Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Luluh Juga


__ADS_3

"Sayang, tolong jawab. Apakah kamu bersedia dengan permintaanku?" Kembali lagi Tara bertanya pada Intan.


"Baiklah, aku bersedia menyanggupi permintaanmu. Tapi kamu juga nggak boleh ingkar janji."


"Selama aku hamil, kamu harus selalu ada di sisiku. Kamu boleh ke rumah Laras hanya untuk memberikan jatah uang bulanan."


Demikian persyaratan dari Intan yang harus Tara lakukan.


"Baiklah, aku penuhi semua syaratmu. Tapi kamu juga jangan ingkar janji." Kata Tara.


"Ada satu lagi, aku minta tolong selesaikan permasalahanku di restoran cabang C. Tangkap pelakunya, supaya restoranku bisa kembali beroperasi dan banyak pelanggannya lagi." Ucap Intan dengan tegasnya.


"Jadi kegaduhan yang terjadi karena orang yang berulah?" tanya Tara mengernyitkan alisnya.


"Iya benar, nanti aku perlihatkan bukti rekaman CCTV bagaimana orang itu memasukkan kecoa dalam masakanku." Intan meraih ponselnya.

__ADS_1


Perlahan dia membuka rekaman CCTV dan menunjukkannya pada Tara. Dengan seksama Tara melihat rekaman CCTV tersebut.


"Padahal selama kamu punya restoran tidak pernah terjadi hal seperti ini, baru kali ini ada yang berani mencemarkan namamu." Tara mendengus kesal seraya mengepalkan tinju.


"Maka dari itu, segera tangkap pelakunya. Kemarin saat perutku sakit, sebenarnya aku akan melaporkan hal ini pada polisi. Dan meminta tolong untuk menyidikinya. Apakah dia murni bekerja sendiri, ataukah ada orang di balik layar." Intan berucap panjang lebar seraya menghela napas panjang.


"Sayang, nggak usah khawatir lagi. Aku akan bantu kamu menyelesaikan permasalahanmu ini." Tara tersenyum seraya menggenggam jemari tangan Intan.


"Jika sikap manismu ini hanya untukku saja, pasti aku akan sangat bahagia. Tapi kenyataannya tidak seperti yang aku harapkan.Batinnya seraya menghela napas panjang.


"Syukur alhamdulillah, akhirnya Intan bisa luluh juga sehingga semua kartuku bisa aktif kembali dan aku juga bisa bekerja kembali." Batin Tara seraya menyuapi Intan.


Sementara di rumah Reno, kembali lagi mereka cekcok.


"Mas, aku minta dengan sangat supaya kamu benar-benar melupakan Intan. Dia itu sudah menjadi masa lalumu, dan akulah masa depanmu." Saras menggenggam jemari Reno.

__ADS_1


"Masa depan apa? dulu aku pikir bisa bahagia walaupun tanpa mempunyai anak darimu, ternyata aku salah. Justru hidup bersamamu tidak ada masa depan sama sekali." Reno menepis genggaman tangan Saras.


"Apa maksud ucapanmu, mas?" Saras mengernyitkan alisnya.


"Sekarang berpikirlah secara realistis. Jika kita tak punya anak, siapa kelak yang akan mengurus masa tua kita?" Pandangan Reno menerawang entah kemana.


"Lah kan ada Laras." Jawab Saras singkat.


"Laras saja punya kehidupan sendiri, belum tentu kelak akan mengurus masa tua kita. Kamu lihat, saat ini Intan sedang hamil. Padahal umur dia sudah tidak muda lagi, tapi dia masih subur. Sedangkan kamu, umur jauh lebih muda tapi sama sekali tak bisa memberiku anak." Panjang lebar ungkapan kata Reno.


"Kamu sadar nggak, mas? perkataanmu barusan melukai hatiku." Mata Saras mulai basah.


"Sudahlah, aku muak dengan air mata buayamu itu!" Reno melangkah pergi dari rumah.


"Padahal aku sudah memberi pelajaran pada Intan, dengan membuat rekayasa bahwa makanan ada kecoanya. Dan aku dengar saat ini restorannya telah tutup. Tapi Intan masih saja berulah. Oh iya, dia kan saat ini sedang ada di rumah sakit, aku akan mencari cara supaya bisa menghilangkan janin Intan yang masih ada di dalam kandungannya." Gerutu Saras yang ingin melakukan hal buruk pada Intan.

__ADS_1


***********


__ADS_2