
Pada saat Intan menoleh, tak sengaja saling pandang dengan Reno, dia lekas ambil langkah seribu masuk dalam rumah.
"Kenapa di saat aku ingin menghindari Tara, di sini malah bertemu dengan Mas Reno, benci aku! ist amit-amit tujuh turunan," gerutu Intan masih bisa di dengar Bu Mita yang sempat melintas.
"Nak, sebenci apapun kamu dengan Reno, jangan sampai di hati. Karena kamu sedang hamil, nanti anakmu jadi mirip Reno," nasehat Bu Mita.
"Ist, ibu. Amit-amit jangan sampai dech," Intan mendengus kesal.
"Nak, duduklah. Ibu ingin bicara padamu." Bu Mita mengajak Intam untuk duduk.
Mereka akhirnya duduk di ruang tengah.
"Memangnya ada apa, bu?" Intan merasa penasaran.
"Nak, bukankah sampai sekarang kamu belum tahu bagaimana wajah anakmu? ibu juga merasa janggal dengan apa yang di lakukan oleh Tara dengan berbohong padamu membuat makam kosong. Sepertinya dia memiliki alasan yang kuat untu hal ini," Bu Mita menjelaskan.
"Maksud dari perkataan ibu apa? aku nggak paham?" Intan mengernyitkan alisnya.
"Begini, biar kamu nggak penasaran dengan wajah anakmu, sebaiknya kamu tanyakan hal ini pada Reno. Kebetulan dia akan ada di sini juga, jika dia ada di samping Saras pasti kamu akan susah untuk mengetahui tentang anakmu bukan? pasti Saras selalu menghalangi Reno?" saran Bu Mita.
"Oh iya, saran ibu ada benarnya. Kenapa aku tidak berpikir sampai sejauh itu ya?" Intan menepuk jidatnya sendiri.
"Sekarang kamu bersikaplah sedikit baik dan ramah pada Reno, hanya untuk mendapatkan informasi tentang anakmu," Bu Mita memberi saran kembali.
"Baiklah, bu. Aku lakukan ini hanya demi anakku yang telah lama aku rindukan," Intan meyakinkan ibunya.
Saat Rendi sedang pergi berkeliling di perkebunan teh miliknya, Reno menggunakan kesempatan ini untuk menyambangi apartement milik Intan.
"Busyet, Intan benar-benar hebat. Padahal setahuku sekolah cuma lulus SLTA, kehidupannya juga susah. Tapi kok sekarang dia bisa memiliki semuanya, apa karena suaminya? seperti Saras juga semua kekayaan peninggalan almarhum suaminya. Aku sangat penasaran dengan kekayaan yang di peroleh Intan, apakah kerja kerasnya sendiri ataukah kekayaan suaminya. Aku ingin bertemu suaminya." Reno melangkah pasti menuju pintu gerbang apartement.
Dia memencet bel yang ada di pintu gerbang. Tak berapa lama, datanglah Mang Jajang mengecek dulu siapa yang telah datang.
Setelah melihatnya seorang lelaki, dia tidak langsung membukanya. Namun dia berlagak bak wartawan bertanya pada Reno panjang lebar.
"Maaf, anda siapa? apakah sebelumya sudah mengadakan janji dengan Bu Intan?" tanya Mamang Jajang dari celah kecil yang sengaja di buat kusus untuk melihat siapa yang datang.
"Katakan saja pada Intan, jika Reno ingin bertemu," jawabnya singkat.
__ADS_1
Mamang Jajang berlari kecil mencari keberadaan Intan.
"Bu, maaf. Di luar ada tamu, namanya Tuan Reno," lapor Mang Jajang pada Intan.
"Buka saja gerbangnya, Mang. Dan ijinkan dia masuk, karena saya mengenalnya," pinta Intan singkat.
"Siap, bu." Mamang Jajang berlari kecil kembali ke arah pintu gerbang dan membukanya serta mempersilahkan Reno masuk.
Tak lupa Mang Jajang mengunci pintu gerbangnya kembali. Sementara Reno melangkah terpesona dengan mewahnya apartement milik Intan.
Tak berapa lama, Intan keluar dari rumah. Dan mengajak Reno duduk di ruang tamu. Baik Reno maupun Intan sama-sama menjatuhkan pantatnya di sofa.
