
Ice krim yang di tangan ana meleleh Karna tengah melihat ketiga manusia di bawah lantai satu itu ,dia melihat ice krim yang jatuh di lantai membuat nya tidak memperdulikan ice krim tersebut ,ana melihat Nabila kembali lagi keluar membuat nya heran dan kini dia melangkah ke arah lift untuk mengejar Nabila .
Sementara Nabila ,kini tengah melangkah untuk kembali lagi keluar dan pergi ,pak Jarwo yang melihat Nabila berlari membuat nya heran dan memanggil nya .
"Nona ?! ,kenapa anda berlari ,apa anda sudah bertemu dengan nyonya ana ." ucap pak Jarwo memberhentikan langkah nya .
Nabila berhenti sejenak dan melihat paper bag yang ada di tangan nya dan berpikir .
"Apa aku titipkan pada penjaga ini yah ,"
"Pak ...?! saya minta tolong ya , .." ucap Nabila memberikan papar bag .
"Apa ini non ." ucap pak Jarwo .
"Itu punya tuan Bryan nanti kasih sama dia ya pak ,maaf merepotkan " ucap Nabila langsung pergi dari mansion itu dan langsung naik taxi yang kebetulan lewat .
"Kau bodoh Nabila , kenapa mesti lari sih ... kau kan cuma mau bertemu ana untuk memberikan switer pria itu , bodoh ... bodoh..?! tapi siapa wanita itu , apa dia pacar nya ,akhh Nabila apa yang terjadi dengan mu ,lupakan dan kejadian tadi anggap saja tidak melihat apa-apa." gumam Nabila dengan mengetuk-ngetuk kepala nya.
Nabila membuang napas nya panjang ,dia tidak boleh berlarut mikirin hal yang terjadi dengan hati nya Karna pria itu .
Sementara di sisi lain ana tengah berlari di ruang tamu itu untuk mengejar Nabila ,Sahara yang melihat ana berlari memberhentikan langkah ana.
"Anatasya tunggu ." panggil Sahara memberhentikan langkah ana .
"Ada apa Sahara , maaf jika ada yang ingin kau katakan nanti saja ." ucap ana yang kini tengah melanjutkan langkah nya
"Siapa gadis itu , ada hubungan apa dia dengan bryan."ucap Sahara yang memberhentikan langkah ana .
Ana berhenti dari langkah nya dan berbalik melihat Sahara ,dia tidak mengerti dengan wanita yang tak jauh darinya itu , ini untuk kedua kalinya ana mendengar perkataan wanita itu di setiap wanita yang dekat dengan Bryan , setelah ana tahu dari suami nya, dia rasa ingin memberi perhitungan pada wanita yang lebih dewasa itu dengan nya .
"Sahara ,?! sebelum nya aku minta maaf dan lancang serta ikut campur dalam hubungan kisah cintamu ,?! di dalam hidup mu Dimas di anggap apa ,bukankah kau itu adalah kekasih kakak ipar ku ,kenapa kau tidak tahu malu nya memeluk pria lain di rumah kekasih mu sendiri ,?! Sahara apa kau tidak menghargai perasaan kakak ipar ku , ?! apa kau tidak tahu malu mengejar pria yang tidak mencintai mu ,Sahara kau terlalu terobsesi dengan cinta nya Bryan ."
Sahara terkejut dengan apa yang di katakan ana ,apa maksud dari perkataan wanita hamil itu, dan berani mengintai nya dengan perkataan yang di lontarkan nya ,Sahara kini menghampiri ana dengan cepat ,dan tangan nya kini terangkat untuk menampar ana , tapi ana langsung menahan tangan Sahara .
"Anatasya ,berani nya kau ..
"Sebelum bertindak kau seharus nya berpikir terlebih dahulu ,dengan cara apapun yang kau lakukan dengan cara yang tidak baik itu tidak akan bisa kau dapatkan ,?! Sahara apa kau tidak pernah berpikir mengenai perasaan Dimas padamu ,?! sekarang kau pikirkan gimana perasaan mu pada Bryan ,kau melakukan cara apapun demi mendapatkan nya ,"
"Berpikirlah ,?! dimana kau mencintai pria lain dan berjuang mendapatkan nya, dan di situ lah dimas halnya seperti mu ,?! tapi sungguh di sayang kan kisah cinta Dimas sama sekali tidak di hargai oleh wanita seperti mu wanita yang di cintai oleh Dimas ,"ucap ana yang kini menahan tangan Sahara .
