Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Curhatan Tia


__ADS_3

Mendengar perkataan dari Atin, Tara sangat kesal tapi mencoba bersabar. Karena Tara telah bertekad ingin mendapatkan dan bisa meluluhkan hati Atin.


"Tolonglah, Cantika. Janganlah seperti ini padaku, aku tidak berniat buruk padamu. Kenapa kamu menolakku seperti ini?" ucapan Tara sudah tidak pada tempatnya.


Atin yang mendengar perkataan Tara menjadi heran dan mengernyitkan alisnya.


"Ist, semakin aneh saja nech orang. Ternyata dia masih cinta sama Intan. Makanya saat aku berdandan dan merubah diriku sepertinya, dia sangat terobsesi padaku," batin Atin.


"Tunggu tanggal mainnya, Tara. Sejenak aku buat kamu penasaran terhadapku, sejenak aku buatmu tak bisa melupakanmu, dan selanjutnya aku buat kamu merana dan menyesali semua perbuatanmu pada Intan dan Laras. Aku juga akan membuat Laras membencimu selamanya," batin Atin kembali.


"Cantika, kenapa kamu malah bengong?" Tara menepuk bahu Atin membuatnya terhenyak kaget.


"Astahhfiruloh alazdim, maaf pak. Saya mau melanjutkan pekerjaan saya," Atin mulai mempelajari semua berkas yang ada di hadapannya.


"Huft.." Tara menghela napas panjang seraya berlalu pergi dari ruang kerja Atin.


Atinpun menghela napas lega, setelah melihat kepergian Tara. Sebenarnya dia sangat membenci pria yang tak bisa setia pada satu wanita, tapi dia tidak akan mungkin mundur begitu saja sebelum bertanding.


Waktu berjalan cepat sekali, saat yang di tunggu Atin telah tiba di mana waktu pulang kerja. Saat Atin sedang bersiap-siap akan pulang, Tia menghampirinya.


"Cantika, jadikah kita ke taman sebentar?" tanya Tia memastikan.


"Kamu yakin denganku? aku pikir kamu akan menolak ajakanku," Atin menyunggingkan senyum.


"Ya, aku percaya kok sama kamu," jawab Tia singkat.


"Baiklah, kamu kemari naik apa?" tanya Atin menyelidik.


"Aku biasanya naik ojek," jawab Tia singkat.


"Baiklah, kalau begitu kita naik motorku saja. Nggak apa-apa kan?" Atin menyunggingkan senyuman.

__ADS_1


Tia dan Atin melangkah ke luar bersama menuju parkiran motor. Atin segera melajukan motornya menuju ke taman terdekat.


Sementara Tara berlari kecil ke ruang kerja Atin, tapi tak mendapati adanya Atin maupun Tia.


"Arghhhh sial! aku terlambat, Cantika sudah pulang dulu!" Tara mengacak-acak rambutnya sendiri karena kesal.


Sementara setelah beberapa menit perjalanan, Tia dan Atin telah sampai di taman. Mereka mencari tempat duduk yang strategis supaya mereka nyaman bercengkrama.


"Ceritalah, supaya hatimu lega." Pinta Atin pada Tia.


"Cantika, kok kamu seperti tahu apa yang sedang aku rasakan?" mata Tia berkaca-kaca.


"Aku hanya melihat dari pancaran wajahmu, seolah ada suatu beban berat di dalam hatimu," Atin mengusap bahu Tia.


Tia mulai bercerita awal mula bekerja di kantor Tara. Saat itu dia masih lajang, namun dia bekerja karena untuk membiayai ibunya yang sedang sakit dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.


"Saat itu, aku sedang kesulitan mencari dana untuk membayar biaya rumah sakit ibuku. Dan Pak Tara bersedia membayar semua biaya rumah sakit ibuku."


"Saat itu ada sebuah pertemuan dengan klien di sebuah hotel. Dan aku tak menaruh rasa curiga dengannya."


"Setelah aku meminum segelas air putih, tiba-tiba kepalaku pusing dan seketika itu juga aku tak sadarkan diri."


