Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Pertemuan Tara & Intan 2


__ADS_3

Intan telah mengetahui isi hati Tara.


"Kamu nggak perlu tahu dari mana aku mendapatkan foto pengantinmu dengan Laras, sudah terlalu banyak kekecewaan yang kamu berikan padaku."


"Jujur, aku sangat menyesal telah menikah dengan pria pembohong sepertimu. Cepatlah kamu tanda tangani, supaya aku cepat pergi darimu."


Demikian panjang lebar, Intan berkata pada Tara dengan wajah juteknya.


"Aku tidak akan menandatanginya, sudah aku bilang aku akan tetap mempertahankan pernikahan kita selama!" Tara bangkit berdiri akan berlalu pergi dari hadapan Intan.


Namun Intan menahan kepergian Tara.


"Tunggu, aku ada sebuah penawaran untukmu."


Sejenak Tara berhenti mendengar perkataan dari Intan, dia menoleh dan berbalik arah menghampiri Intan.


"Apa maksudmu ingin memberi sebuah penawaran padaku?" Tara menjatuhkan pantatnya di kursi.


"Kamu relakan perpisahan kita, dan lekas tanda tangani. Aku akan merelakan perusahaanku untukmu sepenuhnya. Akan aku proses balik nama saat ini juga jika kamu bersedia menandatanginya," Intan mencoba bujuk Tara.


Sejenak Tara terdiam, memikirkan penawaran dari Intan. Lalu Intan berkata kembali.


"Jika kamu tidak mau, ya sudah. Selamanya aku melarangmu untuk tidak bekerja di kantorku." Kini gantian Intan yang bangkit dari duduknya.


Namun Tara menahannya.


"Tunggu, kenapa kamu mau pergi sedangkan aku belum memberikan jawabannya sama sekali?"


"Makanya cepat kamu jawab, karena aku tidak akan membuat penawaran lagi. Jika kamu tak jua jawab, aku anggap kamu menolaknya," Intan sudah tak sabar menunggu jawaban dari Tara.


"Baiklah, aku bersedia menerima tawaran darimu. Tapi kamu serius dengan penawaranmu, kan?" Tara masih tidak percaya.


"Aku selalu menepati janji, tidak sepertimu yang suka sekali mengingkari janji dan kerap kali berbohong," Intan mencoba meyakinkan Tara.


Setelah mendengar penuturan dari Intan kembali, kini Tara tidak ragu kembali. Dia beredia menandatangani semua berkas untuk perceraian.


Dalam hati Intan sangatlah tenang, karena langkah awal telah berhasil.


"Alhamdulilah, terima kasih ya Allah. Akhirnya aku akan lepas juga dari Tara. Walaupun aku harus mengorbankan perusahaan yang aku rintis dari nol. Aku bersusah payah membangunkan, padahal perusahaanya sedang sangat berkembang," batin Intan seraya menghela napas panjang.

__ADS_1


Dengan penuh perjuangan dalam membujuk Tara, akhirnya membuahkan hasil yang terbaik. Tara bersedia menandatangi semua berkas untuk perceraian siri mereka, bahkan Tara yang tadinya tidak bersedia memberitahu rumahnya, kini tanpa di paksa dengan sukarela menunjukkkan alamat rumahnya.


"Terima kasih, atas kerjasamanya. Tunggu saja kabar selanjutnya dariku," Intan bangkit dari duduknya dan akan pergi.


Namun kembali lagi Tara menghentikannya.


"Tunggu, sayang."


"Ada apa lagi? urusan kita sudah selesai," Intan menghentikan langkahnya, seraya menatap sinis pada Tara.


"Ijinkan aku bertemu dengan anakku, bagaimanapun dia kan anakku? aku juga ingin mengetahui, cewe atau cowo sih?" Tara ingin bertemu dengan anaknya.


"Jika Allah berkehandak kalian bertemu, suatu saat nanti pasti ketemu. Untuk saat ini dia masih kecil, sehingga belum bisa di ajak bepergian untuk bertemu denganmu." Intan melangkahkan lagi kakinya menuju ke mobilnya.


Tara terus saja membujuk Intan, dia terus saja mengikuti kepergian Intan hingga sampai di depan mobilnya. Tara kesal saat melihat siapa yang duduk di kemudi mobil Intan.


"Sialan, sekarang aku sangat yakin. Jika Intan ada hubungannya dengan ayah dari bocah rese itu," batin Tara seraya melotot pada Kevin.