"Ana berani sekali kau mencera...
"Ya aku berani ,?! awal nya aku tidak ingin mencampuri urusan kisah cinta kalian ,tapi di saat aku melihat mu dengan tidak tahu malu nya kau memeluk pria lain di rumah kekasih mu sendiri bahkan di situlah aku berani menceramahi mu ,Sahara apa kau tidak pernah berpikir dimana kau mencintai Bryan tapi kau tidak di anggap dan tak di hargai oleh nya ,apa kau tidak merasakan sakit hati di abaikan oleh pria yang kau cintai , jika Dimas mengetahui dengan cintamu yang sesungguh nya ,maka di situlah dia merasa cinta nya tidak di hargai oleh wanita yang dia cintai nya ,seperti kau mencintai Bryan dan tidak di hargai oleh pria itu ,Dimas itu sama seperti mu mencintai seseorang tapi tak di hargai , hanya saja kakak ipar ku belum menyadari kisah cinta yang sesungguh nya " ucap ana melepaskan tangan Sahara dan berlalu pergi , di saat dia melangkah dia berhenti dan membalikan tubuh nya .
"Ingat !! sebusuk busuk nya bangkai yang tersimpan , itu tidak akan bertahan lama ,suatu saat nanti bangkai itu akan tercium ." ucap ana kembali dan berlalu pergi
Ana pergi meninggalkan Sahara ,ana mengetahui kisah kasih cinta mereka dari suami nya sendiri ,ana sebenarnya tidak ingin berbaur mengenai kisah cinta mereka ,hanya saja dia merasa kesal saat Sahara memeluk pria lain di mansion Anggara hingga membuat nya berani melawan sahara hanya untuk membela kebenaran untuk kakak ipar nya itu .
Sahara menggepalkan tangan nya ,saat ana mengatai nya dengan kata-kata yang menusuk hati .
"Dia ... dia menceritakan nya dengan jelas ,?! tidak di sangka wanita yang aku anggap polos itu ternyata berani ,?! Erland , yah. . dia yang sudah mengajari wanita so polos itu ."
Sahara berbalik dan melihat ke lantai atas di mana ana tengah melangkah ke arah kamar nya .
"Anatasya ,?! lihat saja nanti .?! cih ... dengan perkataan mu itu mencoba untuk menggertak ku ,"
Kini Sahara melangkah dengan perasan dongkal ,dia berjalan ke kamar nya dengan di penuhi amarah ,perkataan ana membuat nya terngiang-ngiang di kepalanya .
Seseorang yang di balik dinding tengah tersenyum melihat pertengkaran wanita yang tengah pergi meninggalkan ruang tamu itu , wanita itu berdiri dengan tersenyum menyeringai dan melangkah pergi untuk melihat monitor yang ada di kamar nya dan melihat kembali lagi dengan pertunjukan wanita yang tadi tengah berselisih itu .
*****
Sementara di ruangan lain ,Roy tengah di kaget kan Bryan yang kini tengah keluar dari kamar mandi dengan menendang tempat tong sampah kecil hingga terpental ke arah rak buku , Bryan berjalan dan merogoh saku celana dan mengahmpiri Roy yang kini tengah melihat nya .
"Berikan pada tuan mu ." ucap Bryan berlalu pergi setelah memberikan ponsel Erland kepada Roy .
Roy mengerutkan kening nya saat pria itu memberikan ponsel nya ,Bryan berhenti saat dia tengah membuka pintu keluar .
"Berikan padanya ,aku membawa nya Karna ponsel nya ketinggalan di kantor ." ucap nya kembali melangkah berjalan .
Bryan melangkah ke luar tanpa melihat ruangan luas mansion itu ,dia kini merasa ruangan itu di penuhi aura gelap yang mungkin dengan amarah nya sendiri , Bryan menyalakan motornya dan pergi tanpa bertemu dengan omah ataupun Erland , di saat dia sampai pintu gerbang pak Jarwo tengah memberhentikan dirinya.
