
Tara melajukan mobilnya menuju ke restoran Intan.
"Entah kenapa aku sangat merindukan Intan, semoga saja aku bertemu dengannya." Gumamnya seraya melajukan mobilnya.
Tak berapa lama, Tara telah sampai di pelataran salah satu restoran Intan. Akan tetapi dia tidak mendapat sambutan yang baik dari para karyawan Intan. Hampir semuanya tahu keburukan Tara.
Semua berbisik-bisik seraya menatap sinis pada Tara. Akan tetapi Tara sama sekali tak menghiraukan mereka. Dia melangkah menuju ke ruang kerja Intan.
Dengan seenaknya tanpa mengetuk pintu, Tara langsung saja masuk membuat Intan terhenyak kaget. Setelah beberapa bulan Intan merasa damai tidak di ganggu oleh Tara, kini malah dia datang kembali.
"Hallo sayang, lama kita tidak berjumpa. Biasa saja kali, masa menatapku seperti melihat hantu? bagaimana kabarmu dan Adam anak kita?" Tara menghampiri Intan di meja kerjanya.
"Untuk apa kamu datang kemari? bikin pemandangan buram saja," Intan menyeringai sinis.
__ADS_1
"Apa salah jika seorang ayah ingin bertanya tentang kabar anaknya sendiri?"
"Sejak kapan kamu perhatian sama Adam? dari dulu Adam belum lahirpun kamu tak pernah memperhatikannya, jadi jangan berlagak memperhatikannya. Pergilah dari sini, dan jangan pernah kamu memperlihatkan dirimu di hadapanku maupun di hadapan Laras," Intan mengusir Tara, namun dia masih tetap diam di tempat.
"Galak amat, nanti nggak ada yang mau menikah denganmu loh." Tiba-tiba Tara mencolek pipi Intan.
Sepontanitas Intan sangat marah akan ulah Tara, dia lekas menelpon bagian security untuk segera datang ke ruangannya.
Beberapa detik kemudian, datanglah dua security masuk ke ruang kerja Intan.
Secepat kilat dua security mencekal paksa Tara dan membawanya keluar dari ruang kerja Intan.
"Heh, apa-apaan ini! lepaskan, aku bisa jalan sendiri! awas ya kamu Intan, aku tidak akan pernah melupakan perlakuanmu ini!" Tara berteriak histeris hingga mengundang para pelanggan yang sedang menikmati hidangannya menoleh padanya.
__ADS_1
Tara terus saja berteriak, dia sama sekali tak punya rasa malu sedikitpun. Tara mendengus kesal masuk dalam mobilnya.
Tara melajukan mobilnya dengan penuh kekesalan mengingat perlakuan kasar Intan. Tara memutar otaknya ingin membalas perlakuan Intan yang menurutnya telah mempermalukan dirinya di muka umum.
"Orang lain, punya mantan tak menjadi musuh. Tapi tetap berhubungan baik, pikirku Intan juga sama. Malah dia mengusirku, memusuhiku. Apa salah jika aku menanyakan kabar Adam? bagaimanapun Adam darah dagingku sendiri," Tara terus saja menggerutu sendiri seraya melajukan mobilnya.
Tara sedang malas pulang ke rumah, dia memutuskan untuk mencari hiburan di sebuah bar.
"Baru kali ini aku datang kemari, semoga si tempat ini aku menemukan kesenangan," Tara memesan minuman ringan.
Karena Tara sama sekali tak pernah mengkonsumsi minuman keras. Dia menikmati alunan musik yang sedang di putar oleh seorang DJ wanita.
"Cantik juga DJ itu, tapi sayang aku sama sekali tak tertarik. Ternyata lelah juga berganti wanita. Tapi entah kenapa aku tak bisa hidup dengan satu wanita, dan entah kenapa aku cepat merasa bosan. Walaupun kadang merasa lelah berganti wanita, tapi rasa bosan selalu saja ada," gerutu Tara dalam hati seraya matanya terus saja menatap sang DJ.
__ADS_1
*******