Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Sepenggal Masa Lalu Yogi


__ADS_3

Sementara saat ini, Mita sudah ada di terminal. Dia sedang menunggu bus jurusan kota J. Dia ingin mengadu nasib di kota J, bermodalkan nekad.


Beberapa saat kemudian, sampailah di kota J. Namun Mita sangat bingung, dia harus kemana. Karena di kota J sama sekali tidak ada sanak saudara.


Di tengah teriknya panas matahari, Mita melangkahkan kaki entah kemana. Dia menyusuri ramainya jalan di kota J. Saat tengah melangkah, matanya terus saja melihat ke kiri dan ke kanan.


"Semoga saja, ada yang sedang membutuhkan karyawan. Ya, walaupun aku cuma seorang lulusan SLTP. Setidaknya kerja jadi asisten rumah tangga, atau jadi buruh cuci seterika nggak apa-apa asal aku bisa makan," batin Mita terus saja celingukan kanan dan kiri.


Hingga pada akhirnya, Mita berhenti di suatu warung makan. Dimana ada brosur yang di tempelkan, jika warung makan tersebut sedang membutuhkan karyawan.


Mita memberanikan diri masuk ke dalam warung makan yang kebetulan sedang sepi pembeli.


"Asalamu alaikum,bu. " salam Mita menyunggingkan senyuman.


"Walaikum salam wr wb. Ada apa ya, nak?" tanya pemilik warung tersenyum ramah.


"Bu, saya melihat di depan di tulis jika sedang membutuhkan karyawan. Saya bersedia bekerja, bu." Ucap Mita menyunggingkan senyuman.


"Kamu serius, karena sudah banyak yang daftar di sini tapi membatalkannya. Karena di sini harus menginap, kerja berat. Harus bangun di tengah malam untuk membantu saya mengolah masakan, intinya tidurnya sedikit. Apa kamu sanggup?" tanya sang ibu menyunggingkan senyuman.


"Insa Allah saya sanggup, bu." Ucap Mita sangat antusias.


"Tapi gajinya juga nggak begitu besar, sesuai dengan keuntungan warung. Jika warung rame, kamu akan mendapatkan uang lebih. Jika warung sepi, kamu juga mendapatkan uang yang tak banyak," ibu pemilik warung menjelaskan.


"Saya tidak masalah, bu. Yang terpenting bagi saya, bisa ikut bernaung, berteduh, itu sudah cukup. Ibu menerima saya bekerja di sini saja, saya sudah syukur alhamdulilah," Mita sangat senang.


"Subahanalah, baru kali ini aku melihat orang yang bisa bersyukur," ibu pemilik warung menggelengkan kepalanya seraya menyunggingkan senyuman.


Hari itu juga Mita bekerja di warung makan tersebut. Dan dia tinggal di rumah si ibu pemilik warung yang kebetulan rumahnya di belakang warung makan.


Hari-hari Mita lalui dengan penuh sukacita, dia tidak memikirkan beban hidup yang dia rasakan saat ini. Dia mencoba melupakan semua demi anak yang saat ini di kandungnya.

__ADS_1


Bu Nina pemilik warung juga sangat baik pada Mita. Bahkan dia tambah sayang pada Mita setelah mendengar cerita hidup Mita.


"Ya, Allah. Kasihan Mita, harus mengalami ujian hidup yang tidak mudah. Tapi aku salut, dia masih saja bisa tersenyum," batin Bu Nina.


Waktu berjalan begitu cepatnya, kini Mita telah melahirkan seorang anak perempuan yang sangat lucu dan menggemaskan dan di beri nama Intan.


Intan tumbuh di kota J, tepatnya di sebuah warung makan. Pada saat Intan berusia lima tahun, Bu Nina meninggal dunia. Warung makan dan rumahnya di berikan pada Mita untuk di kelola.


"Demikian, Atin. Kisah ibu saat berpisah dari bapak. Alhamdulilah, Allah baik sama ibu. Hingga ibu di pertemukan dengan almarhumah Bu Nina yang sangat baik," Mita menyunggingkan senyum menunduk menatap Atin seraya mengusap surai hitam Atin.