"Intan, aku nggak menyangka jika kita bertemu di sini. Apa mungkin Allah yang telah mempertemukan kita, untuk menyatukan kita kembali," Reno tiba-tiba meraih tangan Intan.
Intan sempat terhenyak kaget, namun dia lekas menepis tangan Reno.
"Mas, tidak sepantasnya kamu berbuat seperti ini padaku. Apa kamu lupa, jika kita sudah bukan suami istri lagi?" perkataan Intan seolah ingin mengingatkan Reno jika hubungan mereka sudah ada batasannya.
"Oh iya, maaf. Tapi walaupun kita sudah bukan suami istri, status kita sampai kapanpun adalah orang tua kandung Laras," Reno mengedipkan matanya genit.
Dia bersikap baik hanya untuk melihat paras anaknya, karena dari bayi dia tak pernah melihatnya.
"Intan, kenapa kamu diam?" tanya Reno membuyarkan lamunan Intan.
Tak berapa lama datanglah Bi Mira membawa nampan berisikan minuman dan cemilan. Kini tinggal Reno yang terdiam.
"Apa Intan barusan melamunkan masa lalu bersamaku dulu ya?" batin Reno seraya tersenyum sendiri.
"Mas Reno, apa maksud kedatanganmu kemari?" tiba-tiba Intan bertanya membuyarkan lamunan Reno.
"Seperti janjiku waktu itu, jika aku ingin menunjukkan foto-foto anak kita padamu, karena aku selalu gagal memberitahu pada Laras tentangmu."
"Terakhir saat aku ingin menunjukkan semua fotomu pada Laras, tanpa sepengetahuanku Saras menghapus semua fotomu yang ada di ponselku."
"Dia selalu saja menghalangiku untuk bisa memberitahu tentangmu pada Laras."
Demikian panjang lebar Reno menjelaskan.
__ADS_1
"Hem, picik sekali ternyata Saras. Pantas saja dia menggunakan segala cara untuk menghancurkanku. Salah satunya dengan memerintah orang memperdaya pembeli jika makanan di restoranku ada kecoanya," batin Intan.
"Baiklah, mas. Mana fotonya, aku ingin melihatnya?" tanya Intan penasaran.
Reno sangat pintar, dia menggunakan otaknya.
"Aku kan sudah nggak punya nomor ponsel Intan. Sebaiknya aku menggunakan trik ini, untuk mendapatkan nomor ponselnya yang baru," batin Reno sangat antusias.
"Aku ingin kirim langsung ke nomor ponselmu, tapi kok sekarang nggak aktif ya?" Reno pura-pura bertanya.
"Ponselku hilang, ganti ponsel baru dan nomornya juga," jawab Intan singkat.
"Kalau begitu aku minta nomormu yang baru, supaya aku bisa mengirim semua foto Laras. Jika kamu hanya melihat dari ponselku, kamu nggak akan puas dan nggak bisa setiap waktu melihatnya kembali," bujuk Reno.
Apa yang di katakan Reno memang ada benarnya, hingga tak butuh waktu lama Intan memberikan nomor ponselnya yang baru.
"Wah, nomor yang cantik secantik orangnya." goda Reno seraya mulai mengirimkan foto Laras.
Tak berapa lama, ponsel Intan bergetar.
"Bukalah, itu notifikasi pesan chat dariku," pinta Reno.
Perlahan Intan membukanya, namun dia mengerucutkan bibirnya.
"Mas, bukannya ini foto masa kecil Laras? aku butuhnya foto yang sekarang," rajuk Intan memonyongkan bibirnya.
"Sabar, sayang. Ini sedang aku kirimkan semua padamu," Reno sibuk dengan ponsel tanpa sadar dengan apa yang dia katakan.
"Mas, tolong jaga ucapanmu. Panggil aku sewajarnya saja," hardik Intan ketus.
"Oh iya, kamu kan sudah bersuami ya. Maafkan aku keceplosan, boleh nggak aku bertemu suamimu?" pinta Reno secara tiba-tiba.
"Suamiku sedang tidak bersamaku, dia sibuk kerja," jawab Intan singkat.
"Intan, apa aku nggak salah dengar? kamu kan sedang hamil seperti ini, masa berjauhan dengan suami. Harusnya menjadi suami siaga, hah suami macam apa sih yang kamu nikahi?" Reno berkata lantang.
**********
__ADS_1