Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Serigala Berbulu Domba


__ADS_3

Laras diam saja saat Tara membentaknya, jika dia menjawabnya lagi yang ada pasti tambah ramai dan tak ada ujung pangkalnya. Walaupun dia merasa tak bersalah.


Laraa sebenarnya sangat penasaran dengan apa yang di katakan oleh Tara. Apa benar Intan berkata seperti yang barusan Tara katakan. Dia akan menanyakan hal itu pada Intan jika waktu luang ada.


Setelah mengomel panjang lebar, Tara pergi begitu saja. Tanpa pamit sama sekali, dia sengaja datang untuk memperingati Laras.


"Semoga dengan apa yang aku katakan, Laras tidak lagi menemui Intan. Tidak apa aku mengkambing hitamkan Intan, yang penting mereka tidak saling bertemu lagi." Gerutunya seraya melajukan mobilnya.


Seperginya Tara, Laras merasa heran. Karena sikap Tara sudah tidak seromantis dulu. Laras mulai merasa curiga dengan perubahan sikap Tara.


"Sepertinya aku harus menyelidiki Mas Tara, karena sikapnya sangat mencurigakan. Semoga kekhawatiranku tidaklah terbukti ya Allah. Aku nggak ingin di tipu oleh suamiku seperti yang di rasakan oleh Bu Intan. Dan sampai kapanpun aku akan selalu berteman dengan, Bu Intan." Laras menggerutu sendiri.


Sementara saat ini Intan telah terbangun dari tidurnya dan dia menghela napas panjang saat tak mendapati ada Tara.


"Sudah kuduga, ucapannya tak bisa di percaya. Selalu saja memakai cara memanfaatkan kesempatan di dalam kesempitan, pasti saat ini sedang di rumah Laras." Intan segera bangun dari pembaringan.

__ADS_1


Saat dia akan membasuh mukanya ke kamar mandi, ponsel berdering yang ternyata panggilan telpon dari Laras.


"Apa lagi sih, Laras menelpon kembali?" Intan segera mengangkat telpon dari Laras.


πŸ“±"Assalamu Alaikum, Bu Intan. Maaf aku mengganggu ibu terus."


πŸ“±"Walaikum salam wr wb, ada apa lagi Laras?"


πŸ“±"Bu, aku minta maaf jika selama ini selalu mengganggu waktunya. Harusnya ibu berterus terang padaku, jika merasa keberatan mendengarkan keluh kesahku."


Intan merasa heran kenapa tiba-tiba Laras berkata seperti itu.


Secara panjang lebar, Laras menceritakan semuanya pada Intan. Jika Tara telah memarahinya dengan alasan dapat laporan dari Intan. Setelah cukup lama Laras mengadu pada Intan tentang semua yang di katakan Tara barusan, panggilan telpon di matikan oleh kedua belah pihak.


Mendengar pengaduan dari Laras, Intan menjadi sangat emosi.

__ADS_1


"Astaghfiruloh alazdim, sabar sabarkan hambaMu ini ya Allah." Intan mengusap dadanya seraya menghela napas panjang.


Selagi mengambil napas panjang, datanglah Tara. Dia langsung panik menghampiri Intan.


"Sayang, kamu kenapa? apanya yang sakit?" Tara mengusap perut, mengusap kening seraya menatap panik pada Intan.


Intan hanya melirik sinis pada Tara, dia sangat emosi tapi dia mencoba untuk menahannya. Karena percuma saja jika dia menegur Tara, yang ada nanti Laras kembali yang menjadi korban.


"Aku tak habis pikir, menikah dengan pria yang bermuka dua dan bermulut manis, tapi menusukku dari belakang. Kalau aku nggak punya rasa kasihan pada Laras, aku sudah menegur Tara. Tapi percuma saja nggak akan ada ujung pangkalnya. Tapi mau sampai kapan, aku harus terus bertahan dengan semua kebohongan Tara," gerutu Intan di dalam hati.


"Sayang, aku bertanya padamu tapi kenapa kamu hanya diam saja? tak menjawab pertanyaanku?" kembali lagi Tara bertanya.


"Aku nggak apa-apa, lagi pula jika aku kenapa-kenapa kamu nggak akan merasa kehilangan, karena kamu masih punya Laras dan Rizky," Intan sengaja menyindir Tara.


"Sayang, kok kamu bicaranya seperti itu? aku pasti akan sangat kehilanganmu, tolong jangan berkata buruk tentang dirimu sendiri," Tara mencium kedua punggung tangan Intan.

__ADS_1


"Aku lebih suka suami yang berperilaku aoa adanya, daripada suami yang berperilaku manis tapi ternyata munafik dan menjijikkan," Intan merasa geram mengingat pengaduan dari Laras.


********


__ADS_2