Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Reno Mengamuk


__ADS_3

Setelah tugasnya selesai, Tarapun membaringkan badannya di sofa karena ranjangnya tak seluas saat di rumahnya dulu.


Hingga pagi menjelang, Laras telah terbangun. Sedangkan Tara masih tertidur pulas di sofa. Laras mencari ponselnya, untuk memberi kabar pada Reno, namun dia tak kunjung menemukannya.


Hingga dia merasa lelah dan cape sendiri, dia memutuskan untuk bertanya pada Tara.


Saat dia akan membangunkan Tara, dia merasa sungkan.


"Bangunkan nggak ya? nanti marah ya, tapi aku ingin menghubungi papi." Laras mondar mandir di depan sofa di mana saat ini Tara sedang tertidur nyenyak.


Akhirnya Laras memutuskan membangunkan Tara, karena dia gelisah terus memikirkan ponselnya.


"Mas Tara, bangun." Laras mengguncang lengan Tara secara perlahan.


"Ada apa sih?" Tara mengerjapkan matanya namun terpejam kembali.


"Mas, kamu melihat ponselku nggak?" Laras kembali mengguncang lengan Tara.


"Kamu yang punya ponsel, kenapa malah tanya ke aku?" Tara berucap dengan mata masih terpejam.


"Siapa tahu, Mas Tara. Melihat ponselku, karena seingatku aku taruh di tas, tapi kok nggak ada," Laras mencoba menjelaskan pada Tara.


"Ya sudah, ikhlaskan saja kalau hilang. Nanti siang aku belikan lagi, nggak usah di bikin ruwet." Tara akhirnya bangun karena ingat pada Intan.


"Pasti Intan marah lagi, karena aku tak memberi kabar padanya," batin Tara seraya menggaruk kepalanya.


Sementara di rumah Reno, dia sedang marah pada Saras. Semua barang keramik kesayangan Saras di bantingnya, hingga pecah berserakan di lantai.


"Aduh, Mas Reno! Kenapa kamu merusak semua barang kesayanganku? ini semua mahal dan belinya pake uang bukan daun!" Saras melotot pada Reno.


"Pikir saja sendiri, apa kesalahanmu padaku!" Reno terus saja melempar semua barang ke sayangan Saras.


"Mas, sudah hentikan! sudah cukup kamu merusak semua barangku!" Saras menghalangi Reno untuk melempar kembali guci yang harganya puluhan juta.


Renopun mengurungkan niatny, namun dia masih sangat kesal. Saras mencoba meluluhkan hati Reno dengan meminta maaf.

__ADS_1


"Mas, maafkan aku jika ada kesalahanku. Tapi tolong ceritakan apa salahku padamu, sehingga kamu semurka ini padaku. Padahal sebelumnya, semarah apapun kamu tak pernah bersikap seperti ini." Saras menatap Reno sendu seraya menangkupkan kedua tangannya di dada.


"Masa kamu nggak tahu kesalahanmu sendiri! kamu telah lancang membuka ponselku, dan kamu juga membalas chat pesan dari Laras tanpa sepengetahuanku, setelah itu kamu menghapusnya! bukan hanya itu, kamu juga telah menghapus semua foto Intan yang ada di ponselku!" Reno melotot seraya berkacak pinggang.


"Oh, jadi kamu murka hanya karena itu?" Saras melirik sinis pada Reno.


"Mas, semua wanita jika di posisi aku juga akan melakukan hal yang sama, jika suaminya masih menyimpan foto mantan istrinya," Saras mendengus kesal.


"Tidak semua, hanya kamu saja yang terlalu cemburu. Dan kamu saja yang terlalu egois, di mana saja nggak ada yang namanya mantan ibu atau mantan anak. Jadi sekuat apapun kamu memisahkan Laras dari Intan. Tetaplah dia ibu kandungnya." Reno berkata lantang.


"Mas, bukannya dulu kamu sendiri yang menyetujui jika selamanya Laras akan menjadi anakku. Dan kamu juga setuju selamanya kita tidak membuka rahasia masa lalu kita padanya. Tapi kenapa kamu mengingkarinya?" Saras protes dengan sikap Reno.