"Tuan Bryan sebentar ." ucap pak Jarwo yang kini mengambil paper bag .
Pak Jarwo memberikan paper bag itu pada Bryan ,Bryan mengerutkan kening nya setelah pak Jarwo memberikan papar bag itu .
"Apa ini ." ucap nya .
"Itu dari teman nyonya ana ,saya kurang tahu ,?! dia bilang untuk memberikan nya pada anda .." ucap pak Jarwo yang di angguki Bryan .
Bryan hanya menerima paper bag itu dan berlalu pergi tanpa menjawab pak Jarwo ,Bryan mengingat gadis itu di saat tadi berdiri di ambang pintu masuk mansion ,dirinya tidak tahu bahwa gadis itu membawa paper bag berisi switer nya sendiri .
Sesampai nya di apartemen Bryan melangkah ke arah dapur untuk membuang switer yang tadi di sentuh Sahara ,dengan tangan yang memukul dinding yang berhadapan dengan nya ,dia tidak perduli dengan kondisi tangan nya saat ini ,kini dia melangkah ke sofa dimana tadi dia menaruh paper bag tersebut , Bryan melihat paper bag berwarna Lilac itu membuka nya ,di saat membuka nya dia terkejut saat tahu isi paper bag tersebut .
"Switer " gumam Bryan yang kini tengah melihat nya .
Bryan mengingat switer yang ada di tangan nya itu yang pernah dia kasih ke Nabila hanya untuk menutupi paha nya ,wangi detergen lavender dari switer itu membuat Bryan menyukai wangi nya itu ,Karna pria itu memang menyukai wangi lavender , Bryan menaruh switer itu ke lemari nya dan berlalu berjalan ke arah kaca besar dengan melihat keramaian di bawah.
*********************
Setelah menempuh penerbangan dengan 24 jam kedua pria tampan itu kini tengah berada di bandara Soekarno-Hatta yang kini tengah menunggu yang menjemput mereka berdua ,Dimas berjalan ke arah Stevan dan menarik tangan nya untuk melihat jam , jam sudah menunjukan pukul 09.00 pagi ,
"Stev ,siapa yang akan jemput ." ucap Dimas tanpa melihat ke arah Steven .
"Supir keluarga ku ,?! apa kau akan langsung ke mansion .." ucap Steven yang kini duduk di koper .
Dimas hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan sahabat nya itu ,dia tidak mungkin langsung ke mansion , tapi dia akan pergi ke salah satu tempat keluarga Anggara tanpa harus ke mansion terlebih dahulu , di saat Steven akan bicara lagi supir keluarga Zhou kini tengah memanggil tuan muda nya itu .
__ADS_1
"Tuan stev.." ucap pria paruh baya yang tak lain adalah supir .
Steven langsung berdiri dan melihat ke arah supir itu ,dan kini pandangan nya melihat ke arah Dimas dengan menganggukkan kepala nya , kini kedua nya masuk mobil dan pergi meninggalkan bandara itu , Steven melihat ke arah sahabat nya itu hanya menutup mata nya ,tujuan yang akan di tuju oleh sahabat nya itu gak tau kemana.
"Pak ... jalan arah selatan ya.," ucap Dimas tanpa membuka mata nya.
"Baik tuan ." ucap sang supir .
Steven yang baru saja menyandarkan punggung langsung terduduk kembali melihat ke arah sahabat nya itu .
"Dimas ,?! apa maksud mu ke arah selatan ." ucap Steven yang melihat sahabat nya itu .
"Ikuti saja stev apa kataku ,kau jangan banyak bicara ." ucap Dimas yang masih menutupi wajah nya itu dengan topi .
Steven hanya menghela napas saja tanpa menjawab pria yang ada di samping nya itu , satu jam di perjalanan mobil yang membawa mereka tengah sampai di salah satu Fila milik keluarga Anggara , kini mereka pun turun dari mobil dan membawa koper yang Steven bawa ,seseorang pria paruh baya yang menjaga Fila terkejut saat melihat tuan muda Anggara datang dengan kondisi dimana dia Kemabli dengan seperti semula ,walau sedikit berbeda karna hasil operasi .
