
"Mas, aku minta maaf atas sikap, papah. Sudah jangan ngomel terus, malu di lihat banyak orang," Mona berkata lirih seraya tengok kanan kiri di mana para karyawan Delta menatap seraya berbisik-bisik satu sama lain.
Sore menjelang, Intan pun segera mengemasi dan menata semua berkas yang berserakan di meja kerjanya, dia sesekali melirik jam tangannya.
Saat akan keluar dari pintu ruang kerjanya, Intan berpapasan dengan Keano.
"Pah, maaf ya papah telat jemputnya." Keano mencium kening istrinya.
"Nggak apa-apa, pah. Temani mamah dulu, ketemu sama seseorang." Intan bergelayut manja di lengan Keano.
Mereka melangkah berdampingan keluar dari kantor tersebut. Intan memberitahu cafe dimana dirinya akan bertemu dengan, Monica.
Hanya sepuluh menit saja, mereka telah sampai di cafe. Ternyata Monica telah terlebih dulu sampai, dia melambaikan tangannya pada Intan. Di saat Intan sedang celingukan mencari dirinya.
"Waw, gantengnya pria yang bersama, Intan. Mirip sekali dengan bintang film korea," batin Monica mengagumi ketampanan Keano.
Bahkan para pelanggan yang lain juga terpana melihat ketampanan Keano, sampai Keano merasa risih di buatnya.
"Pah, senang dong. Banyak yang terpesona oleh ketampanan, papah," bisik Intan menggoda Keano.
__ADS_1
"Cemburu nech ye," Keano balas berbisik seraya terkekeh.
Kini mereka sudah ada di meja di meja pesanannya, dimana sudah ada Monica menunggu.
"Maaf, telat. Perkenalkan suami saya." Intan menyalami Monica.
"Keano"
"Monica"
Keano menangkupkan kedua tangannya, saat Monica ingin menyalaminya. Itu cara Keano menyapa wanita yang bukan muhkrimnya.
"Iya nggak apa-apa, Bu Intan. Santai saja," sesekali Monica melirik Keano.
"Ya Allah, ampuni hamba. Karena mata ini telah berdosa, telah mengagumi suami orang," batin Monica.
"Maaf, Bu Monica. Memangnya apa yang ingin di bicarakan dengan saya?" pertanyaan Intan memecahkan lamunan Monica.
Monica terhenyak kaget, tapi dia langsung bercerita tentang niatnya bertemu dengan Intan. Tak sungkan Monica menunjukkan vidio rekaman CCTV di pelataran kantor Intan.
__ADS_1
"Bu Intan, saya ingin tanya. Apakah anda mengenal pria ini?" Monica menunjuk Tara pada vidio yang di tunjukkan olehnya.
"Ya saya sangat tahu, karena dia mantan suami siri saya. Memangnya ada apa ya, Bu Monica? lantas dari mana pula mendapatkan vidio ini?" Intan menautkan alisnya.
Monica menceritakan semuanya pada Intan dari mana dia mendapat vidio tersebut dan bagaimana dia bisa mengenal, Tara.
"Astaghfiruloh alazdim, aku pikir Tara sudah berubah. Ternyata dia mendapatkan korban lagi," Intan menghela napas panjang.
"Saya hanya berpesan pada anda, supaya menjaga adik anda. Saya khawarir, di luaran sana masih ada wanita lain, selain adik anda. Maaf, bukan saya ingin menghasut, tapi hanya ingin mengingatkan saja."
"Karena saya sudah pernah merasakan bagaimana, Tara menipu saya habis-habisan. Tapi semoga saja, Tara bersama adik anda berubah menjadi lebih baik." kata Intan dengan jujurnya.
Sejenak mereka mengobrol biasa, bahkan Monica mengajak kerjasama dengan Intan, yakni ingin mendirikan restoran.
"Bu Intan, saya ingin menawarkan sebuah kerjasama. Sekiranya ibu berkenan."
"Memangnya kerjasama bagaimana dan di bidang apa ya, bu?" tanya Intan menautkan alisnya.
"Begini, Bu Intan. Kita bangun kembali restoran ibu yang pernag terbakar. Biar saya yang memberi modalnya. Nanti jika sudah beroperasi, Ibu Intan yang menghandle. Dan keutungan dari restoran kita bagi menjadi dua," ucap Monica menawarkan kerjasama.
__ADS_1
******