
Laras dan Reno telah menunggu di depan rukonya. Rindy cs menghampiri bapak dan anak ini.
"Halo, Mba Laras. Perkenalkan saya, Rindy. Saya melihat iklan penjualan ruko anda di akun sosial media face book."
Rindy mengulurkan tangannya menyalami Laras dan Reno. Bapak dan anak ini merasa tak asing lagi dengan suara, Rindy. Akan tetapi mereka sengaja diam.
"Oh iya, Bu Rindy. Mari silahkan masuk dulu," pinta Laras.
Rindy cs lekas masuk dan duduk di ruang tamu. Di dalam hati Rindy ada rasa rindu ingin memeluk Laras dan cucunya. Tapi di satu sisi, dia sekarang sangat membenci Reno.
"Nak, jika papimu tak memasukan mami ke dalam penjara. Mami, nggak akan melakukan hal ini pada kalian."
"Mas Reno, kamu tega mencampakkan aku begitu saja hanya demi si Intan itu! lihat saja aku akan buat perhitungan denganmu!"
Batin Rindy terus saja menggerutu.
"Maaf nech sebelumnya, Mba Laras. Tempat sudah nyaman dan strategis apa nggak sayang di jual begitu saja?"
__ADS_1
"Sebenarnya sih sayang juga, bu. Tapi kami nggak enak menolak bantuan, ibuku. Kami di tugasi mengelola salah satu restoran milik, ibu," tukas Laras.
"Oh begitu ya, senang sekali ya masih punya orang tua lengkap," Rindy mulai memancing perkataan Laras.
"Iya, bu. alhamdulilah. Sempat restoran terbakar eh di bakar seseorang sih, tapi kini sudah biaa beroperasi kembali," tukas Laras tanpa ada rasa curiga sama sekali.
"Hem, rupanya restorannya sudah beroperasi lagi. Ini tidak bisa di biarkan begitu saja," batin Rindy.
Harga ruko telah di sepakati, kini ruko Laras telah menjadi milik Rindy. Bahkan bengkel pun di belinya juga.
"Bu Rindy, terima kasih ya. Sudah membeli bengkel dan ruko kami. Tapi sebelumnya kami minta maaf, tolong beri waktu kami satu hari untuk mengemasi semua barang kami." Reno menangkupkan kedua tangannya.
"Baiklah bu. Terima kasih atas kebijaksanaanya," Reno menyunggingkan senyuman.
Rindy cs pergi begitu saja setelah membayar lunas ruko dan bengkel milik Laras.
"Hem, tertawalah dulu kalian mendapatkan ung banyak dariku. Tapi aku pastikan tawa itu akan hilang besok pagi," batin Rindy seraya menyeringai sinis.
__ADS_1
Tertanya Rindy telah merencanakan sesuatu yang buruk untuk Laras dan Reno.
********
Tak terasa malam menjelang. Sudah waktunya bengkel dan toko tutup. Pukul tujuh malam lewat lima belas menit, disaat selesai dengan urusannya menutup toko dan sembako.
Pada saat Reno menenteng tas koper berisikan uang dari hasil penjualan ruko dan bengkelnya, tiba-tiba saat Reno akan menutup pintu, ada dua orang tak di kenal memaksa masuk begitu saja.
"Heh, siapa kalian? masuk rumah orang seenaknya!" Reno membentak dua orang yang memakai pakaian serba hitam.
Namun dua orang tersebut tak menghiraukan perkataan dari Reno, salag satu dari mereka menusuk perutnya dengan pisau kecil.
Dan salah satunya merebut paksa tas koper tersebut. Lalu keduanya lari tungggang langgang.
"Laras, tolong.." teriak Reno menahan sakit akibat tusukan di perut yang pisaunya masih saja menempel.
Darah berhamburan keluar dari perut Reno. Perlahan kepalanya berdenyut pandangan matanya berkunang-kunang dan pada saat itu juga Reno tak sadarkan diri.
__ADS_1
*******