Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Tara Pergi


__ADS_3

Setelah cukup lama berada di taman, Atin dan Tia memutuskan untuk pulang. Atin mengantarkan pulang Tia terlebih dulu.


Atin sempat terhenyak kaget saat melihst rumah Tia yang sangat sederhana.


"Ya Allah, ternyata penampilan cantik tak selalu mencerminkan seseorang itu kaya raya, seperti saat ini yang aku lihat. Aku pikir, Tia terlahir dari keluarga kaya raya," batin Atin.


"Cantika, masuk dulu yuk?" ajak Tia menyunggingkan senyum.


"Terima kasih, lain waktu saja karena sudah begitu sore juga," Atin menyunggingkan senyum.


Diapun melajukan motor maticnya menu arah pulang.


Sementara Tara juga sedang dalam perjalanan pulang. Akan tetapi dia terus saja teringat akan Cantika.


"Kenapa wajah Cantika selalu saja ada mata dan pikiranku? sialan banget, padahal dia dingin padaku."


"Dia tidak gampang di taklukan, tidak seperti wanita lain. Dia dingin padaku, tapi aku malah semakin tertantang ingin bisa menaklukkanya."


Demikian Tara menggerutu di sela mengemudikan mobilnya. Hingga tak terasa sudah sampai di depan pintu gerbang rumah sendiri.


"Bukannya sebelum aku berangkat kerja, pintu gerbang aku kunci? kenapa ini bisa di buka tanpa menggunakan kontak kuncinya?" gerutunya seraya menggaruk kepala yang tak gatal.


"Laras, Laras. Kamu ada dimana?" Tara mencari keberadaan Laras.


"Iya, mas. Aku sedang ada di dapur," teriaknya menjawab panggilan Tara.


"Laras, siapa yang telah membuka pintu gerbangnya?" tanya Tara menyelidik.


"Aku dari tadi nggak kemana-mana, mas. Bukannya cuma kamu yang memegang kunci gerbangnya? kenapa malah bertanya padaku?" Laras asik mengolah masakan tanpa menoleh sama sekali.


"Hem, iya juga ya? kan cuma aku yang punya kunci pintu gerbangnya, kemungkinan aku lupa." Tara menggerutu seraya berlalu ke kamarnya.


"Alhamdulilah, selamat juga. Sudah berdebar khawatir Mas Tara terus saja bertanya padaku," batin Laras.


Tara melakukan ritual mandi sorenya, sembari berendam di bathup dia kembali melamunkan Cantika. Dia bertekad ingin bisa menaklukannya.


"Aku harus bisa meluluhkan hati Cantika, akan aku buktikan pada Intan kalau aku masih bisa mendapatkan wanita yang masih lajang dan muda," batin Tara menyeringai sinis.

__ADS_1


Berbeda lagi di rumah Intan, dia telah mendapatkan nomor ponsel baru milik Laras dari Reno. Bahkan Reno sempat bercerita panjang lebar pada Intan melalui panggilan telpon.


Intan hampir tak percaya dengan apa yang di lakukan Tara pada Laras. Dia sudah tak sabar melihat Tara berpisah dengan Laras, dan juga ingin melihat Tara terpuruk.


Atin saat ini sedang bersantai di teras depan rumah. Pandangan menerawanh entah kemana. Bapaknya keluar dan mendapati Atin sedang melamun.


"Nak, kamu kenapa melamun? bagaimana hari pertama kamu kerja di kantoran? senang kan?" Yogi menjatuhkan pantatnya di kursi samping Atin.


"Menurutku nggak enak, pak. Masih enak kerja di kios pasar bersama bapak," jawab Atin sekenanya.


"Oalah, kamu itu aneh. Kebanyakan orang itu lebih nyaman saat bekerja di kantoran, tidak kepanasan,adem pake AC." Yogi terkekeh menggelangkan kepalanya.


"Nak, kenapa sampai sekarang kamu masih betah menyendiri? padahal kamu sudah cukup umur untuk menikah, masa sama sekali nggak ada pria yang kamu sukai?" Yogi bertanya menyelidik.


"Bukan cukup umur, pak. Tapi sudah tua," Atin tergelak dalam tawanya.


"Pak, aku itu takut mengalami hal seperti ibu. Khawatir karma bapak jatuh padaku," Atin menghela napas panjang.