"Tuan muda pertama ." ucap nya dengan membungkukkan kepala nya.
Dimas hanya tersenyum melihat pria paruh baya itu ,kini dirinya melangkah masuk dengan di ikuti Steven ,Steven melihat punggung sahabat nya dengan tidak mengerti .
"Ada apa dengan Dimas ,?! dia sebelum nya tidak seperti ini. "
"Stev ,Jika kau mau pulang ,pulang lah ?! sudah dua bulan penuh kau menemaniku di Amerika ,dan Tante Rengganis pasti sudah menunggu mu , aku berencana kembali ke mansion nanti sore "ucap Dimas yang kini tengah melangkah menuangkan air minum .
"Lalu kau pula......
"Mobil di Fila yang akan aku pakai ," ucap Dimas dingin .
"Tidak dim ,?! aku akan menemani mu sampai mansion ." ucap stev yang kini membaringkan tubuh nya di atas sofa.
Dimas hanya menghela napas nya saat melihat sahabat nya tengah berbaring itu,kini dia pun melangkah kan kaki nya ke arah kamar , sesampai nya di kamar Dimas melangkah ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri, di kamar mandi dia melihat dirinya di depan cermin ,Dimas tersenyum kecut saat melihat dirinya di depan cermin.
"Aku yang dulu !! kini telah terganti dan ......... Sahara sebentar lagi aku akan bermain-main dengan mu mengikuti drama mu ." gumam Dimas dengan mencengkram handuk yang dia pegang .
"Siapapun itu bisa saja berubah jika tidak di hargai sama sekali ,?! Sahara sekarang kau nikmati kesenangan mu dulu ,tapi tidak dengan nanti "
Dimas menyalakan air shower nya dengan perasaan dongkal dengan menundukan kepala nya mengingat kenangan nya bersama Sahara dimana wanita itu bermanja dan merajuk di saat menginginkan sesuatu yang dimana dimas pun menuruti kemauan wanita itu .
Dimas mematikan air shower nya dia memejamkan matanya dengan menghela napas berat ,kini air shower pun di nyalakan kembali untuk melanjutkan ritual mandi nya ,selang beberapa menit ritual mandi pun selesai , Dimas ke Luar dari kamar mandi ,pandangan nya tertuju pada jam yang sudah menunjukan pukul 11.00 siang .
Dimas melangkah ke arah lemari yang terisi pakaian dia di waktu terakhir bermain ke Fila bersama Sahara ,Dimas mengingat perkataan Sahara di waktu dirinya bermain di Fila tersebut .
[["Dimas aku ingin tinggal beberapa hari di sini ."]]
[[Dimas aku ingin membangun Fila di dekat pantai seperti ini"]]
Dimas mengingat ucapan wanita itu begitu polos di kala dia mengajak nya ke Fila ,tapi di balik semua itu hanya angin lembut sesaat .
"Cih ."
"Dimas si hati malaikat itu sekarang sudah berubah ,huh dia bahkan tidak menyediakan makanan untukku ,semenjak turun dari pesawat cacing di perut ku berdemo karna belum di kasih jatah makan ." decak Stevan dengan menggeliatkan tubuh nya .
Steven berjalan ke arah dapur ,dia celingak celinguk di saat dia sampai dapur dia di kaget dengan seorang pria paruh baya penjaga Fila tersebut.
"Tuan Steven ," ucap nya yang kini berada di belakang Steven .
"Ah eh pak ,apa ada makanan yang sudah siap tersaji ." ucap Stevan yang membalikan tubuh nya .
"Maaf tuan ,saya disini hanya menjaga Fila dan tidak bisa melakukan pekerjaan dapur ,tapi anda tenang saja di saat anda dan tuan muda pertama datang saya langsung membeli keperluan dapur ,jika anda akan memakan sesuatu anda tinggal membuat nya semua di kulkas sudah terisi penuh ." ucap nya dengan membungkukkan kepalanya .
