
Tiara merasa heran, melihat sikap diamnya Toni.
"Mas-Mas Toni." Tiara memberanikan diri menepuk lengan, Toni.
"Eh iya, Tiara." Toni tersentak kaget dari lamunannya saat tangannya di tepuk oleh, Tiara.
"Mas, maaf. Dari tadi aku berkata panjang lebar, tapi Mas Toni malah bengong saja," Tiara menatap menyelidik pada, Toni.
"Maafkan aku, Tiara."
"Begini, temanku mau mengadakan pesta ulang tahun untuk anaknya. Dan dia memintaku untuk memesan kue padamu. Berikut snack kardusaanya bisa kan?"
"Kue ultah mintanya yang susun tiga. Snack kardusannya berisi tiga macam jenis kue tapi yang rasa berbeda."
"Snack kardusnya minta di buatkan seratus kardus, ini katanya kusus untuk di bagikan pada fakir miskin."
Untuk menutupi rasa gugupnya, Toni langsung saja berkata panjang lebar.
__ADS_1
"Baiklah, mas. Lantas anak yang berulang tahun umur berapa dan jenis kelamin apa? biar aku memberikan sample motif gambar kuenya," tanya Tiara sudah siap dengan pena dan bukunya untuk mencatat pesanannya.
"Anaknya benama, Cloe dan berumur lima tahun," ucap Toni singkat.
"Mas, ini ada brosur gambar motif ulang tahun untuk anak perempuan dari usia satu sampai enam tahun. Dan ini brosur macam-macam jenis kue yang ada di toko ini, supaya teman mas bisa memilih 3 macam."
"Kira-kira untuk satu loyang kue ini bisa menjadi dua puluh lima potong. Jadi jika seratus potong satu macam kue butuh empat loyang. Jadi untuk tiga macam kue butuh dus belas loyang."
Secara detail, Tiara menjelaskan rincian harga-harga kue walaupun di dalam brosur telah tertera harga dan rasa.
Toni bukannya memperhatikan penjelasan dari, Tiara. Tapi dia malah asik memperhatikan wajah ayu, Tiara. Selagi asik memperhatikan wajah ayunya, tiba-tiba ada suara ketukan pintu.
"Eh, Mas Toro. Bagaimana kabarnya, sudah seminggu nggak ada kabarnya?" Tiara menyalami Toro.
"Alhamdulilah baik, neng. Neng, sendiri bagaimana kabarnya?" sembari bertanya, Toro melirik ke arah Toni, begitu pun Toni juga melakukan hal yang sama.
"Oh, ini toh yang namanya, Toro. Masih cakepan aku, dia mah apa? beraninya suka sama, Tiara. Nggak serasi dech kalau dia bersanding dengan, Tiara," gerutu Toni di dalam hati.
__ADS_1
"Sepertinya pria ini tak suka melihat kedatanganku? apa dia juga menyukai, Tiara seperti halnya diriku?" gerutu Toro di dalam hati.
"Sebaiknya nanti saja, Tiara. Sepertinya kamu sedang sibuk ya?" Toro akan melangkah pergi, akan tetapi Tiara malah menahannya.
"Santai saja, Mas Toro. Perkenalkan ini, Mas Toni sama sepertimu langganan toko."
Saat Toro mengulurkan tangannya pada, Toni. Dia malah memalingkan wajahnya dan tak menerima uluran tangan, Toro yang ingin menyalaminya.
"Tiara, sebaiknya aku permisi dulu. Brosur ini aku bawa untuk aku tunjukan pada temanku terlebih dulu, secepatnya aku akan menghubungimu," Toni bangkit berdiri dan berlalu pergi dari ruang kerja, Tiara seraya melirik sinis pada, Toro.
"Bagaimana, Mas Toro? ada yang bisa aku bantu?"
Kemudian Toro menceritakan maksud kedatangannya pada, Tiara. Dia ingin mengadakan kerjasama dengannya. Yakni membuka cabang baru toko kue. Toro yang memberikan modalnya untuk membangun toko kue baru, sedangkan Tiara yang membuat ide-ide jenis kuenya.
"Wah, saya merasa terhormat di ajak bekerjasama dengan, Mas Toro. Tapi apa, mas sudah yakin untuk memilih saya sebagai mitra, mas?"
Di balik pintu, Toni terus saja mengintip dan mendengarkan pembicaraan antara, Toro dan Tiara.
__ADS_1
******