
Mendengar penuturan dari Tara, Laras merasa bahagia. Karena Tara bersedia berkorban demi dia.
"Mas, kalau kita pindah dari sini, bagaimana dengan kerjaaanmu?" Laras merasa tak yakin.
"Kamu nggak usah khawatir, aku bisa mengaturnya. Paling utama aku ingin membuatmu bahagia, karena selama ini aku tak pernah membuatmu bahagia, Tara pintar berkata.
"Mas, jangan bicara seperti itu. Selama ini aku sudah merasa bahagia bersamamu," Laras tiba-tiba memeluk Tara.
Tara membalas pelukan Laras dengan mengusap surai hitam Laras.
"Rencana kapan kita akan pindah ke luar kota, mas?" Laras meminta persetujuan.
"Lebih cepat lebih baik," jawab Tara sekenanya.
"Berarti kita berpamitan dulu dengan mami dan papi?" Laras mengernyitkan alisnya.
__ADS_1
"Nggak perlu, kalau mamimu tahu kamu pindah di luar kota dimana di kota tersebut ada ibu kandungmu, nanti mamimu bisa menyakiti ibu kandungmu lagi.
"Semantara kita fokus pindah dulu, mengenai orang tuamu biar menjadi urusanku." Tara mencoba meyakinkan.
"Jika kita pindah ke luar kota, berarti untuk sementara kita tinggal di kontrakan?" tanya Laras mengernyitkan alis.
"Ya, nggak apa-apa kan? sembari jalan sembari aku mencari sebuah perumahan yang nyaman untuk kita," Tara menyunggingkan senyum.
"Baiklah, mas. Aku menurut saja denganmu, aku percaya semua demi kebaikan kita bersama," Laras menyunggingkan senyum.
"Lega rasanya, usahaku berjalan lancar. Dengan begini hubungan rumah tanggaku bersama ke dua istriku akan harmonis selamanya walaupun aku harus merasa repot karena harus bolak balik dari luar kota kemari," batin Tara.
Tara menyewa banyak orang untuk membantu mengemasi semua barang yang si butuhkan. Supaya lekas terselesaikan.
Hingga malam menjelang, mereka sedang dalam perjalanan ke luar kota. Hingg tengah malam mereka telah sampai di sebuah rumah yang sederhana. Rumah kontrakan yang telah di pesan Tara beberapa jam yang lalu.
__ADS_1
Tara sengaja bekerjasama dengan temannya yang ada di luar kota, untuk membantu melancarkan rencananya. Dari menyiapkan kontrakan dan menyiapkan seorang wanita paruh baha untuk menyamar menjadi ibu kandung dari Laras.
Setelah sampai, Tara lekas menata barang-barang di dalam kontrakan.
"Sayang, kamu istirahat saja bersama Risky. Biar aku yang merapikan semuanya." Saran Tara pada Laras.
"Kasihan kamu, mas. Nanti kecapean," Laras menatap sendu Tara.
"Sudahlah, kamu nggak perlu khawatir. Aku kan lelaki jadi tenagaku lebih kuat darimu. Menurutlah pada suamimu, dan jangan pernah membantah sama sekali," Tara mulai sedikit geram, dia menahan emosinya.
Laras mulai peka dengan perubahan sikap yang ada pada Tara. Hingga dia menuruti kemauan Tara. Dia tidur di samping dimana saat ini Risky tertidur pulas.
Karena rasa cape yang teramat sangat, Laraspun tertidur pulas di samping anaknya. Tara menghampiri Laras, untuk mengecek apakah Laras memang benar-benar telah tertidur.
Setelah memastikan jika Laras telah tertidur pulas, dia pun segera meraih tas milik Laras. Dia mencari ponsel Laras. Dia melakukan hal yang sama pada ponsel Laras, seperti yang dia lakukan pada ponsel Intan. Kartu ponsel di patahkan dan lekas di buang. Sementara ponsel di simpan di dalam bagasi mobil, seperti yang Tara lakukan pada ponsel milik Intan.
__ADS_1
"Sempurna, dengan begini Intan dan Laras sudah tidak bisa saling komunikasi. Dan mertuaku juga begitu," Tara menyeringai licik dan puas atas hasil kerjanya sendiri.
*********