Steven hanya mengangguk kan kepalanya dan membuka kulkas tersebut ,dan mengeluarkan bahan-bahan yang akan ia masak , Steven melangkah untuk mengambil celemek yang akan dia pakai ,tak butuh waktu lama kini dia berkutat sendiri memasak untuk membuat makan siang untuk nya dan juga Dimas , dua puluh menit berlalu masakan yang dia buat sudah selesai ,dengan menghela napas nya berat Steven berjalan membawa makanan tersebut ke meja makan , pandangan nya beralih ke pintu kamar yang tertutup rapat.
Di saat dia akan melangkah untuk mengetuk kamar tersebut dia di kejut kan dengan Dimas yang muncul dari tangga .
"Sialan ,?! kapan dia keluar dari kamar nya dan kenapa tiba-tiba muncul di tangga ,?! lihat sekarang dia menyeramkan sekali dengan tatapan seperti itu ."
"Makan ayo ... aku sudah memasak !! kau juga pasti lap..."
"Hemmm ..." ucap Dimas datar berjalan ke arah meja makan dengan melewati Steven .
Steven di buat heran dengan sikap sahabat nya itu setelah pasca oprasi ,kini dia pun berjalan ke arah meja makan dan menikmati makan bersama dengan sahabat nya itu .
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tepat pukul 04.00 sore , Dimas dan Steven bersiap untuk pergi ke mansion ,Stevan melihat sahabat nya itu hanya memasang wajah dingin dan tak memperlihatkan senyuman ,banyak perubahan setelah mengalami luka bakar di tubuh nya .
"Dulu dia suka banyak bercanda dan ngehumor gak jelas , tapi ada apa dengan nya sekarang ini ,"
"Ayo ..." ucap Dimas datar dan keluar dengan di ikuti Steven .
"Bawa mobil ." ucap Dimas melemparkan kunci mobil .
Sebelum Dimas pergi dia menghampiri pria paruh baya yang menjaga Fila untuk undur diri , pria paruh baya pun menganggukkan kepala nya di saat Dimas masuk mobil pria paru baya itu membungkukkan kepala nya , kini mereka pun meninggalkan Fila tersebut , dalam perjalanan Steven hanya memikirkan Dimas yang berubah dengan sikap nya ,Steven tidak ingin memikirkan berjauh lagi, kini dia serius dengan membawa mobil tanpa berbicara pada sahabat nya itu .
Tepat pukul 06.00 sore mereka sampai di depan gerbang mansion Anggara ,Steven melihat ke arah Dimas yang kini memejamkan mata nya .
"Kenapa diam , cepat beri klakson agar pak Jarwo membuka pintu ." ucap Dimas yang mengagetkan Steven ...
Dimas bangun membuka mata nya dia melihat ke arah depan tanpa melihat pintu gerbang yang ada di samping nya itu ,kini dia memakai masker dan juga topi hitam nya ,Steven pun langsung menyalakan klakson dengan beberapa kali .
Pak Jarwo yang hanya melihat mobil itu stengah berpikir dia melihat mobil itu serasa asing di mata nya ,Steven yang melihat pak Jarwo hanya berdiri membuat dirinya membuka kaca mobil tersebut .
"Pak Jarwo buka pintu ,kenapa bengong ." ucap Stevan yang memanggil penjaga itu .
Pak Jarwo terkejut saat yang memanggil dalam mobil itu adalah Steven ,kini dia segara melangkah membuka pintu gerbang tersebut , tak butuh waktu lama Stevan kini tengah di halaman mansion , pak Jarwo masih saja berpikir di depan pintu .
"Tuan Steven bukan nya di Amerika ,?! itu tanda nya.... .... tuan muda Dimas kembali .
__ADS_1
Pak Jarwo yang penasaran pun berlari kecil melihat mobil itu ,dia melihat seseorang turun dari mobil berpakaian serba hitam yang turun berbarengan dengan Stevan .