"Saat aku sadar, sudah ada di sebuah kamar hotel dan di sebelahku ada Pak Tara. Dia telah merenggut kehormatanku, dengan alasan untuk mengganti semua biaya rumah sakit yang dia keluarkan untuk ibuku."


"Setelah kejadian itu, aku mengundurkan diri tapi tidak bisa. Karena aku di ancam olehnya, dia memiliki foto-foto dan vidio di hotel."


"Akhirnya aku bertahan di kantor itu, tapi dia sering meminta aku melakukan lagi dan lagi. Hingga aku hamil dan sampai melahirkan seorang anak perempuan yang saat ini baru berusia dua bulan."


"Aku sering meminta dia supaya bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan padaku. Tapi dia selalu mengatakan jika bayi yang aku lahirkan bukan darah dagingnya."


"Dia menuduhku melakukan hal itu dengan pria lain. Sampai pada akhirnya aku mengajaknya untuk tes DNA bayiku."

__ADS_1


"Setelah melihat hasil tes DNA tersebut, dia baru percaya jika bayi yang aku lahirkan adalah anaknya."


"Aku tak pernah lelah meminta pertanggung jawaban darinya, tapi dia selalu saja beralasan macam-macam."


"Hingga datanglah kamu dan dia bersikap manis padamu yang membuat aku merasa takut dan cemburu."


"Aku lihat dia menyukaimu, makanya aku kesal. Karena aku sudah ikhlas dengan apa yang dia lakukan padaku. Tapi malah dia ingin mendekatimu."


"Lebih parahnya lagi, dia bisa mengambil hati ibuku. Sehingga ibuku sangat percaya padanya, bahkan jika aku bercerita dengan keburukannya, ibu selalu membelanya."


Demikian Tia bercerita panjang lebar pada Atin yang baru saja di kenalnya. Entah kenapa dia percaya saja padanya. Padahsl selama ini dia sangatlah tertutup.


Semua pekerja kantorpun tidak mengetahui skandal dirinya dan Tara. Setelah menceritakan semuanya, hati Tia menjadi sedikit lega.


"Sekarang apa rencanamu? menurutku dia nggak akan menepati janjinya," tanya Atin penasaran.


"Entahlah, aku juga bingung. Untuk masalah nafkah, dia selalu memberikan jatah uang belanja setiap bulan. Tapi jika di minta menikahiku, dia sangat susah." Jawab Tia sekenanya.


"Kalau aku menjadi dirimu, takkan lagi mendekatinya karena percuma saja, hanya membuang waktu dan pikiran," saran Atin.


"Tapi jalanku sudah buntu, lagi pula mana ada pria yang bersedia menikah dengan seorang wanita yang statusnya nggak jelas sepertiku. Dikatakan janda, aku belum pernah menikah. Dikatakan gadis, aku sudah punya anak." Tia telah putus asa dengan kehidupannya.


"Jangan kecil hati, di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Percayalah, Allah pasti akan selalu membuka jalan untukmu. Jangan berharap padanya yang hanya akan kecewa dan belum tentu ada kepastian. Tapi berharaplah pada Allah, pasti dia akan mempertemukanmu dengan pria yang baik, yang akan mencintaimu dan anakmu dengan tulus," Atin mencoba menasehati Tia.


"Apa selamanya kamu mau, di manfaatkan olehnya selagi dia butuh dirimu? tak perlu kamu takut dengan ancaman foto dan vidio yang dia punya. Kamu bisa melaporkannya ke polisi," kembali lagi Atin menasehati Tia.


"Maaf, jika aku terlalu banyak menasehatimu. Tapi aku paling nggak suka jika melihat ada wanita yang di sakiti sedemikian parahnya seperti dirimu," Atin menangkupkan kedua tangannya di dada.


"Aku malah senang ada yang peduli dan perhatian padaku. Bukan hanya menjadi pendengar setia saja yang hanya memberi komentar, sabar ya aku doakan semoga kamu bisa melalui semua ini. Atau berkata, ya ampun kasihan sekali, kamu yang kuat dan tabah ya." ucap Tia menghela napas panjang.


********

__ADS_1


__ADS_2