
Rendy menceritakan pada Reno, tentang Atin dan bapaknya. Rendy juga bercerita pada Reno, jika dirinya akan menikah bebarengan dengan pernikahan Intan.
"Hah, kenapa aku tidak tahu jika Intan memiliki seorang kakak dan bapak? apa Laras mengetahui tentang ini? apa Laras pernah cerita padaku, tapi aku lupa ya?" Reno terus saja bertanya-tanya di dalam hati.
"Ya Allah, kenapa aku nggak rela saat mengetahui Intan akan menikah dengan pria lain. Kenapa pula Engkau tak membiarkan kami bersatu kembali? padahal aku ingin sekali menebus rasa bersalah dan dosaku pada Intan dengan cara aku menikahinya lagi," keluh kesah Reno di dalam hati.
Rendy merasa heran melihat sahabatnya melamun terdiam setelah dia bercerita tentang kakak dan bapak Intan, serta tentang pernikahannya dan pernikahan Intan.
"Reno, kamu kenapa diam?" tegur Rendy menepuk bahunya.
"Astaghfiruloh alazdim. Bikin kaget saja," seketika Reno tergagap.
"Kenapa pula kamu melamun? apa masih belum ikhlas kalau Intan menikah lagi dengan pria lain?" Rendy bertanya menyelidik.
__ADS_1
"Jujur niatku ingin kembali padanya, malah dia akan menikah lagi. Kapan pernikahan kalian? aku sama sekali nggak mengetahui akan hal ini," Reno menghela napas panjang.
"Waktunya memang belum di tentunkan, tapi sepertinya tidak lama lagi. Berarti kamu juga tidak mengetahui jika tiga restoran Intan kebakaran? kalau menurutku ini unsur kesengajaan, ada yang membakar restorannya. Masa iya, kalau unsur kecelakaan tiga restoran sekaligus terbakar?" Rendy mengernyitkan alisnya.
"Untuk permasalahan restoran, aku sempat melihatnya di televisi. Kami sempat hilang komunikasi. Aku datang kemari juga karena kemauan Laras, yang memintaku mengecek kabar Intan, karena Laras menghubungi nomor ponsel Intan tidak aktif," tukas Reno menjelaskan.
"Nanti aku kasih nomor ponsel calon istriku supaya Laras bisa berkomunikasi. Kenapa nggak kemari saja, bukankah waktu itu beberapa hari Laras tinggal bersama Intan? kenapa pula pulang?" Rendy mencoba menyelidik.
"Ada permasalahan dengan suaminya yang ketahuan selingkuh, dan sekarang masalah sudah clear. Laras sudah resmi cerai dengan suaminya," tutur Reno.
"Suaminya yang dulu ya aku, bagaimana sih kamu?" canda Reno terkekeh mengalihkan pembicaraan.
"Huh, itu sih aku nggak tanya. Maksudku suami keduanya," Rendy mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Mana aku tahu, sejak aku menikah dengan Saras, hidupku bagai di sebuah sangkar. Susah kalau mau pergi sendiri. Harus melihat situasi apakah Saras ada atau tidak," Reno menghela napas panjang.
"Itu tandanya Saras sangat mencintaimu, makanya dia bersikap seperti itu," Rendy terkekeh.
"Cinta apa, itu dia lakukan sejak kami tak sengaja bertemu Intan. Saras sangat takut kalau aku kembali lagi pada Intan," Reno menggelengkan kepalanya.
"Kamu mau menginap atau tidak?" tanya Rendy memastikan.
"Sepertinya nggak, karena aku khawatir Saras mencariku. Aku cuma nitip pesan pada Laras, jika Saras mencariku katakan saja aku sedang menemui klien baruku," tukas Reno.
"Memangnya saat kamu akan pergi, Saras tidak ada di rumah?" tanya Rendy kembali.
"Ada, tapi sedang tidur makanya aku bisa kemari. Ya sudah, aku mau pulang. Nanti berkabar saja ya, dan jangan lupa nomor ponsel kakaknya Intan. Kalau bisa nomor ponsel Intan saja." Reno bangkit dari duduknya dan lekas pergi dari apatement Rendy.
__ADS_1
*****