Dimas turun dari mobil nya dan melihat bangunan tinggi itu dengan bersandar di mobil , Dimas berjalan dengan di ikuti Steven ,pak Urip yang muncul dari ruang belakang terkejut saat melihat Stevan dengan orang yang di depan nya ,Dimas dan Stevan melangkah masuk , di saat Dimas masuk dia terkejut saat melihat wanita paruh baya sedang tertawa dengan seorang wanita cantik yang tak lain adalah adik ipar nya ,
"Omah !! omah tidak tahu kan apa yang terjadi pada ku ,"
Bi Ani yang kini mengantarkan buah pisang untuk ana terkejut saat pandangan nya melihat kedua orang di ambang pintu .
"Tu_tuan Steven ." ucap bi Ani melihat ke arah ambang pintu .
Kedua wanita yang bercengkrama itu melihat ke arah bi Ani yang tengah melihat ke arah pintu masuk , kedua wanita itu pun melihat ke arah pintu dan langsung berdiri .
Dimas berjalan dengan membuka masker dan topi yang dia pakai , dia berjalan dengan tersenyum menghampiri sang omah ,wanita paruh baya ituh terkejut saat siapa yang dia lihat .
"Di_dimas .." ucap nya dengan mulut bergetar
Wanita paruh baya itu berjalan menghampiri Dimas dengan mata berkaca-kaca , dia melihat cucu nya dengan wajah nya berbeda ,wanita paruh baya itu pun mengerti dengan perubahan nya itu mungkin karna oprasi .
"Dimas cucuku ,Kau kembali nak ,hiks ...hiks ..." ucap omah dengan memeluk pria yang kini membalas pelukan nya .
Dimas tidak menjawab pertanyaan wanita paru baya itu ,dia memeluk wanita paruh baya itu dengan mengelus-elus punggung nya .
"Kenapa omah menangis,!! apa omah tidak senang aku kembali ." ucap Dimas dengan melepaskan pelukan nya dan menghapus air mata paruh baya itu .
"Anak kurang ajar !! kau tidak mengerti perasaan orang yang sudah tua ini , kau membuat berat badan ku turun Karna memikirkan ke adaan mu ,kenapa kau tidak memberi tahu omah dengan apa yang ter....
"Syut ... omah jangan menangis lagi ,jika omah terlalu mengeluarkan air mata banyak itu akan membuat mata omah bengkak dan pusing kepala ,dan gak baik buat umur omah yang sekarang ini ." ucap Dimas dengan menghapus air mata sang omah .
Kini pandangan Dimas ke arah ana yang berdiri melihat mereka ,Dimas tersenyum melihat adik ipar nya itu.
"Anatasya .." ucap nya dengan tersenyum .
Di saat Dimas akan melangkah menghampiri ana ,kedua pria yang baru keluar dari ruang kerja nya terkejut melihat seseorang yang di tunggu-tunggu kabar nya itu ,Erland yang melangkah ke ruang tamu memberhentikan langkah Dimas .
"Kakak ." ucap nya dengan berjalan dengan di ikuti Roy .
"Kakak jangan menyentuh nya ." ucap Erland kembali .
Dimas melihat ke asal suara yang ia kenali itu ,Dimas melihat Erland yang berjalan menghampiri nya tersenyum .
"Siapa yang mau menyentuh istri mu ,aku hanya akan menghampiri nya ,?! Oh ternyata si keras kepala ini sudah mencintai istri yang telah aku dorong untuk nya ." ucap Dimas dengan mengejek adik nya itu .
"Sudahlah ,aku tidak akan menyentuh adik ipar ku ,aku juga takut ada Bom meledak di sini.." ucap Dimas yang kini menatap Roy ,Roy pun hanya membungkukkan kepalanya .
Sudut pandangan Dimas melihat ke sekeliling ruangan itu ,dia tidak menemukan wanita yang dia suruh untuk tinggal di mansion ,Erland dan sang omah melihat pandangan mata Dimas mengerti dengan apa yang dia cari .
"Erland dimana Sahara .." ucap Dimas melihat ke arah Erland .
"Cih wanita itu bahkan berani tinggal di sini , kenapa kau masih mencari dia yang su....
"Aku yang menyuruhnya tinggal di sini ,dan dimana Sahara sekarang ." ucap nya memotong ucapan sang omah dengan tampang dingin .