Terlihat jelas bulir bening keluar dari mata Atin, membuat Bu Mita merasa heran.


"Nak, kamu kenapa menangis?" Mita mengusap air mata Atin.


"Bu, aku tidak bisa membayangkan bagaimana menderitanya ibu. Harus berjuang sendiri di tengah kehamilan ibu." Atin menciumi tangan keriput Bu Mita.


"Semua orang punya kisah tersendiri, ibu hanya menjalani takdir ibu seperti air yang mengalir," ucap Mita menyunggingkan senyuman.


Tak berapa lama dia bercerita kehidupan Intan, dari kisah kandasnya pernikahannya dengan Reno karena perselingkuhan. Dan bagaimana Intan harus berpisah dengan Laras pada saat Laras baru di lahirkan.


Penderitaan Intan belum juga selesai, pernikahan keduanya sangat rumit.


"Atin, ibu yakin saat ini pasti Intan sedang memikirkan bagaimana jika suatu saat nanti Laras tahu jika dirinya pernah menjadi istri siri suaminya," Mita menghela napas panjang.


"Ibu, nggak usah khawatir. Aku pasti tidak akan tinggal diam," ucap Atin menyakinkan Bu Mita.


Setelah percakapan yang cukup lama, kini Atin dan Bu Mita tertidur lelap. Berbeda dengan Yogi yang tak bisa memejamkan matanya.


Dia sedang teringat masa lalunya dulu. Dan dia sangat menyesalinya kenapa dulu dia tak percaya pada Mita, tetapi malah percaya pada Sinta yang ternyata hanya ingin membuat rumah tangganya hancur.


Saat itu, Sinta menyambangi rumah Bude Nunung. Dimana Yogi sedang ada di rumah tersebut. Sinta datang di temani oleh salah satu warga.

__ADS_1


Yogi mengikuti kemauan Sinta untuk ikut dengannya menemui saudara di depan rumahnya.


"Sebenarnya siapa yang ingin bertemu denganku? kenapa pula tidak langsung saja datang kemari?" batin Yogi.


Tak berapa lama, Yogi dan Sinta serta salah satu warga telah sampai di depan rumah dirinya.


"Loh, kenapa pula banyak warga berkumpul di sini? loh itu yang di samping Rahma, bukannya pria yang berselingkuh dengan Mita?" Yogi langsung terbakar api cemburu.


Dia melangkah cepat ke hadapan Rahmat dan tangannya di layangkan akan memukul Rahmat, namun beberapa warga menahannya.


"Heh, Yogi! awas kalau kamu sampai memukul suamiku!" bentak Rahma ketus.


"Apa, suami? jadi pria ini suami, Mba Rahma?" Yogi masih belum percaya.


"Iya, dan kamu telah salah paham pada Mita karena hasutan wanita ini!" bentak Rahma.


Kemudian Rahma menceritakan semuanya pada Yogi. Jika Rahmat masih ada hubungan saudara dengan Mita. Rahmat memang sudah lama kerja di luar negeri menjadi TKI. Makanya belum sempat berkenalan dengan Yogi.


Yogi sangat menyesal karena telah salah paham pada Mita. Tiba-tiba dia berlari kecil menuju rumah. Yogi terus saja mencari kebedaan Mita namun tidak juga ketemu.


Yogi melangkah keluar rumah, meminta maaf pada Rahmat atas kesalah pahaman yang telah terjadi.


Yogi bertanya pada semua warga dan Pak RT tentang keberadaan Mita. Akan tetapi tidak ada satupun warga yang mengetahuinya.


Bahkan Pak RT dan warga memimta maaf semuanya pada Yogi. Karena hasutan Sinta, semua telah mengusir paksa Mita.


Tubuh Yogi limbung, dia jatuh terduduk di lantai tertunduk lesu. Perlahan air matanya tumpah. Dia menyesali semua yang terjadi.


"Ya, Allah. Tolong tunjukan dimana keberadaan Mita, supaya aku bisa mengajaknta pulang." Sepenggal doa Yogi di dalam hati.


Dia terus saja mengharapkan kepulangan Mita.

__ADS_1


*******


__ADS_2