Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Rasa Penasaran Tara


__ADS_3

Tak terasa sudah sebulan pernikahan Keano dan Intan, serta Atin dan Rendy. Kini Atin dan Rendy dalam perjalanan pulang honeymoon. Sementara Intan sudah mulai berkutat di kantor expedisi.


Semua karyawan yang ada di kantor merasa senang karena Intan kembali memimpin. Apa lagi saat mengetahui Intan telah berpisah dengan Tara, dan menikah dengan Keano.


Semua memberi dukungan pada Intan dan Keano, apa lagi semua orang kantor mengetahui tabiat Tara. Walaupun di tutupi oleh Tara, tapi pada akhirnya semua tebongkar kebusukan Tara dengan sendirinya.


Berbeda situasi di rumah Mona, pada akhirnya Tara menyerah setelah begitu lama di sekap oleh Delta.


"Om, saya menyerah dan akan menikahi resmi, Mona," Tara tertunduk lesu.


"Baguslah kalau begitu, betapa bodoh kamu kenapa baru memutuskan sekarang. Kalau dari awal kamu nggak banyak alasan dan banyak tingkah, pasti kamu sudah aku lepaskan dan kamu bisa bebas beraktifitas," ucap Delta ketus.


"Baiklah, aku yang akan mengurus untuk pernikahanmu bersama Mona. Ku tinggal duduk manis saja, dan menyerahkan semua persyaratan yang di perlukan dari pihak Kantor Urusan Agama," pinta Delta.


"Baik, om. Tapi kebetulan surat-surat saya tertinggal di rumah mantan istri saya," ucap Tara.

__ADS_1


"Sekarang juga kamu ambil, tapi dengan ke dua anak buahku," perintah Delta.


Tara menuruti saja perintah dari Delta, dari pada dia terus saja di sekap. Dia lebih baik menyerah. Karena yang ada di pikirannya hanyalah urusan kantor expedisi.


Dengan di kawal dua body guard, Tara kembali ke rumah Tia. Akan tetapi dia terhenyak kaget saat mendapati rumahnya telah di jual oleh Tia.


"Maaf, pak. Sejak kapan rumah ini di jual oleh mantan istri saya?" Tara penasaran dan ingin tahu.


"Satu bulan lebih kalau nggak salah, dan dia sempat menitipkan ini. Dan ini ada beberapa surat penting yang tertinggal di dalam almari." Pemilik rumah barunya memberikan surat cerai Tara dan surat cerai dirinya bersama Tia.


"Loh, kok amplop coklat berisikan sertifikat perusahaan tidak ada?" Tara terus saja membolak balik map yang di berikan oleh pemilik baru rumah tersebut.


"Maaf, pak. Apakah tidak ada satu barang yang tertinggal lagi? karena masih ada satu berkas yang saya cari?" Tara bertanya agak tak enak hati.


"Cuma ada itu, untuk apa saya berbohong," pemilik rumah barunya agak tersinggung dengan perkataan Tara.

__ADS_1


"Kalau begitu saya permisi, pak. Mohon maaf jika telah mengganggu waktu, bapak." Tara berpamitan seraya menangkupkan kedua tangannya di dada.


"Pergilah dari rumahku, dan jangan pernah datang lagi!" pria tersebut mengusir Tara seraya melangkah masuk ke dalam rumah.


Tara melangkah pergi dari rumah tersebut dengan perasaan yang tak menentu memikirkan amplop coklatnya.


"Sebaiknya aku telpon, Tia. Mungkin kebawa olehnya, amplop coklat tersebut." Tara memencet nomor ponsel Tia.


Berulang kali Tara menelpon, tapi nomor ponsel tidak aktif.


"Kenapa nomor ponselnya nggak aktif? lalu aku harus bagaimana supaya tahu dimana amplop coklat itu berada?" batin Tara.


"Kenapa pula, sejak aku di sekap oleh Om Delta. Tidak ada notifikasi chat pesan dari pihak bank kalau ada saldo masuk ke rekeningku? seharusnya kan ada?" batin Tara kembali.


"Untuk sementara waktu aku menyelesaikan permasalahanku dengan Mona terlebih dulu," batin Tara.

__ADS_1


***


__ADS_2