
"Mah, aku nggak menyangka itu wanita bisa kejam sekali. Heran aku, mah." tukas Keano di sela mengemudinya.
"Ya begitulah, pah. Segala macam cara dia lakukan hanya karena rasa posesif pada suaminya. Padahal aku tak pernah se ujung kuku pun bermimpi untuk balikan dengan, Mas Reno."
"Perbuatan yang Mas Reno lakukan padaku sungguh sangat menyakitkan dan selamanya tidak akan aku lupakan."
"Aku memang telah memaafkan, tapi bukan berarti aku begitu mudahnya aku kembali pada orang yang telah menyakitiku."
Intan menyunggingkan senyuman pada Keano. Selagi asik bercengkrama, tiba-tiba Intan merasakan perutnya mual tak karuan.
"Hoex hoex "
"Mah, kamu kenapa? sakikah, atau jangan-jangan kamu hamil," Keano sumringah sekali.
"Entahlah, pah. Tapi akhir-akhir ini aku sering seperti ini." Intan menyandarkan kepalanya di jok mobil, seraya memijit pelipisnya sendiri.
"Sebaiknya kita ke dokter saja, supaya lebih jelas," tukas Keano.
__ADS_1
"Nggak usah, pah. Karena aku tidak terlambat datang bulan, jadi aku nggak hamil. Maafkan aku ya, pah. Sampai hari ini belum hamil juga," Intan tertunduk lesu.
"Nggak usah bersedih, mah. Kalau Allah sudah berkehendak pasti di beri keturunan dengan segera," Keano menyunggingkan senyum seraya mencolek pipi Intan.
Keano pria yang sangat baik dan dewasa, dia tak pernah menuntut banyak hal pada, Intan. Dia bisa memahami segala situasi.
Perjalanan sembari bercengkrama tak terasa telah sampai di kantor lagi. Tapi Keano merasa iba pada, Intan.
"Mah, sebaiknya istirahat saja di rumah. Mamah kan lagi kurang sehat, jangan di paksakan kerja. Toh papah kerja juga kan, jadi jangan khawatir masalah ekonomi," Keano dengan lembut mengusap surai hitam Intan.
Intan menyunggingkan senyum seraya menganggukkan kepalanya. Keano putar arah menuju ke rumah.
"Pah, turunkan aku. Lihatlah semua pelayan menatap ke arah kita, malu tahu," Intan pipinya merona merah.
"Peduli amat, emang gue pikirin," katanya seraya terkekeh.
Intan hanya bisa menghela napas panjang seraya menggelengkan kepalanya. Kini Keano telah membaringkan tubuh Intan di pembaringan.
__ADS_1
Perlahan, Keano melepaskan sepatu yang menempel di kaki Intan dan menyelimutinya. Keano memijit pelipis Intan secara lembut.
"Tuan Putri, ingin minum apakah? teh anget atau susu?"
"Nggak usah, pah. Aku akan tidur saja, pah."
"Ya sudah, tidurlah yang nyenyak. Tak usah memikirkan masalah kantor, nanti papah yang akan menghandlenya. Jika butuh sesuatu jangan sungkan memerintah para pelayan. Papah pergi dulu ya, lanjut kerja." Tak lupa Keano mencium kening Intan.
Intan pun mencium punggung tangan suaminya. Selepas kepergian Keano, Intan sangatlah bersyukur telah di pertemukan dengan Keano.
"Syukur alhamdulilah ya, Allah. Aku memiliki suami yang sangat perhatian dan setia."
Perlahan Intan memejamkan matanya, dan akhirnya tertidur pulas. Sementara saat ini Keano telah sampai di kantor, Intan.
Dia mengecek semua yang ada di kantor Intan dengan sangat teliti. Setelsh semua di rasa beres olehnya, barulah Keano berlalu pergi ke beberapa galeri ponsel miliknya.
Satu persatu di cek galeri ponselnya, seperti mengecek kantor Intan. Dia sangat teliti pula mengecek segala sesuatu yang berhubungan dengan galeri ponselnya.
__ADS_1
Kekayaan dan ketampanannya tak membuatnya lantas besar kepala atau sombong. Keano terkenal sebagai majikan yang ramah dan baik hati.
******