
Intan sangat terganggu dengan kedatangan Reno dan Saras.
"Tara kok lama sekali, katanya cuma pulang untuk mandi dan akan kemari lagi." Batin Intan.
Intan merasa nggak nyaman karena ada Saras dan Reno. Intan mencoba mengusir kembali Saras dan Reno.
"Aku mohon, kalian pergilah dari sini. Karena aku ingin istirahat, dengan adanya kalian di sini sangat mengganggu istirahatku." Usirnya pada Saras dan Reno.
"Aku nggak akan pergi, sebelum suamimu datang kemari. Karena aku nggak akan tega jika kamu sendirian." Reno menatap sendu pada Intan.
Namun kembali lagi Intan memalingkan wajahnya. Justru Saras yang sangat emosi saat mendengar perkataan dari Reno.
"Mas, kamu sadar nggak? apa yang kamu ucapkan barusan itu sangat menyakiti hatiku!" Saras memalingkan wajah Reno supaya menatap dirinya.
"Aku sangat sadar, jika kamu merasa tersakiti lebih baik kamu pulang." Reno menatap tajam saras.
"Mas, kamu kan tahu aku sedang sakit. Bukannya kamu bersikap halus padaku, dan memperhatikanku, malah kamu seperti ini padaku." Saras mengguncang lengan Reno dengan manjanya.
__ADS_1
"Nggak usah manja kamu, bukannya tadi saat di periksa kata dokter, kamu itu cuma pusing biasa. Nggak ada penyakit yang serius." Reno berkata lantang seraya menepiskan cekalan tangan Saras.
Intan sudah jengah melihat pertengkaran antara Saras dan Reno, dia memutuskan memanggil perawat dengan memencet tombol yang ada tepat di tembok di atas kepalanya.
Tak berapa lama, datanglah perawat ke ruang rawat Intan.
"Maaf, Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?" sapa perawat seraya tersenyum ramah.
"Sus, tolong usir mereka berdua. Karena sangat mengganggu kenyamanan saya, tadi saya sudah mengusir mereka tapi tidak juga pergi. Dan tolong pastikan, supaya besok jangan kemari lagi." Ucap Intan pada perawat.
"Baik, nyonya."
"Siapa mereka, kok keluar dari ruang rawat Intan." Lekas Tara masuk dalam ruangan dan menghampiri Intan.
"Sayang, barusan aku sempat melihat ada pria dan wanita keluar dari sini? siapa mereka, sayang?" tanya Tara penasaran seraya mengusap lengan Intan.
"Kenapa tadi kamu nggak tanya langsung ke mereka?" jawab Intan ketus.
__ADS_1
"Sayang, kok jawabnya ketus begitu. Aku minta maaf rada lama, karena..
Belum selesai Tara berucap, Intan telah menyela.
"Karena mampir dulu ke rumah istri tua, iya kan?" Sindir Intan ketus seraya tersenyum sinis.
"Sayang, janganlah marah terus. Ingat janin yang ada di kandunganmu." Tara mencoba menasehati Intan.
"Sayang, aku minta kontrol emosimu seperti saran dari dokter." Kembali lagi Tara menasehati Intan.
"Bagaimana aku nggak emosi, gara-gara kamu kelamaan datang. Mantan suamiku kemari bersama istrinya." Intan berkata lantang seraya memalingkan wajahnya.
"Oh, jadi orang yang sempat aku lihat adalah mantan suami yang membawa pergi anakmu? bagaimana dia bisa tahu kamu ada di sini?" Tara mengernyitkan alis.
"Entahlah, katanya kebetulan istrinya habis periksa di sini. Nggak sengaja mantanku bertemu ibuku di jalan." Jawab Intan menghela napas panjang.
Sejenak Intan terdiam, tak berkata lagi. Pikirannya mulai traveling ke masa lalu, dimana dirinya pasca melahirkan dan anaknya di bawa pergi oleh mantan suami dan madunya.
__ADS_1
********