sambil memegang tangan suaminya .
"Iya .. hanya sebentar kok " jawab Dimas berbalik memutarkan kursi roda nya.
Dimas keluar dengan perasaan yang begitu berkecamuk ,dia akan bertanya mengenai hal kondisi Dista yang sebenarnya .. meski dia tahu dari Erland dan Bryan ,tapi dia ingin tahu jelas langsung dari dokter .
Sesampainya di ruang dokter ,Dimas langsung berkata-kata dengan wajah nya yang di penuhi dengan rasa tak sabar dan penuh dengan kekhwatiran ,dokter pun langsung menjelaskan pada tuan muda yang kini tengah rapuh dan tak berdaya itu .
Bagaikan di sambar petir ,Dimas langsung diam dengan mata berkaca-kaca ,dia benar-benar merasa sakit di hatinya , kondisi Dista saat ini karna nya ,karna sudah menangisi nya hingga membuat istrinya frustasi dan mengakibatkan terjadi yang di alami oleh Dista sekarang .
"Apa tidak ada cara lain ,selain oprasi "tanya Dimas pada dokter yang menangani Dista .
"Tidak ada tuan , hanya itu satu-satunya ?! tapi ....... " ucap dokter memberhentikan ucapannya .
"Tapi apa ." jawab Dimas penasaran .
"Oprasi ini akan membuat salah satu dari mereka akan kehilangan nyawanya tuan ?! mengingat usia kandungan nyonya Dista baru 8 bulan dan juga kondisi nyonya Dista begitu sangat lemah " ucap dokter .
Dokter itu seketika gugup saat melihat ekspresi Dimas , dia kini tengah berhadapan dengan pemilik rumah sakit itu dengan menatap nya begitu menakutkan ,Dimas menggepalkan tangannya dengan menatap dokter tersebut, bahkan setelah mendengar perkataan dokter itu membuat dimas menjadi marah dan murka .
" Beraninya kau mengatakan itu !! memangnya kau siapa hah ,beraninya menentukan hidup dan mati istri dan anakku ?! kau bukan tuhan " ucap Dimas murka dengan berteriak .
"Maafkan saya tuan !! saya salah , saya dan dokter lain akan berusaha keras agar istri dan anak anda terselamatkan " ucap dokter itu dengan tubuh gemetar .
Dimas memincingkan matanya melihat dokter itu dengan penuh amarah .
"Jika kau membuat kesalahan fatal , kau akan tahu akibatnya ." ucap Dimas menatap tajam pada dokter itu dengan memutar kursi roda nya dan pergi meninggalkan ruangan dokter itu .
Dimas melajukan kursi rodanya dengan kedua tangannya , rasa sakit di tubuhnya dia hiraukan ,yang saat ini dia pikirkan adalah istrinya .
Sungguh Dimas merasa Tuhan tidak berpihak padanya , kenapa saat dirinya merasakan kebahagiaan yang nyata ,tuhan malah membuatnya hidup kembali penuh duka seperti yang dia alami beberapa bulan lalu ,Dimas merasa sakit setelah mendengar perkataan dokter , istri yang dia cintai dan kedua buah hatinya yang belum lahir !? siapa yang harus dia pilih ,ibunya atau anaknya .
Dista adalah wanita yang dia cintai ,dan buah hatinya adalah lambang cinta mereka, Dimas tidak mungkin memilih buah hatinya ,dan tidak mungkin membiarkan buah hatinya hidup tanpa seorang ibu .
"Aku tidak akan membiarkan semua itu terjadi ,anakku dan istriku ,mereka adalah harta berharga ku ,berlian ku ,tidak perduli berapa uang yang akan aku habiskan , istri dan anak-anak ku lebih berharga di bandingkan dengan uang ,dan mereka lebih mahal dari apapun di dunia ini ." ucap Dimas sambil melajukan rodanya ke arah ruangan Dista .
Sebelum Dimas memasuki ruang VIP dimana Dista di rawat ,Dimas menghapus air matanya terlebih dahulu ,dia tidak mungkin memperlihatkan air mata di depan istrinya , Dimas tidak ingin membuat istrinya bertambah sedih .
.
.
#.
__ADS_1