
Acara pernikahan berjalan lancar, Tara pun hanya sekali mengucapkan ikrar pernikahan karena tidak melakukan suatu kesalahan.
"Tara, aku titip Mona. Dan ini aku berikan rumah sebagai hadiah pernikahan kalian. Aku minta kamu jangan pernah menyakiti, Mona. Jika aku tahu kamu sampai berhianat, tidak akan ada ampun bagimu!" ancam Delta seraya menyerahkan kunci rumah yang letak rumah tak jauh dari rumah Delta.
Delta sengaja membelikan Mona dan Tara rumah yang letaknya di seberang rumahnya, supaya dia bisa selalu memantau gerak gerik Tara. Mengingat masa lalu Tara yang suka sekali selingkuh.
"Hah, sebenarnya aku enggan rumah berdekatan dengan pria tua ini. Tapi mau bagaimana lagi? aku sama sekali nggak punya inventaris rumah, hanya sebuah mobil saja," batin Tara menerima kunci rumah yang di berikan oleh Delta.
Dua kakak Mona juga mengucapkan selamat pada Tara dan Mona, walaupun sebenarnya mereka tidak menyukai Tara sama sekali, mengingat keburukan Tara yang suka mempermainkan wanita.
Begitu pula mamahnya juga mengucapkan selamat pada Mona, walaupun di hatinya merasa tak rela, anaknya telah merebut kebahagiaan wanita lain. Tapi mau bagaimana lagi, kondisi Mona saat ini sedang hamil muda karena perbuatannya dengan suami orang.
Setelah acara pernikahan yang sangat sederhana, Tara dan Mona langsung pindah kerumah mereka yang baru.
Mona sangat bahagia, semua terpancar dari expresi wajahnya yang sangat sumringah. Sementara expresi wajah Tara murung dan tak ada rasa bahagia sama sekali.
__ADS_1
"Mas Tara, kenapa kamu terlihat murung? apa kamu tak bahagia menikah denganku?" Mona menatap menyelidik pada Tara.
"Aku tertekan, aku merasa seperti boneka papahmu. Perlakuannya begitu kejam padaku, dia mengurungku bagaikan seorang penjahat saja," Tara berkata ketus seraya mendengus kesal.
"Maafkan papahku, mas. Dia melakukan hal itu karena khawatir kamu akan meninggalkanku di saat kondisiku sedang hamil anakmu, sebenarnya papah orang yang baik kok," Mona mencoba meredakan emosi Tara.
"Baik, kamu bilang? baik dari sudut apa?" Tara tersenyum sinis.
"Mas, jika papah tak baik, dia takkan menghadiahkan rumah ini untuk kita. Sudahlah, mas. Kita kan baru menikah, masa langsung berantem hanya karena permasalahan kecil yang tak seharusnya di bahas dan di perpanjang," ucap Mona.
"Maaf, aku sedang tidak ingin melakukannya," tolak Tara secara halus.
"Tapi aku menginginkanya, mas. Kenapa setelah kita menikah kamu malah bersikap dingin padaku?"
"Apa kamu lupa perlakuan dulu padaku, mas? kamu selalu menggodaku, merayuku, dan selalu menginginkanku, padahal dulu hubungan kita cuma sebatas pacaran."
__ADS_1
"Kenapa di saat kita sudah sah, sikapmu tak seromantis dulu, mas?"
Serentetan keluh kesah dan pertanyaan yang di lontarkan Mona pada Tara.
"Kamu lupa perkataanmu tadi, tak usah memperpanjang masalah saat aku cerita tentang papahmu? Kamu harusnya juga begitu, tak usah memperpanjang, dan yang seharusnya tak jadi masalah malah di permasalahkan olehmu."
"Aku lagi nggak ingin melakukannya, tapi kamu mempermasalahkannya. Dengan mengatakan banyak hal."
Tara emosi dan berkata banyak hal pada Mona, seraya berlalu pergi begitu saja. Tanpa mereka sadari, semua pembicaraan terekam oleh CCTV karena mereka berbicara di ruang tamu.
Delta sengaja memasang CCTV di berbagai ruangan, kecuali kamar, tanpa sepengetahuan Tara dan Mona.
Tak hanya itu, Delta juga memasang CCTV di mobil Tara. Supaya Delta mengetahui kemanapun Tara pergi. Hal ini di lakukan Delta supaya dia bisa mengantisipasi jika Tara berbuat macam-macam di luar sana, Delta segera bisa bertindak tegas.
****
__ADS_1