Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Bujukan Kevin


__ADS_3

Baik Keano maupun Kevin sudah terbiasa sarapan di restoran Intan. Apa lagi Intan telah menganggap keduanya layaknya saudara. Begitu pula dengan Keano dan Kevin. Entah kenapa mereka juga seperti sudah candu makan masakan restoran milik Intan.


"Mas, mau makan apa? ini menu restoran hari ini." Intan menyodorkan daftar menu masakan dan di dalamnya juga ada daftar minumannya pula.


Sejenak Keano membaca semua menu yang ada di daftar tersebut. Tak berselang lama, Keano telah memilih menu masakan dan minuman masing-masing untuk porsi dua orang. Karena Kevin juga sedang dalam perjalanan ke restoran.


Setiap Keano datang, pasti para pelayan tak berkedip dan kadang mereka tak ingin melewatkan untuk memandang Keano sampai rela menunda pekerjaan mereka.


Wajah Keano memang tampan bak aktor korea, akan tetapi Intan sama sekali tidak bergeming ataupun tergoda olehnya. Selama ini dia dekat dengannya karena Kevin telah menganggap dirinya layaknya ibunya.


"Mamah..." teriakan lantang dari seorang pemuda yang sedang beranjak dewasa.


"Sayang, kata papahmu kamu sedang ada di kampus? kok sudah ada di sini?" Intan terhenyak kaget saat anak angkatnya tiba-tiba mencium kedua pipinya.

__ADS_1


Kevin datang dari arah belakang, sehingga Intan tak mengetahui akan kedatangan anak ABG ini.


"Surprise beneran kan, mah. Urusan di kampus sudah kelar, papah kasih tahu kalau mamah ada di sini. Yah, aku otomati tancap gas kemari," Kevin memperagakan bermotornya seraya terkekeh.


"Lain kali nggak boleh, bahaya jika mengebut. Mengendara yang wajar saja, Kevin," Intan menggelengkan kepala.


Tak berapa lama, pesanan Keano telah tersaji di meja.


"Mamah, nggak ikut sarapan? kok dede Adam nggak di bawa?" tanya Kevin seraya menyantap makanan di meja.


"Mamah sudah sarapan di rumah, dede Adam masih kecil jadi ya di rumah sama nenek," jawab Intan menyunggingkan senyum.


"Sudah makan dulu, biar nggak kesedak. Kalau sudah selesai barulah jadi wartawan lagi," canda Intan terkekeh.

__ADS_1


Kevin mengerucutkan bibirnya saat Intan bercanda padanya, namun setelah itu dia tersenyum pula.


Hanya beberapa menit saja, kedua telah selesai menyantap sarapan yang ada di meja tanpa ada sisa sedikitpun. Seketika itu juga habis pula minumannya.


Sejenak mereka bertiga bercengkrama seraya sesekali bercanda ria. Mereka sangat kompak layakna satu keluarga utuh. Di luar dugaan, Kevin berkata sesuatu yang membuat Keano dan Intan sejenak terdiam.


"Mah, pah. Kenapa kalian nggak menikah saja? supaya hidupku lebih bahagia, punya orang tua utuh. Aku yakin mamah di surga nggak akan marah dan pasti mengijinkan jika papah menikah lagi," Kevin menatap sendu pada Intan dan Keano secara bergantian.


Baik Intan maupun Keano hanya diam membisu, mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing.


"Mah, pah. Kenapa kalian diam saja? aku tahu kok, jika papah ada hati dengan Mamah Intan. Tapi mungkin mamah yang nggak ada rasa apapun ke papahku," Kevin tertunduk lesu.


"Mah, aku tahu mamah pernah dua kali di kecewakan. Tapi aku yakin, papahku itu bukan tipe pria yang suka selingkuh sana sini ataupun berbohong. Buktinya, sejak mamahku meninggal, papah masih betah dengan kesendiriannya. Tak pernah sekalipun dekat dengan wanita. Pernah sih, beberapa kali ada wanita yang mendekati papah, tapi papah cuek bebek," Kevin berusaha membujuk Intan supaya bersedia menjadi ibu sambungnya.

__ADS_1


__ADS_2