Setelah mendengar perkataaan dari Atin, Yogi hanya diam saja. Dia menyadari kekeliruan dan kesalahpahaman yang dulu pada Mita. Namun nasi telah menjadi bubur, penyesalan tiada gunanya.


Yogi bangkit dari duduknya dan berlalu pergi masuk ke dalam rumah. Dalam hati selalu merutuki diri sendiri yang bersikap bodoh.


Sementara selagi asik melamun, ponselnya berdering yang tak lain dari Keano.


πŸ“±"Asalamu alaikum, Tin. Kamu sudah pulangkah?"


πŸ“±"Walaikum salam wr wb, sudah beberapa jam yang lalu."


πŸ“±"Bagaimana hari pertama kamu kerja di kantor Tara?"


πŸ“±"Wah, liar biasa membosankan. Mungkin sudah terbiasa menjadi kuli, sehingga merasa canggung saat bekerja di kantoran."


Kemudian Atin bangkit dari duduknya, dia mencari tempat yang aman untuk ngobrol dengan Keano. Karena dia tak ingin bapaknya mengetahui percakapannya dengan Keano.


Misi yang sedang di jalankan Atin adalah misi rahasia yang tidak boleh di ketahui siapapun, hanya dia dan Keano saja yang tahu.


Setelah berada di tempat yang menurut Atin aman dan nyaman. Dia mulai bercerita panjang lebar tentang kebusukan Tara.

__ADS_1


πŸ“±"Tara ternyata pria yang sangat jahat, dia benar-benar penjahat kelas kakap."


πŸ“±"Bukan hanya Intan dan Laras yang telah di tipu olehnya."


πŸ“±"Dia bahkan memperdaya seorang wanita lajang. Hingga kini punya seorang bayi perempuan yang saat ini baru berusia dua bulan."


Keano sangat fokus mendengarkan semua cerita tentang hari pertama kerja di kantor Tara. Hingga satu jam lamanya, mereka bercengkrama di dalam panggilan telpon.


Atin menghentikan bicaranya, saat ponselnya tiba-tiba mati karena daya batrenya telah habis.


Mendengar laporan hari pertama Atin di kantor Tara, membuat Keano menyeringai tersenyum. Karena ternyata rencanamya berjalan sangat mulus.


Awalnya dia berpikir jika Atin akan sangat susah untuk bisa masuk ke kantor Tara dengan menggunakan identitas palsu.


"Sepertinya tidak lama lagi, Tara akan masuk dalam jebakan. Tapi sayangnya Atin susah sekali di beri pengajara."


"Padahal jika Tara sudah langsung suka padanya, dia bisa dengan gampang memperdayanya."


"Tapi kenapa saat dia di ajak makan siang saja nggak mau. Bagaimana dia akan bisa lebih dekat dengan Tara?"


"Apakah Atin punya trik tersendiri untuk bisa menjebak Tara? kadang dia memang suka membuat suatu hal yang tak terduga."


Demikian Keano menggerutu di dalam hatinya setelah cukup lama dia bercengkrama dengan Atin di dalam panggilan telpon.


Keano berencana akan pergi ke apartement untuk menceritakan semua pada Intan. Supaya Intan mengetahui kebusukan dari Tara yang telah memperdaya seorang wanita lemah.


Tak terasa malam menjelang, namun Tara belum bisa memejamkan matanya. Dia saat ini sedang bosan dengan Laras, dan dia memutuskan untuk pergi ke rumah Tia.


"Sebaiknya aku ke rumah Tia saja, lama-lama aku bosan juga dengan Laras." Tara melangkah ke garasi mobilnya dan lekas masuk dalam mobil.


Dia melajukan mobilnya menuju ke rumah Tia. Sementara Laras terbangun tak mendapati Tara ada di sisinya. Diapun penasaran ingin mengetahui keberadaan dari Tara.


Laras bangkit dari pembaringannya.


"Mas Tara, kemana dia tengah malam seperti ini?" Laras mulai menjelajahi seluruh ruangan yang ada di rumah tersebut.


"Kemana nggak ada?" Laras melangkah ke garasi mobil untuk memastikan apakah ada mobilnya atau tidak.

__ADS_1


*******


__ADS_2