Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Kemarahan Tara


__ADS_3

Saat Bu Ita telah sampai di ruang tamu, Tara mencoba menyalaminya tapi Bu Ita sama sekali tak menanggapinya.


"Sial, ini mertua tak tahu diri! jika aku tahu akan seperti ini, untuk apa membiayai rumah sakitnya. Menyesal!" gerutu Tara mendengus kesal.


Melihat tingkah mertuanya yang tak mau menerima jabatan tangannya, Tara lekas melangkah menuju ke kamarnya.


Tia bisa merasakan akan hal itu, dia lekas membawa ibunya ke kamarnya dan membaringkannya ke kasur. Setelah itu dia melangkah menuju ke kamarnya menemui suaminya.


"Mas Tara, maafkan sikap ibuku ya." Tia menghampiri Tara seraya menggenggam kedua tangannya.


"Ibumu itu memang manusia tak tahu di untung, aku benar-benar kecewa. Jika akan seperti ini, aku nggak akan sudi membuang banyak uang hanya untuk membiayai rumah sakitnya!" Tara mendengus kesal seraya menggebrag pembaringan.


"Mas, kok kamu berkata seperti itu? bagaimanapun dia sudah menjadi ibumu. Lagipula ibu masuk rumah sakit juga karena mendengar semua pembicaraan kita waktu itu," Tia mengerucutkan bibirnya.


"Dia bukan ibuku melainkan ibumu, sudah untung aku masih mau mengurusnya. Jika menantu yang lain, belum tentu mau. Jadi kamu menyalahkan aku atas apa yang terjadi pasa ibumu? kamu juga nggak punya otak! bukannya mengucapkwan terma kasih mah memojokkanku!" Tara keluar dari kamar begitu saja.

__ADS_1


"Lebih baik aku mengajak Mona bersenang-senang saja. Dari pada aku tambah stres karena di rumah saja." Tara memencet nomor ponsel Mona, dia mengirim notifikasi chat pesan pada Mona, untuk menunggunya di balik pintu gerbang.


Mona lekas ke kamar Tia, dia minta ijin ingin pergi sebentar ke luar karena ingin membeli sesuatu. Tia sama sekali tidak merasa curiga dengan gelagat Mona. Dia mengijinkan Mona keluar begitu saja.


Setelah mendapat ijin dari Tia, Mona lekas keluar dari pintu gerbang. Dia sengaja menunggu Tara dari jarak lumayan jauh dari pintu gerbang.


Melihat Mona sudah keluar, Tara bergegas menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya meninggalkan rumahnya.


Tara menghampiri Mona yang sedang menunggu tak jauh dari pintu gerbang. Setelah Mona masuk dalam mobil, Tara melajukannya begitu saja karena belum tahu mau kemana.


"Kalau kita menginap bagaimana dengan Dita, mas?" Monalisa mengernyitkan alisnya.


"Kan ada Tia, nggak usah di buat pusing. Lagipula Tia selama ini tidak mengurus Dita, melainkan kamu yang mengurusnya," tukas Tara.


"Jika istrimu curiga bagaimana?" kembali lagi Monalisa bertanya.

__ADS_1


"Pintar-pintarnya kita saja dalam memberi alasan pada Tia," Tara mulai bosan dengan pertanyaan dari Tia.


"Sudahlah, kalau kamu bertanya terus mending kita batalkan saja perginya," Tara mengerucutkan bibirnya.


"Ya maaf, masa begitu saja pake acara ngambek segala?" Mona menangkupkan kedua tangannya di dada seraya menatap sendu Tara.


Keduanya terdiam tak bertegur sapa, hingga sampai ke sebuah tempat yang udaranya sejuk dingin. Tara memutuskan mengajak Mona ke puncak.


Kini mereka sudah tak saling diam, tapi menikmati indahnya malam di puncak.


Waktu berjalan begitu cepatnya, tak terasa sudah tengah malam. Tia mulai gelisah karena suaminya belum pulang juga.


"Mas Tara, kemana sih? sudah jam dua belas malam tapi kok belum pulang juga? Mona juga, katanya cuma keluar sebentar malah sampai sekarang belum pulang juga," gerutu Tia gelisah memikirkan Tara dan Tia.


******

__ADS_1


__ADS_2