
Tara belum tahu, jika saat ini Intan telah pindah. Dan semua kartu yang dia pakai telah di bekukan, juga tak bisa masuk ke kantor expedisi kembali.
Tara merasa bangga karena punya dua istri yang masih berhubungan darah yakni ibu dan anak. Setelah selesai melakukam ritual mandi siang, Tara makan siang.
Semua telah tersaji di meja makan, komplit. Tara sangat sumringah, apa lagi yang tersaji adalah menu makanan favotirnya.
"Masakan Laras nggak kalah nikmat dengan masakan Intan. Hanya pelayanan di ranjang saja, menurutku lebih mengasikkan Intan daripada Laras. Tapi sayangnya aku sudah tidak bisa mendapatkannya dari Intan sejak dia mengetahui tentang Laras," batinnya seraya menyantap makan siangnya.
"Sayang, terima kasih ya. Masakanmu memang tiada bandingnya. Aku pergi ke kantor ya," Tara mengecup kening Laras.
"Hati-hati ya, mas." Laras mencium punggung tangan suaminya.
Tara melenggang ke luar halaman di mana saat ini mobilnya terparkir, dia langsung melajukannya menuju ke kantornya. Namun saat akan masuk, di hadang oleh dua security.
"Kalian kenapa menutupi jalanku? jangan membuatku emosi ya!" Tara melotot seraya berkacak pinggang menatap sinis pada dua security yang ada di depannya.
"Maaf, Pak. Kami hanya menjalankan tugas dari Bu Intan, jika anda di larang masuk ke kantor ini," salah satu security menjelaskan.
Setelah mendengar ucapan dari security tersebut, Tara melenggang kembali ke dalam mobilnya. Sejenak dia diam di dalam duduknya.
"Dua kali Intan mempermalukan aku di depan security, kenapa dia berbuat seperti ini lagi?" gerutunya seraya meraih ponsel dan menelpon Intan.
π±"Asalamu Alaikum, sayang.
π±"Walaikum salam, ada apa?"
π±"Kamu kenapa lagi, memerintah security untuk melarang aku masuk ke kantor?"
π±"Aku hanya mengabulkan apa yang terakhir kamu ucapkan, katanya kamu ajan mencari pekerjaan dengan tanganmu sendiri."
π±"Aku hanya bercanda, sayang. Kenapa kamu mengganggapnya serius, lagi pula jaman sekarang susah cari kerja."
π±"Nggak usah berkilah lagi, terima saja. Lagi pula kamu sudah menghabiskan uangku satu milyar lebih, tanpa ijin dariku. Jadi sudah cukup, aku membiayai hidupmu dan juga hidup istrimu."
__ADS_1
Setelah berkata demikian, Intan mematikan panggilan telpon dari Tara.
"Sialan, sombong amat si Intan! mentang-mentang punya segalanya! bagaimana aku bisa menafkahi Laras dan Risky jika seperti ini!" Tara memukul-mukul kemudinya seraya mengacak-acak rambutnya.
Tara melajukan mobilnta menuju rumah Intan. Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, sampailah di depan pintu gerbang rumah Intan. Tara merasa heran saat melihat pintu gerbang di kunci dari luar dan terpasanga sebuah pengumuman" Rumah Ini Di Jual". Apalagi ini?"
Tara tambah kesal melihat akan hal itu.
"Aaahhh, kemana pula Intan!" Tara mendengus kesal seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
"Apa yang aku lakukan pada mertuaku berbalik padaku? saat itu aku juga menjupa rumah juga pindah rumah tanpa sepengetahuan dari Papi Reno. Kini Intan berbuat hal yang sama padaku. Aduhhhh, kenapa juga harus seperti ini?" gerutu Tara masuk ke dalam mobilnya.
Dia memutuskan meminta penjalasan pada Intan. Tara melajukan mobilnya menuju ke beberapa restoran milik Intan.
Namun dia kembali lagi harus menelan kekecewaan. Dia tak menemukan keberadaan Intan. Kembali lagi Tara menelpon Intan, namun Intan tidak mengangkatnya hingga dia tambah emosi.
