
Mendengar celotehan Keano, seketika jantung Intan bergemuruh. Selama ini dia tak menyadari jika Keano ternyata menyimpan rasa padanya.
Intan bingung harus berkata apa pada Keano, sementara luka hatinya masih terasa sampai detik ini. Dia benar-benar trauma dengan yang namanya pernikahan.
Tapi Adam juga butuh sosok ayah. Kelak jika Adam dewasa, Intan tidak akan memberitahu padanya tentang ayah kandungnya. Secara dia harus menikah lagi.
"Intan, jika kamu bersedia menikah denganku. Aku akan menganggap Adam seperti anak kandungku sendiri."
"Kamu juga bisa lepas sepenuhnya dari Tara. Karena aku tahu, sampai saat ini Tara masih berharap bisa kembali padamu."
"Intan, aku siap menjadi papah sambung Adam. Lagi pula dia masih bayi, kelak tidak akan tahu jika aku ini papah sambungnya."
"Jika kamu telah menikah lagi, Tara tidak akan berani mengusik kehidupanmu. Dan aku juga bisa lebih leluasa menjagamu juga Adam."
Keano terus saja berkata untuk menyakinkan Intan. Sementara Intan benar-benar masih trauma dengan yang namanya pernikahan.
__ADS_1
"Mas, aku mohon maaf sebelumnya. Bukan aku menolakmu juga bukan menerimamu. Untuk saat ini aku belum memikirkan untuk menikah lagi. Jika Allah telah berkehendak, pasti kita akan bersama. Tolong maafkan aku." Intan menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Mah, kalau Adam mau bikin akte bagaimana? kata mamah nggak ingin si brengsek Tara ada di akte Adam?" tiba-tiba Kevin berkata.
"Nak, biarkan mamah berpikir terlebih dulu. Doakan saja biar papah dan mamah berjodoh. Pernikahan itu sakral, mamah nggak ingin mengalami kegagalan kembali."
"Lagi pula mamah ini pernah menikah dua kali, mamah nggak ingin kelak papahmu menyesal menikahi seorang janda dua kali."
"Biarlah mamah berpikir ulang, begitu pula papahmu. Supaya papahmu mematangkan dulu hatinya untuk memilih siapa yang akan menjadi pendamping hidupnya kelak."
"Apa yang Mamah Intan katakan ada benarnya, Kevin. Biarkan mamahmu memikirkan hal ini. Papah juga akan setia menunggu sampai Mamah Intan bebar-benar berkata iya dan siap menikah dengan papah," Keano memberi pengertian supaya Kevin tidak terus membujuk Intan.
"Ya sudahlah, tapi aku akan terus mendoakan supaya kalian berjodoh," Kevin menghela napas panjang.
Kini dia tidak berkata panjang lebar lagi untuk meyakinkan Intan supaya menerima Keano secepatnya.
__ADS_1
Setelah percakapan yang cukup lama, akhirnya mereka mengakhiri dengan canda tawa. Dan Intan berpamitan pada Keano dan Kevin, karena dia akan mengecek ke dua restorannya yang lain.
"Mah, aku ikut ya," Kevin merangkul Intan seraya menaik turunkan alisnya.
"Siap, bodyguard." Intan mengangkat tangan kanannya laksana orang sedang hormat pada atasannya.
Kevin terkekeh melihat tingkah Intan, begitu pula dengan Keano. Kevin merangkul Intan melangkah menuju mobil Intan.
Sedangkan motor gedenya di letakkan di dalam restoran, di tempat yang aman. Keano melanjutkan perjalannya menuju ke konter ponsel miliknya di pusat kota.
Seperti itulah hari-hari ketiga orang ini. Baik Keano maupun Kevin tidak lantas kecewa akan keputusan Intan yang belum menerima Keano untuk menjadi pendamping hidupnya.
Ayah dan bapak ini telah paham akan apa yang saat ini di rasakan oleh Intan. Karena mereka mengetahui semua yang terjadi pada Intan.
******
__ADS_1