Sejenak Reno terdiam tak bisa berkata apapun, karena dia menyadari jika dia memang bersalah telah mengingkari janjinya dulu.


"Aku bersalah pada Saras, karena aku telah mengingkari janjiku dengan berkata pada Laras tentang ibu kandungnya."


"Tapi sejak aku bertemu dengan Intan, entah kenapa rasa cinta yang sempat hilang kini datang kembali. Makanya aku ingin mempergunakan Laras sebagai alat, supaya aku bisa kembali pada Intan."


"Apalagi saat ini Intan sudah kaya melebihi kekayaan Saras, dan parasnya juga lebih cantik lebih bersih dan mampu memikat kaum adam."


Reno menggerutu di dalam hati seraya melamunkan segala tentang Intan, bahkan tanpa sadar di depan Saras, dia tersenyum sendiri membuat Saras sangat geram.


"Hem, pasti Mas Reno pasti sedang melamunkan tentang Intan! bisa-bisanya di depanku, dia seperti ini!" Saras sangat emosi.


Saras sengaja menepuk bahu Reno dengan keras," Mas Reno!"


Reno terhenyak kaget dari lamunannya.


"Kamu bisa sopan nggak sama suami, jika aku punya riwayat jantung pasti sudah mati."


"Sudah melamunnya?" Saras bertanya ketus.


"Siapa yang melamun?" Reno berlalu pergi begitu saja.


Dia mengambil ponsel niat hati ingin menghubungi Laras, namun nomer ponsel tidak aktif. Reno melangkah menghampiri Saras.

__ADS_1


"Mi, punya nomor ponsel Laras yang baru nggak? nomor yang lama nggak bisa di hubungi," Reno menghela napas panjang.


"Memangnya sejak kapan Laras mengganti nomor ponselnya? setahuku ya nomornya masih sama kok." Saras meraih ponselnya untuk mengecek nomor ponsel Laras.


Dia memberikan ponselnya pada Reno.


"Ini nomor ponsel Laras, aku cuma punya satu nomor." Saras menunjukkan nomor ponsel Laras.


Reno mengeceknya dengan menyamakan nomor ponsel Laras yang ada di ponselnya.


"Sama kok, tapi nggak bisa di hubungi."


Reno menyerahkan kembali ponsel Saras padanya. Dia gelisah, karena biasa setiap pagi pasti vidio call Laras hanya untuk melihat Risky.


"Risky sedang apa ya, aku kangen dia kalau nggak lihat wajahnya yang ngegemesi." Gerutunya namun masih bisa di dengar oleh Saras.


"Biasa kalau kangen, samperin kerumah kan? repot amat di bikin melamun gelisah, bukan suatu masalah tapi di buat menjadi masalah." celetuk Saras ketus seraya berlalu pergi dari hadapan Reno.


Saras mencari keberadaan asisten rumah tangganya untuk membersihkan kegaduhan yang telah di buat oleh Reno.


Mendengar celotehan Saras, Reno bangkit dari duduknya. Dia lekas melangkah menuju ke garasi mobilnya untuk pergi ke rumah Laras.


Dia lekas melajukan mobilnya keluar dari pintu gerbang tanpa berpamitan atau mengajak Saras.


Sementara Saras berlari kecil saat mendengar deru mesin mobil. Dia berniat ingin ikut dengan Reno, namun telah terlambat karena mobil sudah melaju jauh.


"Yah, kok aku di tinggal? biasanya kalau mau kemanapun pasti bertanya dulu padaku, apakah aku ikut atau tidak? ini main tancap gas saja!" Saras mengerucutkan bibirnya.


Sementara Reno terus melajukan mobilnya menuju ke rumah Laras. Hingga pada akhirnya 15 menit kemudian telah sampai di depan pintu gerbang rumah Laras.


Namun Reno mengernyitkan alis, saat melihat pintu gerbang di kunci dari depan.


"Aneh, nggak seperti biasanya pintu gerbang di kunci dari luar? memang sepagi ini mereka pergi kemana ya? padahal aku kangen sekali dengan Risky." Reno melangkah gontay menuju ke mobilnya.


********

__ADS_1


__ADS_2