Sementara Intan di apartement mewahnya menyunggingkan senyum, mengetahui saat ini Tara sedang panik dan gelisah.
"Dasar munafik, mengatakan sendiri jika aku melarangnya kerja di kantorku, dia akan mencari kerja sendiri. Eh, tadi memohon, bagaikan sudah meludah tapi di jilat lagi!" gerutu Intan menggelengkan kepalanya.
Dia gelisah karena pagi dan siang ini makan di restoran Intan tanpa ada Intan. Walaupun Kevin selalu makan gratis dan para pelayan juga telah hapal padanya, namun Kevin merasa kesepian. Apalagi para pelayan tidak berkata jujur saat di tanya oleh Kevin tentang keberadaan Intan.
π±"Mah, kok nggak restoran baik pagi atau siang? Aku makan sendiri tanpa di temani mamah rasanya nggak nikmat."
π±"Nak, lupa ya? biasakan ucap salam duly walaupun lewat telpon."
π±"Hhhe iya,mah. Maaf lupa, asalamu alakum."
π±"Walaikum salam wr wb. Maaf ya, mamah lupa mengatakan jika hari ini nggak bisa ke restoran."
π±"Memangnya kenapa? apa mamah sakit, ade bayi sehat kan?"
π±"Alhamdulilah mamah dan ade bayi sehat kok. Cuma ada urusan yang tak bisa mamah wakilkab, jadi harus mamah kerjakan sendiri."
__ADS_1
π±"Oh, ya sudah kalau begitu. Kalau butuh bantuan katakan saja ya, mah. Jangan sungkan sama Kevin dan papah."
π±"Iya, nak. Terima kasih."
π±"Ya sudah ya, mah. Asalamu alaikum."
π±"Walaikum salam wr wb."
Baik Kevin maupun Intan sama-sama mematikan panggilan telponnya. Intan menghela napas panjang seraya tersenyum
"Anak baik dan sedikit manja, padahal anak pria," gerutunya seraya tersenyum membayangkan tingkah Kevin.
Intan masuk ke dalam rumah, karena terlalu lama di teras halaman cuaca panas. Dia memutar musik klasik untuk janin yang ada di kandungannya.
"Hem, malah rileks seperti ini. Pikiran tidak setiap hari emosi dan batin tidak selalu menahan rasa sakit," gerutunya dalam hati seraya menikmati musik klasik yang di putarnya di ruang tengah.
Tak terasa Intan tertidur karena asiknya mendengarkan musik klasik tersebut. Sementara Bu Mita mencari keberadaan anak semata wayangnya. Saat dia mendapati Intan tidur di ruang tengah, bibirnya menyunggingkan senyum.
"Ya Allah, kasihan sekali anakku. Dua kali pernikahannya tidak pernah bahagia. Semoga suatu saat nanti, anakku menemui kebahagiaanya." Bu Mita mengusap surai hitam Intan secara perlahan dengan mata berkaca-kaca.
Setelah sejenak menghampiri anaknya, Bu Mita melangkah pergi dari ruang tengah. Dia juga beristirahat di kamarnya.
Berbeda dengan Tara yang gelisah karena mencari keberadaan Intan tak jua bertemu. Dia berkali-kali mencoba menelpon Intan kembali. Intan sengaja mematikan ponselnya supaya tidak menggangu istirahatnya.
"Intan bersembunyi dimana? kok aku cari di semua restorannya nggak ada ya? sedangkan rumahnya juga mau di jual?" Tara mengacak-acak rambutnya.
Dia sangat frustasi dengan hilangnya Intan begitu saja. Dia tak bisa berpikiran jernih, dan pada akhirnya kembali ke rumah Laras.
Beberapa jam kemudian, Tara telah sampai di rumah Laras. Laras merasa heran dengan kepulangan Tara.
"Mas Tara, kok pulang lagi? nggak jadi ngantor?" Laras menyalami Tara.
"Tiba-tiba kepalaku sakit sekali, jadi aku pulang untuk istirahat." Tara melangkah menuju ke kamarnya dengan langkah gontay.
__ADS_1
Sementara Laras terus saja melihat kepergian suaminya itu.
*******