
Sejenak Tara terhenyak kaget saat mendengar perkataan dari Keano. Dia tak mengira jika Tia bisa bertindak sejauh itu, menjual perusahaannya tanpa meminta ijin padanya terlebih dahulu.
"Sialan! jadi Tia yang telah menjual perusahaan ini? jika seperti ini aku pasti kalah telak, misalkan mencoba menuntut Intan dan suami barunya!"
"Pantas saja Tia menghilang dan tak bisa di hubungi, karena ini penyebabnya. Bodohnya aku, kenapa pula sertifikat perusahaan bisa tertinggal waktu itu, sehingga terjadi hal seperti ini."
"Ini semua murni kesalahan Delta! gara-gara dia yang memaksa aku ikur dengannya, sehingga aku gugup dan melupakan sertifikat perusahaan yang sangat aku sayangi."
Tara terpaku dengan beribu gerutuan di dalam hatinya. Dia sudah tak bisa berkata lagi di hadapan Keano dan Intan.
"Heh, benalu! pergilah dari sini, cepat! justru keberadaanmu disini mengganggu pemandangan kami!" bentak Keano, membuat Tara terlonjak kaget.
"Sombong ya kalian! aku tidak akan membiarkan diriku di hina seperti ini oleh kalian berdua, terutama olehmu, Intan!"
"Apa kamu lupa, Intan! seburuk apapun diriku ini adalah ayah dari anakmu, Adam! dan suatu hari nanti, kamu pasti akan membutuhkanku, karena ada ikatan kita yakni, Adam!"
__ADS_1
"Ingat baik-baik, Intan. Aku akan datang lagi kemari untuk membalasmu! karena saat ini aku sudah menikah dengan anak orang kaya, dan aku pasti juga bisa mendapatkan lagi apa yang aku inginkan!"
Setelah berucap panjang lebar, Tara berlalu pergi dengan hati berkecamuk emosi. Semua perdebatan di pelataran kantor expedisi juga bisa di lihat oleh Delta dari CCTV yang di pasangnya di mobil Tara.
Sementara Tara memarkirkan mobil di sembarang tempat yakni di pelataran kantor.
"Oh, jadi seperti ini sifat asli atau masa lalu menantuku? dia itu tak punya apa-apa? hanya sebagai benalu istrinya yang dulu? sangat menarik, aku ingin mengetahui semuanya tentang, Tara lewat perempuan cantik itu."
"Tapi aku tak bisa bertemu sendiri, sebaiknya aku meminta tolong salah satu putri sulungku. Oh iya, Mona saja. Dia kan pintar sekali dalam mengurai kata."
Saat ini Tara melajukan mobilnya arah pulang, dia sudah merencanakan akan menumpahkan kekesalannya pada Mona.
Dia berpikir, semua yang terjadi karena ulah papahnya. Hingga Mona yang harus menanggung kekesalannya.
"Mas, kamu dari mana?" Mona bergelayut manja di lengan Tara, saat melihat kepulangan Tara.
__ADS_1
Mona sangat senang, dia berpikir jika Tara telah menyesali pertikaian yang terjadi tadi, dan akan meminta maaf padanya.
"Pasti, Mas Tara buru-buru pulang karena merasa bersalah padaku. Dan ingin meminta maaf padaku," batinnya sangat yakin.
Tara tak menjawab pertanyaan dari Mona, dia hanya tersenyum. Senyum yang terpaksa. Tara melangkah kekamar, di ikuti oleh Mona.
Dengan gerak cepat, Tara menepis cekalan tangan Mona dan mendorongnya ke pembaringan. Mona jatuh telentang ke pembaringan.
"Astaghfiruloh alazdim. Apa yang kamu lakukan, mas? aku ini sedang hamil, jika aku terjatuhnya di lantai pasti akan membahayakan anak kita?" Mona mencoba bangkit.
Namun kalah telak, Tara telah terlebih dulu mencengkeram rahang Mona.
"Aku tahu kamu sedang hamil, makanya aku menjatuhkanmu di pembaringan supaya tidak sakit. Sebenarnya aku ingin membuatmu sakit, tapi aku masih punya hati karena kehamilanmu ini!" Tara melotot seraya terus mencengkeram rahang Mona.
*****
__ADS_1