
"Aku harus ke rumah sakit sekarang untuk melihat kondisi anak baru panti itu dan juga Bu Ratih .", gumam ana ,
Ana berjalan ke ruang bawah , untuk meminta ijin ke Bi Ani , ana tidak menemukan bi Ani ,melainkan bertemu dengan Erland yang duduk di ruang keluarga.
"Siapa yang kau cari ,jika kau ingin pergi tak perlu meminta ijin ke Bi Ani, jika kau mau pergi ke luar ijin lah padaku ." ucap Erland tanpa melihat ke arah ana.
Ana terlonjak kaget ,kenapa pria itu tahu bahwa dia akan ke luar , padahal pria itu tidak tahu bahwa dirinya ada di belakang nya .
"Apa-apaan si brengsek ini ,apa dia punya mata di atas kepala belakang nya, kenapa dia tahu aku berada di belakang nya ,padahal aku turun tidak bersuara jalan kaki, dan apa tadi dia bilang ? ijin padanya , jika aku ijin padamu ,bisa berbelit-belit waktu ku bila harus ijin kepada pria brengsek tembok seperti mu .,huhhh ." batin ana
Ana tidak menghiraukan ucapan Erland ,lebih baik dia pergi tanpa harus ijin, apalagi ijin pada pria brengsek seperti Erland .
Erland melihat ana di mana gadis itu berjalan tanpa ijin kepada nya ,pria itu menggepal kan tangan nya .
"Hallo , ikuti gadis itu kemana pun dia pergi ." ucap Erland dengan nada dingin nya .
Erland menatap langit-langit yang ada di ruangan itu , dia berpikir kenapa gadis itu bersikap manis di depan nya di saat dia berperan sebagai Dimas, tapi di saat berhadapan dengan dirinya ,wanita itu berani berbicara terhadap nya , dalam pikirannya Erland mengakui gadis itu memang menerima suami nya yang tak berdaya seperti hal nya Dimas ,jika itu yang menikah Dimas ,apa sang kakak akan merima gadis itu ,dan melupakan Sahara yang pergi tanpa alasan yang tidak masuk akal .
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ana sedang berjalan di lorong rumah sakit untuk mencari Aqila ,dia masuk di mana anak panti baru itu di rawat , ana melihat brankas di ruang itu sudah kosong tidak ada orang, melain kan hanya ada suster yang merapihkan peralatan medis di sana .
"Permisi suster , pasien di sini kemana ya ,apa di pindah kan ke ruang lain ." ucap ana
"Maaf mbak , pasien yang di operasi itu sudah pulang dua hari yang lalu ."
__ADS_1
"Sudah pulang , bukan kah sebelum urus administrasi tidak boleh di perbolehkan kan pulang ."
Suster itu hanya tersenyum dengan apa yang di katakan ana ." iya mba, tapi biaya operasi untuk pasien sudah di lunasi ,mari mba saya permisi.
Ana diam mematung siapa yang melunasi biaya operasi itu , kini dia berjalan untuk keluar dan akan pergi ke panti asuhan dan bertanya pada Bu Ratih, sebelum ke panti ana mampir ke toko buah dan mainan untuk membeli hadiah buat anak-anak panti .
Tidak butuh waktu lama , ana sampai di panti
"Ana ," ucap seseorang yang ada di belakang ana .
"Bu Ratih ,ibu aku merindukan ibu, gimana kabar ibu ."
"Masuklah dulu ,apa dirimu sudah makan, jika belum makan lah , ibu masak banyak hari ini ."
"Tumben ibu masak banyak , apa ada acara Bu , gak biasa nya ibu masak banyak." ucap ana dengan bergelayut di tangan nya Bu ratih
"Ibu , tak perlu repot-repot seperti itu untukku , aku bisa ambil sendiri ."
"Sudah tak apa , sudah terlanjur ," ucap bu Ratih dengan tersenyum.
