Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Tak Sadar Jua


__ADS_3

Tia merasa sedih sekali, melihat kondisi ibunya yang masih belum juga sadarkan diri. Dia juga harus menelan pil pahit kebohongan suaminya.


"Bu, sadar dong. Ya Allah, kenapa ibuku belum juga sadarkan diri. Pasti ibu telah mendengar semua pembicaraanku dengan, Mas Tara." Tia menitikkan air mata seraya sesekali mengusap lengan Bu Ita.


Sementara Tara selesai mandi, menghampiri kamar mertuanya untuk mengecek kondisinya.


"Bagaimana kondisi, ibu?" Tara menatap tajam ke arah istri dan mertuanya.


"Seperti yang mas lihat, ibu belum juga sadarkan diri," Jawab Tia tetap pandangannya pada Bu Ita.


"Aku akan menelpon Dokter Yudi supaya kemari untuk memeriksa ibumu." Tara keluar dari kamar mertuanya.


Dia melangkah menuju kamar sendiri dan meraih ponselnya untuk menelpon Dokter Yudi. Setelah selesai menelpon dokter, Tara kembali melangkah ke kamar mertuanya.


"Aku sudah menelpon, Dokter Yudi. Sebentar lagi dia akan kemari jadi kamu nggak usah khawatir. Aku lapar, tolong siapkan makanan untukku," perintah Tara berlalu pergi begitu saja.


Tia beranjak bangkit, dengan langkah gontay dia menuju ke ruang makan dimana Tara telah menunggu. Tia menyiapkan makanan untuk Tara, setelah itu dia akan melangkah kembali ke kamar ibunya, akan tetapi Tara mencekal lengannya.


"Duduklah, seperti biasa temani aku makan. Kamu tidak aku ijinkan pergi sebelum aku selesai makan," pinta Tara pada Tia.


"Mas, aku mau menengok ibu. Siapa tahu iby sudah sadar," Tia tetap pasa pendiriannya.


"Duduk! atau mau aku talak kamu sekarang juga?" ancam Tara melotot pada Tia.


Akhirnya Tia duduk di samping Tara, tanpa ada perlawanan lagi. Walaupun hatinya terus saja di liputi oleh perasaan khawatir pada ibunya.


Tak berapa lama, bel pintu rumah berbunyi. Dokter Yudi telah datang untuk memeriksa Bu Ita. Lekas Dokter Yudi memeriksa Bu Ita yang belum juga sadarkan diri.


"Maaf, sudah berapa lama ibu anda tak sadarkan diri?" tanya Dokter Yudi mengernyitkan alianya.


"Tiga puluh menit yang lalu, Dok." Jawab Tia sekenanya.

__ADS_1


"Seharusnya anda langsung membawanya ke rumah sakit. Karena kondisinya serius, bisa jadi saat ini ibu anda mengalami koma. Karena benturan di kepalanya, dan karena shock atau kaget saat mendengar berita yang sangat mengejutkan."


"Saya akan menelpon pihak rumah sakit supaya datang kembari, untuk membawa ke rumah sakit. Supaya saya bisa memeriksa kondisi ibu anda lebih efisien. Karena di rumah sakit, alat pemeriksaan komplit."


Panjang lebar dokter memberikan penjelasan pada Tia, seraya dia menelpon pihak rumah sakit.


Tara datang dari arah ruang makan menghampiri Dokter Yudi.


"Memangnya tidak bisa rawat jalan ya,Dok?


"Maaf, Tuan Tara. Kondisi pasien lumayan serius, apa lagi sebelumnya pernah punya riwayat jantung, kan? jadi alangkah lebih baiknya di rawat di rumah sakit saja," Dokter Yudi menjelaskan secara detail.


"Ya sudah kalau begitu, lakukan yang terbaik untuk mertua saya, Dok," Tara mencoba tersenyum walaupun dalam hatinya penuh dengan gerutuan.


"Menyusahkan saja, kenapa tidak mati sekalian. Seperti ini hanya menambah bebanku saja, pengeluaran juga pasti akan tambah banyak," gerutuan Tara di dalam hati.


Tak berapa lama, datanglah ambulance. Segera membawa Bu Ita ke rumah sakit dimana saat ini Dokter Yuli bertugas.


