Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Meminta Bantuan


__ADS_3

Mita, Yogi, dan Atin berlari kecil menuju kamar Intan. Mereka terperanga dan membola melihat Intan sedang menangis di tengah malam. Ketiganya saling berpandangan satu sama lain, seolah saling bertanya. Mereka segera menghampiri Intan untuk mengetahui apa penyebab Intan menangis di tengah malam.


"Intan, kamu kenapa?" Atin menghampiri Intan seraya merengkuh dalam pelukannya.


Intan belum bisa berkata, dia terus saja menangis membuat keluarganya semakin bingung dan tak mengerti akan apa maksud dari tangisan Intan.


"Intan, apa kamu bermimpi yang menyeramkan?" Bu Mita tambah penasaran.


"Ceritalah, nak? apa masalah yang sedang kamu hadapi sekarang ini?" Bapak Yogi ikut bertanya.


"Tiga restoranku, semuanya terbakar secara bersamaan. Dan sampai detik ini belum jelas apa penyebabnya. Kalau cuma satu restoran, aku tidak begitu sedih. Ini ketiganya dalam waktu yang bersamaan, hanya selisih beberapa menit saja," tukas Intan terus saja berlinang air mata.


"Astaghfiruloh aladzim." Serentak ketiganya beristighfar.


"Intan, kamu jangan panik dulu. Yakinlah, semua masalah akan ada jalan keluarnya. Dan yakini pula, Allah tidak akan menguji manusia di luar batas kemampuannya," Atin mencoba menghibur Intan seraya mempererat pelukannya dan mengusap surai hitam Intan.


Orang tua Intan merasa iba, terutama Bu Mita. Karena dia sangat mengetahui bagaimana susah payahnya Intan membangun ke tiga restoran tersebut. Dan bagaimana kehidupan rumah tangganya, yang selalu mendapat penghianatan.

__ADS_1


Intan terus saja menangis, saat ini dia tak bisa berpikir apapun. Atin tak bisa menyelesaikan urusan ini sendirian untuk mengecek ke tiga restorannya sekaligus.


Atin memutuskan untuk menelpon Keano, meminta bantuannya. Jam dua dini hari, Atin menelpon Keano untuk membantunya mengecek ketiga restoran Intan yang terbakar secara serentak.


πŸ“±"Assalamu alaikum, Keano."


πŸ“±"Walaikum salam wr wb. Jam berapa ini telpon?"


πŸ“±"Maaf, jika mengganggu waktu tidurmu. Tapi ini mengenai, Intan. Aku tidak bisa menyelesaikannya sendiri."


πŸ“±"Memangnya apa yang terjadi pada, Intan?"


πŸ“±"Ya sudah, biar aku dan Kevin yang akan mengecek restorannya. Kamu jaga saja, Intan. Usahakan supaya dia jangan terus berlarut dalam kesedihan."


πŸ“±"Baiklah, terima kasih ya, Keano. Assalamu alaikum wr wb."


πŸ“±"Walaikum salam wr wb."

__ADS_1


Kedua sama-sama menutup panggilan telpon. Keano lekas bangkit dari pembaringan, dia bergegas ke kamar mandi dulu untul sekedar cuci muka dan bergosok gigi.


Setelah itu barulah ke kamar Kevin.


"Nak, bangunlah. Temani papah ke restoran, Mamah Intan." Keano mengguncang tubuh Kevin.


"Pah, jam berapa ini? masa malam-malam ajak aku ke restoran, Mamah Intan? papah pasti mimpi kan, sudah tidur lagi sana." ucap Kevin dengan mata masih terpejam.


Dia hanya membuka mata untuk melihat jam dinding, setelah itu dia memejamkan matanya kembali.


"Nak, cepat bangun! Temani papah mengecek tiga restoran, Mamah Intan. Ketiganya terbakar secara bersamaan." Keano kembali mengguncang tubuh Kevin.


"Whats! yang benar saja, pah!" Sontak Kevin langsung terduduk, matanya membola.


Dia sudah tidak mengantuk lagi mendengar penuturan Keano tentang terbakarnya tiga restoran milik Intan.


"Ini memang benar, baru saja Tante Atin menelpon papah. Meminta bantuan supaya papah mengecek ke lokasi, apa yang menyebabkan restoran terbakar," tukas Keano menjelaskan pada Kevin.

__ADS_1


Dengan gerak cepat, Kevin berlari ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi. Setelah itu Kevin dan Keano berjalan berdampingan menuju ke garasi mobil. Lekas Keano yang mengemudikan mobilnya arah ke restoran cabang yang pertama terlebih dulu.


*****


__ADS_2