Kevin pun membalas pelototan Tara, seraya tersenyum mengejek. Kevin lekas melajukan mobilnya dengan terlebih dulu dia mencibir pada Tara.


"Sialan itu anak! malah mengejekku!" gerutu Tara seraya mengepalkan tinjunya.


"Sialan, tadi anaknya! sekarang bapaknya!" hhuhhhhhhh." Gerutunya seraya meninju tangannya sendiri.


Tara lekas melangkah ke mobilnya, dia akan menyambangi rumah Reno. Dengan tujuan, ingin meminta maaf pada Laras, serta membujuknya ikut kembali ke rumahnya.


"Aku yakin, Laras pasti akan bersedia memaafkanku. Dia kan sangat cinta padaku," gerutunya tersenyum sendiri seraya terus melajukam mobilnya.


Setelah menempuh bebebera jam perjalanan, akhirnya sampailah Reno di depan pintu gerbang Reno. Kebetulan pintu gerbang sedang terbuka, sehingga Tara langsung masuk saja dan memarkirkannya di halaman rumah.


Tara lekas keluar dari mobilnya, kebetulan Reno, Saras, dan Laras sedang berkumpul di teras depan rumah. Tara memberanikan diri melangkah menghampiri mereka.


Belum juga Tara berucap, Reno sudah terlebih dulu bangkit dari duduknya menghampiri Tara.


"Untuk apa kamu kemari, membohongi Laras kembali!" bentak Reno berkacak pinggang.


"Pi, jangan marah dulu. Laras cuma salah paham padaku, aku mohon pi. Ijinkan aku untuk bisa berbicara sebentar saja dengan Laras. Ini urusan rumah tanggaku, harusnya papi nggak boleh ikut campur," ucap Tara panjang lebar.


Reno emosi saat mendengar ucapan Tara

__ADS_1


"Bug..bug.." Dua pukulan mendarat di perut Tara.


"Papi.." teriak Saras dan Laras serentak.


"Pi, sabar dong." Laras mencoba menenangkannya.


"Dia sudah kelewatan, jadi harus di beri pelajaran!" bentak Reno melotot pada Tara.


"Pi, aku khawatir nanti jadi kasus." Laras mencoba mengingatkan.


Reno terdiam sejenak, sedangkan Tara merintih kesakitan.


"Sial, walaupun sudah tua masih kuat juga pukulannya," batin Tara merintih kesakitan.


"Pi, mi. Ijinkan aku untuk bicara sejenak dengan suamiku," Laras menatap memelas pada Reno dan Saras.


Hingga orang tuanya merasa iba dan mengijinkan Laras untuk menemui Tara. Laras dan Tara duduk di ruang tengah.


"Sayang, aku minta maaf atas segala kesalahanku. Aku memang bersalah padamu, karena telah berbohong. Tapi aku lakukan demi kebaikanmu." Bujuk Tara seraya menggenggam jemari tangan Laras.


"Mana ada kebohongan demi kebaikan, yang namanya bohong ya tetap tidak baik," Laras menatap sinis pada Tara.


"Sayang, jika aku tidak melakukan hal itu. Pasti kamu akan terus memikirkan ibu kandungmu. Jika kamu terus saja berpikir, aku khawatir kamu jadi sakit. Kalau kamu sakit, kasihan dengan Risky, kan?" bujuk Tara kembali.


Tak sengaja Saras dari teras depan mendengar apa yang di ucapkan oleh Tara. Tiba-tiba dia bangkit dari duduknya dan melangkah masuk menuju ruang tamu. Sementara Reno sedang berjalan berkeliling halaman rumah bersama dengan Risky.


"Apa maksud ucapanmu itu, Tara?" Saras menatap tajam pada Tara.


Tara dan Laras menoleh ke arah Saras dengan rasa heran.


"Ucapan yang mana, mi?" Tara tidak mengerti dengan apa yang sedang di tanyakan mami mertuanya.


"Kamu melakukan kebohongan pada Laras, supaya dia tidak memikirkan ibu kandungnya terus. Apa maksudnya?" Saras memperjelas pertanyaannya.


Sejenak Tara dan Laras saling berpandangan satu sama lain. Hal itu membuat Saras semakin penasaran.


"Kenapa diam, sebenarnya apa yang sedang kalian sembunyikan dariku?" Saras semakin memojokkan Tara dan Laras dengab pertanyaannya.


********

__ADS_1


__ADS_2