
Setelah mendengar perkataan kasar dari Tara, air mata Laras berderai. Tara bukannya iba, dialah malah menjadi semakin geram.
"Dasar cengeng, begitu saja nangis! apa lagi kalau aku kasar mukulin kamu, lebih parah lagi!" Tara mendengus kesal seraya berlalu pergi begitu saja.
"Mas, kamu mau kemana lagi? masa aku cuma sendirian menjaga Rizky?" Laras berlari kecil mengejar Tara.
Namun Tara sama sekali tak menghiraukan panggilan dari Laras, dia berencana ingin ke ruang rawat Intan.
"Maafkan aku, Laras. Aku sengaja berbuat seperti itu, supaya aku bisa keluar untuk bergilir menjaga Intan." Gerutu Tara dalam hati seraya terus melangkah menuju ruang rawat Intan.
"Kamu darimana saja sih, Tara! pergi kok lama sekali, ibu mau pulang karena ada yang tertinggal di rumah!" hardik Bu Mita menatap sinis pada Tara.
"Maaf, bu. Kebetulan urusanku tadi sedikit rumit jadi menyita waktu," jawab Tara menutupi rasa gugupnya.
"Ya sudah, kamu di sini saja! jangan pergi lagi, karena ibu mau pulang!" Bu Mita melirik sinis pada Tara seraya mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
Dia lekas beranjak pergi dari ruang rawat Intan.
"Nak, ibu pulang dulu ya. Semoga kamu lekas pulih sehingga lekas pulang juga " pamit Bu Mita seraya mengusap surai hitam Intan.
"Iya, bu. Sebaiknya biar Tara antar ibu saja," Intan memberi kode dengan lirikan matanya pada Tara.
Tara telah paham, diapun mengikuti langkah Bu Mita keluar dari ruang rawat Intan.
"Untuk apa kamu ikuti saya, lebih baik jaga Intan saja. Biar saya naik taxi on line, kasihan istrimu. Jaga dia, jangan sampai istri mantan suaminya datang lagi untuk menyakiti janin yang saat ini sedang di kamdungnya," perintah Bu Mita melirik sinis pada Tara.
"Loh, kok kamu malah balik?" Intan mengernyitkan alis melihat Tara.
"Ibumu nggak mau di antar pulang, aku di suruh menjagamu saja. Katanya dia khawatir istri mantan suamimu datang ke mari untuk menyakitimu lagi," Tara menghampiri Intan.
"Bagaimana kondisi Rizky?" Intan mengalihkan dengan sebuah pertanyaan.
__ADS_1
"Kamu kok jadi bertanya soal Rizky, kita lagi bercerita apa tanyamu apa?" Tara menutupi rasa panik dan gugupnya.
"Kamu bisa berbohong pada ibuku dan istrimu, tapi tidak denganku. Aku tahu jika saat ini anakmu sedang di rawat di rumah sakit ini juga. Aku masih punya hati nurani, makanya saat kamu sedang menjaga Rizky, aku tidak menelponmu," kata Intan panjang lebar tersenyum sinis.
Tara bukannya membalas apa yang di katakan oleh Intan, dia malah ikut pula mengalihkan pembicaraan.
"Memangnya istri mantan suamimu seperti apa, kok jahat banget ingin menyakiti anak kita?" ucapnya mengalihkan pembicaraan dari Intan.
Intan hanya bisa menatap sinis pada Tara dan menghela napas panjang seraya ber istighfar supaya bisa lebih sabar lagi dalam menghadapi Tara yang suka sekali membohongi dirinya.
Intan tak berkata lagi, dia diam seribu bahasa. Karena sudah malas untuk dirinya berbicara pada Tara. Dia hanya melamun menatap langit-langit kamar ruangan tersebut.
"Sayang, sekarang apakah perutmu masih terasa sakit?" tiba-tiba Tara bertanya memecah keheningan seraya mengusap perut Intan.
"Alhamdulillah sudah membaik, tolong katakan pada dokter. Aku ingin pulang kalau bisa hari ini juga. Aku sudah bosan di sini," Intan menghela napas panjang.
__ADS_1
**************