Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Curhatan Laras


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, sampai juga Reno di rumahnya. Saras sudah menunggu di teras halaman.


"Pi, memangnya jauh ya? sampai malam begini baru sampai?" Saras menghampiri Reno.


"Nggak begitu sih, cuma di sana sempat aku bongkar semua kebusukan Tara pada wanita itu," Reno menjatuhkan pantatnya di kursi teras.


Reno mulai bercerita pada Saras tentang apa yang di lakukan oleh Tara. Reno juga menunjukkan semua rekaman vidio Tara bersama Tia pada Saras.


"Astaghfiruloh alazdim, kasihan sekali Laras. Papi, dapat dari mana vidio itu?" Saras mengernyitkan alisnya.


"Aku dapat dari orang bayaranku, mi. Saat terakhir kita ke rumah Laras, pintu gerbang di kunci dan nomor ponsel Laras di ganti sampai dua kali. Aku mulai curiga dengan Tara, makanya aku mencari orang bayaran untuk menyelidikinya," Reno berbohong mengenai vidio tersebut.

__ADS_1


"Hem, mami nggak akan tinggal diam. Mami juga punya rencana, pi. Tolong kirim vidionya ke mami, juga alamat rumah wanita itu," pinta Saras pada suaminya.


"Memangnya apa yang akan mami lakukan pada wanita itu? pasti wanita itu juga telah di perdaya Tara, jadi dia nggak salah," Reno mengernyitkan alisnya tanda penasaran.


"Mami tahu kok, pi. Intinya mami akan buat wanita itu meninggalkan Tara, dan tugas papi buatlah supaya Laras yang menggugat cere Tara. Lagi pula buktinya sudah ada, pasti proses gugatan cerai Laras tidak akan memakan waktu lama," kata Saras panjang lebar.


Reno mengirim notifikasi chat pesan pada nomor ponsel Saras dengan mengirim alamat rumah Tia yang baru, serta beberapa vidio yang di dapat dari Intan.


"Laras, sudah jangan menangis terus. Sekarang yang harus kamu pikirkan adalah bagaimana caranya menyelesaikan permasalahanmu ini," Intan mencoba menghibur Laras.


"Aku sama sekali nggak menyangka, bu. Aku kira selama ini suamiku setia padaku, karena selalu bersikap manis padaku. Tapi ternyata di balik sikap baiknya menyimpan kedustaan," air mata Laras terus saja tercurah, hampir tak bisa di hentikan.

__ADS_1


"Ibu tak bisa memberikanmu pendapat lain, hanya satu yang ingin ibu katakan padamu, buatlah keputusan yang tepat untuk hatimu. Biasanya jika pria sudah bermain gila di luaran sana, sudah tidak akan bisa berubah," Intan berusah menasehati Laras.


"Bukankah kamu pernah bercerita, jika sebelum ini suamimu ada di rumah cuma tiga hari atau empat hari dalam seminggu. Kenapa dari dulu kamu tidak mencurigainya?" Intan mencoba menyadarkan Laras, akan perilaku Tara yang tidak benar.


"Iya, bu. Itu malah sudah lama sekali terjadi, kalau nggak salah selama tiga tahun lebih Mas Tara ada di rumah hanya tiga atau empat hari dalam seminggu. Dia selalu beralasan ada urusan yang menyangkut pekerjaan tapi di luar kota," jawab Laras panjang lebar.


"Apa kamu juga tahu kantornya, dan berusaha mengecek ke kantornya?" tanya Intan menyelidik.


"Aku sama sekali nggak tahu dimana kantor tempat Mas Tara bekerja, bu. Sering aku bertanya tapi dia tak pernah menjawabnya, malah yang sering mengalihkan pembicaraan atau malah marah. Makanya sejak saat itu aku tak pernah bertanya lagi padanya," Laras menjelaskan panjang lebar.


"Ya Allah, Laras. Harusnya dari saat itu kamu sudah mulai curiga padanya," batin Intan merasa iba pada kepolosan Laras.

__ADS_1


*******


__ADS_2