
Setelah mendengar penuturan dari Tara, Intan sedikit lega.
"Tapi kamu janji kan? besok akan mencari tahu tentang anakku lagi? sekalian saja aku ikut ya?" pinta Intan.
"Jangan, sayang. Apa kamu lupa dengan pesan dari dokter, supaya benar-benar bedress? aku nggak ingin kamu mengalami kram perut lagi," Tara melarang Intan ikuy menyelidiki keberadaan anak kandungnya.
"Hem, ya sudahlah. Nggak apa-apa, sebenarnya lebih mantap jika aku ikut," Intan mengerucutkan bibirnya.
"Sayang, masa kamu meragukan kemampuanku? kamu nggak percaya dengan suamimu ini? mentang-mentang aku lebih muda darimu?" Tara menghela napas panjang.
"Bukan begitu, aku percaya. Biarpun kamu lebih muda, tapi kamu lebih pintar. Dalam hal tipu menipu, membohongiku." Intan bangkit dari duduknya melangkah masuk dalam rumah menuju ke kamarnya.
Malam menjelang, Laras gelisah memikirkan Tara yang tak pulang malam ini.
"Padahal beberapa hari lalu, Mas Tara tidak pulang. Kenapa malam ini tidak pulang lagi? sebenarnya aku ingin mengecek ke kantornya, tapi Mas Tara sama sekali tak pernah memberitahuku di mana keberadaan kantornya," gerutu Laras merasa gelisah.
"Masa iya, kerja kantoran lembur sampai pagi? sepertinya kok janggal sekali?" Laras kembali gundah gulana.
"Ah, untuk apa di pikirkan terus. Malah membuat sakit kepala saja." Laras merebahkan tubuhnya di pembaringan dan perlahan terlelap dalam tidurnya.
__ADS_1
Hingga pagi menjelang, dia terbangun dan menyiapkan segala kebutuhan untuk sekolah Risky. Karena saat ini Risky duduk di bangku Taman Kanak-Kanak.
Setelah semua siap, Laras mengantar Risky ke sekolahannya. Namun terlebih dulu menghubungi Tara untuk mengetahui bagaimana rencana selanjutnya akan di jalankan jam berapa.
Setelah mendapat balasan dari Tara, Laras segera menelpon Saras untuk segera datang ke rumah, namun Laras sengaja tidak memberitahu untuk apa Laras meminta Saras datang ke rumah.
Seperti biasa, Saras pasti mengajak serta Reno turut ke rumah Laras.
"Ada apa sih, Laras pagi-pagi meminta kita datang?" Reno mengernyitkan kening tanda heran.
"Entahlah, pi. Laras tidak memberitahu alasannya, hanya meminta kita cepat ke rumahnya." Jawab Saras sekenanya.
Reno dan Saras lekas masuk mobil, dan Reno segera mengemudikannya menuju ke rumah Laras.
Mereka telah sampai di rumah Laras, dan Laras segera mengajak Saras untuk ikut mengantar Risky sekolah.
Seperginya Laras dan Saras, Reno termenung sendiri di rumah Laras. Tak berapa lama, datanglah Tara.
"Papi, sendirian?" Tara menyalami Reno.
__ADS_1
"Apa semalam kamu nggak pulang?" Reno malah balik bertanya.
"Iya, pi. Lagi banyak kerjaan di kantor. Oh iya, pi. Semalam Laras chat ke ponsel, papi." Tara mulai mengorek keterangan dari Reno.
"Memang chat apa? kok papi nggak tahu, semalam tidur lebih awal." Reno mengernyitkan alisnya.
"Loh, semalam papi sempat balas kok." Tara merasa heran.
"Memang Laras chat apa?" Reno semakin penasaran.
"Laras meminta pada papi untuk mengirimkan foto ibu kandungnya, tapi papi balas katanya nggak punya fotonya," Tara menjelaskan.
"Hem, pasti ini ulah Saras!" Reno mendengus kesal.
"Oalah, berarti yang semalan balas bukan papi?" Tara menghela napas panjang.
"Laras sudah bercerita padaku, katanya ingin bertemu ibu kandungnya tapi dia sama sekali nggak tahu wajah ibunya seperti apa,"Tara menjelaskan kembali.
"Memangnya Laras telah bercerita padamu?" Reno kembali bertanya.
__ADS_1
"Iya, pi. Laras bahkan memintaku membantunya mencari keberadaan ibu kandungnya," jawab Tara mencoba meyakinkan Reno.
*****