
Atin sangat tidak suka dengan sikap Rindy yang menurutnya sangatlah kasar. Atin mengajak Laras dan Risky untuk sementara di apartement Intan yang saat ini di tempati oleh Bu Mita dan Pak Yogi. Sementara Kevin telah kembali pagi-pagi sekali karena harus mengurus kuliahnya yang baru saja mulai semester awal, sehingga dia tak bisa menemani Laras lebih lama.
"Laras, sebenarnya apa yang terjadi? kok sampai, Reno di rumah sakit dan tertusuk?" tanya Atin.
Laras menceritakan semuanya dari awal mula terjadinya penusukan.
"Kok aneh ya, seperti sudah di rencanakan. Bagaimana para perampok itu mengetahui jika Reno mendapatkan uang banyak."
"Mas Rendy, kamu merasa ada yang janggal nggak setelah mendengar cerita dari Laras?" tanya Atin menoleh pada suaminya yang sedang fokus mengemudi.
"Janggal bangetlah, sayang. Dari mana mereka tahu jika tas koper yang sedang di pegang oleh Reno isinya uang. Tanpa melihatnya dulu, kok langsung saja merebutnya? berarti kan perampok ini telah paham."
"Nggak mungkin semua serba kebetulan, setahuku jika rampok itu memang belum tahu isi koper itu. Pasti dia mengacak-acak rumah terlebih dulu untuk mencari harta benda yang mereka inginkan."
__ADS_1
Otak Atin dan Rendy memang cerdas, mereka susah bisa menebak. Jika ini bukan murni perampokan tapi semua memang sudah di rencanakan terlebih dulu.
"Berarti menurut, pakde-bude. Semua ini ada hubungannya dengan orang yang membeli ruko aku?" Laras menautkan alisnya tanda ragu.
"Ya, Laras. Kami curiga hanya pada orang yang telah membeli rukomu itu. Tapi yang pakde pertanyakan, untuk apa pula dia menusuk Reno dan mengambil uang itu? Padahal sudah untuk membelinya kenapa di ambil lagi?"
"Mas, kan bisa jadi supaya dia tak rugi. Selain mendapat ruko, uang dia kembali. Bisa juga seperti itu, mas. Karena pada saat itu langsung kan yang di ambil kopernya?" tukas Atin.
"Aku sedang ada di kamar menidurkan, Risky. Dan tahu-tahu, papi berteriak minta tolong. Pada saat aku keluar, sudah tidak ada siapa-siapa hanya papi yang tergolek lemas."
Perkataan Laras di benarkan oleh Rendy.
"Benar juga kata, Laras. Kita tidak memiliki bukti yang kuat untuk bisa menangkap siapa tadi? yang membeli ruko milik, Laras. Kecuali ada CCTV di rumah, Laras. Atau sidik jari di pisau yang menancap di perut, Reno."
__ADS_1
"Tapi sampai detik ini, baik ayah atau ibu belum memberi kabar sama sekali. Aku juga masih penasaran dengan kondisi, papi," Laras menitikkan air matanya.
"Sabar, Laras. Mungkin ibu dan ayahmu sedang sibuk di rumah sakit, karena jika di kasuskan prosesnya panjang ini dan itu. Jadi nggak segampang membalikkan telapak tangan."
"Pastinya di mintai keterangan yang macam-macam. Bisa jadi, ponsel sedang mati karena daya batre habia juga bisa. Positif tinking saja, papimu nggak apa-apa."
Atin mencoba menghibur ponakannya yang terus saja gelisah karena belum ada kabar dari Intan dan Keano.
Selagi di nasehati oleh Atin, ponsel Laras bergetar tanda ada notifikasi chat pesan masuk. Laras segera membuka notifikasi chat pesan yang ternyata dari Intan.
[Asalamu alaikum, nak. Maafkan ibu baru menghubungimu, karena kami sempat di mintai keterangan oleh aparat polisi. Dan sempat juga pisau di selidiki, tapi tak di temukan sidik jari. Juga kondisi papimu sempat menjadi perhatian polisi. Tapi papimu sampai sekarang belum juga ssdarkan diri, padahal dokter bilang kondisinya sudah stabil tidak usah di khawatirkan.]
[Ibu akan pulang, nanti ibu menemuimu ya? kamu tinggal dulu di rumah nenek dan kakek.]
__ADS_1