"Pi, putar arah. Balik sebentar ke rumah, karena ada barang yang penting yang tertinggal di rumah.


Reno memutar balik arah, walaupun sebenarnya hatinya sangat geram.


"Uh, kenapa nggak dari awal saja minta kembali ke rumah? sudah setengah perjalanan, baru bicara!" batin Reno menahan geram yang teramat sangat.


Setelah menempuh perjalanan lumayan jauh, sampailah di depan pintu gerbang rumah mewah Tara.


Laras segera berlari masuk ke dalam rumah, dia ingin mengambil semua simpanan benda berharganya seperti berlian, emas, dan mutiara. Tapi Laras tak mendapati itu semua.


"Aku ingat betul, jika semuanya aku simpan di dalam almari. Tapi kenapa tidak ada satupun? apa mungkin semua perhiasanky di ambil oleh Mas Tara?" batin Laras.


Dia terus saja mencari tanpa lelah semua perhiasan miliknya tapi malah sertifikat tanah yang dia temukan.

__ADS_1


"Baiklah, Mas Tara. Kamu mengambil semua perhiasanku, sebagai gantinya aku ambil sertifikat tanah ini," Laras meletakkan sertifikat tanahnya di dalam tas yang dia bawa.


Laras melangkah akan keluar dari kamar, tapi dia masih saja penasaran dengan semua perhiasannta.


"Apa mungkin aku lupa menyimpannya? aku coba cari lagi siapa tahu ketemu, karena aku juga sering lupa." Laras mengangkat kasurnya, dia berharap semua perhiasan ada di bawah kasurnya.


Namun Laras tak menemukannya, tapi matanya tertuju pada amplop coklat yang sangat tebal di bawah kasur. Dia lekas mengambil amplop coklat tersebur.


"Bukankah ini amplop coklat yang sempat aku lihat waktu itu? dimana pagi sekali ada orang yang meletakkannya di kotak surat, dan aku tak di ijin untuk membukanya


Laras penasaran, dia duduk dan akan membuka isi amplopnya. Namun tiba-tiba Reno datang sehingga Laras mengurungkan niatnya untuk melihat isi amplop tersebut.


"Nak, kenapa kamu lama sekali? ayuk buruan, keburu kemalaman di jakan," pinta Reno pasang wajah serius.


Hingga akhirnya Laras bangkit dari duduknya di tepi ranjang. Dia terlebih dulu melangkah ke paviliun belakang untuk berpamitan pasa sada sepasang suami istri.


"Pi, aku nitip ini sebentar. Aku ingin berpamita dulu pada asisten rumah tanggaku." Tanpa pikir panjang lagi, Laras pergi ke paviliun belakang, dengan tak lupa menitipkan satu stopmap berisikan sertifikat tanah dan satu amplop coklat besar yang isinya belum sempat Laras lihat


Tiba-tiba di dalam hati Reno penuh dengan rasa tanda tanya pada kedua benda yang saat ini sedag dia pegang.


"Aku kok penasaran terutama amplop coklatnya." Reno perlahan meraba isi amplop coklat yang ternyata isinya sertifikat kepemilikan restoran dan surat tanda cerai antara Tara dan Intan.


"Astaghfiruloh aladzim, bahaya kalau Laras mengetahu hal ini. Aku akan membuang surat bukti cerai antara Tara dan Intan." Reno panik dan dengan gerak cepat mengambil surat pemberitahuan cerai tersebut.


Reno lekas berlari ke kamar Laras dengan membawa surat tersebut, dan meletakan stopmap serra amplop coklatnya di pembaringan.


Reno berlari masuk ke dalam kamar mandi dan lekas menguncinya dari dalam. Reno manyalakan kran air, serta menyobek-nyobek surat bukti cerai antara Intan dan Tara. Sobekan tersebut di masukkan ke dalam kloset dan Reno menyiramnya pake air, sampai benar-benar hanyut masuk ke dalam kloset.


"Alhamdulilah, untung aku yang terlebih dulu mengetahui surat itu. Kalau tidak, pasti akan menjadi bomerang buat hubungan ibu dan anak," batin Reno merasa lega.


********

__ADS_1


__ADS_2