Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Di Jambret


__ADS_3

Bergulirnya waktu begitu cepat, Mona telah melahirkan seorang anak perempuan yang di beri nama Marsya.


Namun kondisi keuangan Tara malah semakin memburuk. Kini Tara sama sekali tak punya uang sepeser pun.


"Mona, aku sudah sama sekali tak punya uang. Lalu bagaimana dengan kehidupan kedepannya kita?"


"Mas, kok kamu tanya padaku? memang yang menjadi kepala keluarga aku? carilah solusinya, mas? jangan hanya berdiam diri saja."


Mendengar celotehan dari, Mona. Tara malah pergi begitu saja dengan membawa mobilnya. Bahkan Tara tak pamit sama sekali pada, Monalisa membuatnya tambah kesal.


"Oalah, malah ngeluyur! mau sampai kapan hidup begini, sih? makan hati setiap harinya."


Sementara saat ini Tara berada di sebuah diler mobil tapi yang sekaligus menjual mobil bekas. Ternyata Tara pergi untuk menjual mobilnya.


"Terpaksa aku jual mobil kesayanganku, aku nggak mau di rendahkan oleh mertuaku karena aku tak kunjung kerja."


"Akan aku gunakan uang hasil jual mobil untuk membuka usaha expedisi kecil-kecilan dulu, dari pada aku nganggur."


"Punya mertua kaya nggak bisa di harapkan kekayaannya, percuma saja aku menikahi anaknya."

__ADS_1


"Aku kok jadi ingat, Intan. Dulu hidupku enak dengannya, bahkan aku tak pernah memberi Intan jatah bulanan, karena dia memiliki usaha sendiri. Kok aku kangen ya, bagaimana sekarang kabar dia sekarang?"


Terus saja, Tara menggerutu di dalam hati. Sampai dia mendapat uang hasil penjualan mobilnya.


"Di rumah kan ada motor milik, Mona. Biar aku pergunakan untuk transportasiku."


Tara lekas pulang dengan membawa uang hasil dia menjual mobilnya. Dia sangat bersemangat untuk membuka usaha barunya.


"Lumayanlah, walaupun nggak begitu banyak uangnya. Setidaknya bisa buat menyewa kios dulu, dan membayar beberapa karyawan dan membeli segala kebutuhan yang di butuhkan untuk usahaku ini." Tara membuka amplop coklat seraya terus mengintip uangnya sambil di hitung.


Dia tak menyadari jika kelakuannya mengundang niat jahat orang yang melihatnya.


"Bener banget, iya itu uang merah semua."


Salah satu pengendara motor yang berboncengan sedang berbisik-bisik melihat, Tara keluar dari diler mobil seraya berjalan kaki.


Mereka adalah kawanan jambret yang memang sedang mencari tarjet. Mereka sering mangkal di wilayah tersebut.


"Cepat bro, keburu tuh orang naik angkot," bisik penjambret yang ada di boncengan.

__ADS_1


Mendengar temannya berbicara, dia lantas tancap gas melajukan motornya.


"Jambret..jambret.. jambret.."


Teriak Tara lantang, tapi orang-orang hanya terperanga tak ada yang berani menolongnya, karena memang jambret tersebut terkenal dengan kesadisannya.


"Pak, tolong saya di jambret," Tara menghampiri seorang pria yang sedang melintas mengendarai motor secara perlahan.


Namun pria tersebut, hanya menatap sinis pada, Tara. Lantas tetap melajukan motornya.


"Mas-mas, tolong saya di jambret. Lari kesana, jambretnya." Tara menunjuk arah larinya motor si jambret.


"Enak saja, situ yang di jambret kok saya yang di suruh repot ngejarnya. Kenapa nggak di kejar sendiri sana," pemuda tersebut hanya berhenti sejenak lalu melajukan motornya kembali.


"Hilang! hilang sudah uangku dari hasil menjual mobil!" dalam hati Tara menggerutu seraya terus mengacak-acak rambutnya.


Tara mencoba menelpon, Monalisa untuk menjemputnya pulang. Karena dia sama sekali tak ada uang sepeserpun. Walaupun hanya untuk membayar transportasi.


"Nomor ponsel, Mona tak aktif." Tara mendengus kesal dan memasukan ponselnya kembali ke dalam kantong bajunya.

__ADS_1


*****


__ADS_2