
Laras sangat bingung saat mendengarnya. Dia ingin percaya pada Reno atau pada Saras. Dia masih belum percaya, jika dirinya bukan anak kandung dari Saras.
"Laras, percayalah sama mami. Apa yang mami ucapkan benar adanya," Saras mencoba meyakinkan Laras.
"Dia dusta, papi yang benar. Pecaya saja sama papi," Reno mencoba menyakinkan Laras.
"Entahlah, yang jelas aku kecewa dengan kalian berdua! kenapa menyembunyikan hal sepenting ini!" Laras berkata ketus pada orang tuanya.
"Aku akan mencari tahu sendiri tentang kebenarannya, karena kalian bicaranya berbeda-beda. Membuatku ragu untuk percaya salah satu diantara kalian," Laras sangat kecewa.
"Laras, memang apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Saras curiga.
"Mami nggak perlu tahu, intinya aku pasti bisa menemukan jawaban dari rasa penasaranku," Laras membalikkan badan masuk ruang rawat anaknya.
Sementara Saras terus saja panik dan gelisah setelah mendengar ucapan dari Laras. Dia menyalahkan Reno akan apa yang telah terjadi.
__ADS_1
"Mas, ini semua gara-gara kamu! kalau kamu nggak membuat masalah, nggak akan Laras jadi mengetahui semua ini!" Saras menatap sinis pada Reno.
"Sikapmu yang seperti ini, yang membuatku muak denganmu! kamu yang memulai tapi malah menyalahkanku!" Reno melotot seraya berlalu pergi begitu saja.
"Mas, kamu mau kemana?" Saras berteriak.
Namun Reno terus saja berjalan pergi tak menghiraukan panggilan Saras.
"Aduh, bagaimana kalau dia ke restoran Intan? aku mau menyusul tapi nggak tega jika Laras sendiri," batin Saras seraya menghela napas panjang.
Sementara Laras terus saja murung, setelah mengetahui kenyataan bahwa dirinya bukan anak Saras. Dia ingin mencari keberadaan ibu kandungnya tanpa sepengetahuan Saras dan Reno. Tapi terkendala dengan adanya Rizky.
"Nak, kamu kenapa? apa kamu masih memikirkan perkataan mami dan papi? tolong percaya sama mami, walaupun mami bukan ibu kandungmu, tapi mami sangat menyayangimu," Saras meraih tangan Laras dalam genggamannya.
"Sudahlah, mi. Nggak usah membahas itu terus. Aku lagi ingin fokus merawat Rizky." Laras menepis genggaman tangan Saras.
__ADS_1
"Baiklah, maafkan mami," Saras mencoba tersenyum.
Saat ini Reno terus mencoba menelpon Intan.
"Padahal ini waktu yang tepat untuk memberitahu Intan tentang Laras, karena kebetulan Laras telah tahu semua." Batin Reno seraya terus memencet nomor ponsel Intan.
Beberapa kali telpon tak juga nomor aktif, membuat Reno sedikit geram. Dia memutuskan untuk mengirim notifikasi chat pesan ke nomor ponsel Intan.
Reno mengirim dua kali pesan, yang pertama dia memberitahukan permasalahan tentang restoran yang di fitnah Saras. Untuk kedua, Reno memberitahu pada Intan jika saat ini Laras telah mengetahui semuanya.
Reno berinisiatif ingin mengajak Intan bertemu. Dengan sangat sabar Reno menunggu balasan dari Intan.
Sementara saat ini Intan sedang asik duduk termenung di balkon menikmati indahnya sore hari. Dia memandang lalu lalang kendaraan jalan raya dari atas balkon kamarnya.
"Oh iya, dari tadi ponselku di isi daya batre. Sepertinya sudah penuh daya batrenya." Intan melangkah ke kamar untuk mengambil ponselnya.
__ADS_1
Saat memegang ponselnya dan mengaktifkannya, Intan mengerutkan kening karena banyak panggilan tak terjawab dan notifikasi chat pesan dari nomor yang tak di kenal.
******