Di saat ana sedang makan ana mengingat anak baru yang ada di panti itu , dia berniat akan bertanya pada Bu Ratih ,tapi di urungkan karna dirinya sedang makan ,setelah selesai makan ana akan bertanya soal biaya rumah sakit itu.
"Oh iya Bu, aku tadi bawa buah yang sudah di bawa oleh Aqila ke dapur ,buah itu untuk anak-anak ,dan ada buah untuk ibu juga ," ucap ana yang di angguki bu Ratih
"Bu tadi aku ke rumah sakit untuk melihat ibu dan juga perkembangan anak baru itu ,di saat aku ke sana kalian sudah tidak ada ,dan aku ingin tahu siapa yang melunasi biaya operasi Bu ."
__ADS_1
Bu Ratih tercengang dengan apa yang di katakan ana , Bu Ratih ingat dengan janji orang yang melunasi biaya operasi itu , jika ana mengatakan nya ,dia tidak boleh memberi tahu nama nya , Bu Ratih tidak tahu apa hubungan pria itu dan juga ana .
"Iya ,waktu kemarin ada yang melunasi biayanya, ibu tidak tahu orang itu datang nya dari mana ,dan tahu dari mana , dia tiba-tiba datang mencari kami ,dan dia memerintah kan dokter untuk segera melakukan operasi untuk Aiden, pria itu tinggi dan juga tampan ,tapi aura nya dia tidak banyak bicara dan sorot mata nya memancar kan kehangatan untuk membatu biaya operasi ,dia orang nya dingin , kau tahu ana ,Aqila yang melihat pria itu melongo Karna kebaikan nya ,melain kan itu ,tapi Aqila juga suka dengan ketampanan Nya pria itu , ana dia pria yang sangat baik."
Ana mendengar kan perkataan Bu Ratih dengan rinci .
Ana berpikir siapa yang melunasi biaya operasi itu , siapapun itu semoga dia menerima kebaikan lagi dari orang lain.
Tapi ana berpikir dengan pisik pria yang Bu Ratih katakan itu ,tinggi ,tampan tidak banyak bicara ,dan juga dingin , dia berpikir itu seperti Erland.
"Jika itu dia ,tidak mungkin dia memberikan black card itu padaku , tapi tidak mungkin dia kan ,siapa pria misterius itu ,yang membiayai operasi,? tidak-tidak dia itu bukan erland...ah sudah lah kenapa jadi ke dia sih ,dan kenapa jantung ku berdegup gini di saat mengingat pria brengsek itu , tidak-tidak." batin ana yang menggelengkan kepala nya .
"Ana kenapa ,apa kepala mu pusing ," ucap bu Ratih dengan cemas.
"Ah tidak kok Bu , oh iya Bu aku pamit pulang ya ,aku ada kerjaan kuliah , tapi sebelum aku pamit aku ingin melihat anak-anak dulu ." ucap ana yang di angguki bu Ratih
Bu Ratih tidak tahu ,bahwa ana sudah menikah , ana tidak menutupi itu dari Bu Ratih , kini ana berjalan di mana anak-anak itu berada .
"Kak ana kau kembali , kami merindukan mu ."
"Haha ,iya aku juga merindukan kalian ," ucap ana , tapi mata nya tertuju pada anak kecil yang duduk di kursi roda, ana menghampiri Aiden yang tersenyum ke arah nya .
"Hai kak " ucap Aiden .
Ana tercengang dengan senyuman anak manis di depan nya ." Hai Aiden ,gimana ke adaan mu ,apa kau sekarang lebih baik ." ucap ana yang di angguki Aiden.
__ADS_1
Ana bersyukur di saat Bu Ratih menolong anak panti yang terkena penyakit jantung itu, dan dia juga berterima kasih di dalam hati kepada orang yang sudah membiayai operasi nya , ana memeluk Aiden dengan lembut ,dan sambil menepuk-nepuk punggung nya Aiden.