"Dia keluar dari tadi pagi ,kak kau istirahat lah dul...
"Aku mengerti ," ucap nya berjalan ke arah ruang kerja nya
Semua orang yang melihat Dimas berjalan mematung dengan apa yang mereka lihat , Steven yang tau dari awal menghela napas nya panjang .
"Haih ... ijinkan aku untuk tidur di sofa ini ya ." ucap Stevan yang tengah berbaring di sofa tanpa memperdulikan orang-orang yang terkesima itu .
Erland melihat Steven yang terbaring itu ,kenapa pria itu tidak memberi tahu kalau mereka akan kembali .
"Stev , kenapa kau tidak mengabari ku kalau kau akan kembali secepat ini ." ucap Erland melihat Steven .
"Apa kau ingin aku dan Dimas berlama-lama di negri orang !! bahkan kau sendiri yang memaksa kakak mu untuk melakukan oprasi ke Amerika ,?! kakak mu lah yang melarang ku untuk tidak memberi tahu semua orang ." ucap nya tanpa membuka mata nya .
Ana yang melihat erland berdiri di dekat Steven menghampiri suami nya itu .
"Mas .."
"Sayang .. kembali lah ke atas ,nanti susu biar aku yang siapin ." ucap Erland dengan di angguki ana .
"Omah ... istirahatlah ,?! bi Ani bawa nyonya ke kamar nya ." ucap bi Erland dengan di angguki bi Ani .
Omah hanya menuruti saja dengan pikiran yang membuat nya tidak mengerti dengan sikap Dimas .
"Kenapa Dimas jadi ketuker sikap nya dengan erland ,?! kenapa anak itu bukan Dimas yang dulu ."
Erland memperhatikan raut wajah sang omah, dia tahu apa yang di pikirkan wanita paruh baya itu ,Erland menatap pintu ruang kerja yang bertulisan "DIMAS" itu ..dia duduk di sofa melihat Steven dengan sembari berpikir akan hal kakak nya itu .
Di sisi lain ,Dimas melangkah ke arah kursi yang selalu dia duduki dulu ,kini mata nya melihat ke arah monitor ,dia melangkah ke arah dimana monitor itu berada dan menduduki kursi , dan Dimas menyalakan monitor itu .
"Aku ingin tahu keadaan mansion setelah aku pergi ke Amerika ,"
Kini dia melihat layar di bulan lalu ,di Minggu lalu dan di Minggu kemarin ,dan melihat di hari di mana tanggal itu tertara ,Dimas terkejut dengan apa yang dia lihat .
"Sahara ,?! rupanya kau sudah hidup enak di saat kau tak di sampingku , "
Kini dia beralih pandangan nya ke layar lain dimana dia melihat ana dan Sahara tengah berjongkok mengambil pecahan yang entah tidak tahu pecahan apa ,Dimas memperhatikan Sahara dengan mengerutkan kening nya ,sedetik demi sedetik ,Dimas terkejut saat melihat kaki Sahara menginjak tangan adik ipar nya itu .
"Aku tidak tahu ,itu di sengaja atau tidak ,?! tapi aku harus memperhatikan nya terus lewat ini ,?? Anatasya dia terlalu lemah jika harus menghadapi Sahara .
Kini Dimas melihat layar di bulan lalu ,dia melihat Sahara yang berjalan meminta kunci mobil pada Roy dengan memaksa nya ,dia juga melihat sang omah untuk memberikan nya ,Sahara yang memaksa ingin mobil lain membuat Dimas terus memperhatikan monitor tersebut .
"Sahara aku terlalu meremehkan Mu.!! tapi sekarang kau ada di dalam kandang binatang jinak yang dulu selalu menuruti apa mau mu ,sekarang aku membiarkan mu senang dulu ,"
Dimas mengingat dimana dia menyuruh dokter Wilson mencari seseorang untuk menyelidiki Sahara ,dia menggepalkan tangan nya saat tahu apa yang sebenernya ,dia berpikir dulu terlalu bodoh harus mencintai wanita itu ,dalam hati nya Dimas ,dia masih menetapkan wanita yang dulu dia cintai nya masih terbenam di hati
__ADS_1