Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Obrolan Kakak & Adik


__ADS_3

Tujuan penyamaran Atin untuk membuka mata hati Laras, dan supaya Laras berpisah dari Tara. Kini tanpa dia melakukan apapun, Laras sudah membuka matanya sendiri.


Atin memutuskan bertanya pada Intan, apakah dia harus lanjut atau berhenti saja? Dia melangkah menuju ke kamar Intan.


"Intan, saat ini Laras telah mengurus perceraiannya dengan Tara. Menurutmu, apakah aku melanjutkan misiku atau tidak?" tanya Atin mengernyitkan alisnya.


"Sebaiknya berhenti, mba. Ngga usah di lanjutkan lagi penyamarannya," saran Intan tegas.


"Tapi aku belum sempat membuat Tara sengsara dan menderita. Sepertinya kurang sempurna jika aku belum melihatnya menjadi gembel," Atin masih belum ikhlas dengan apa yang di lakukan Tara pada adik dan keponakannya.


"Ngggak perlu, mba. Biarlah Allah yang membalasnya, kita tak perlu mengotori tangan kita dan menambah dosa kita. Jika kita balas dendam, semua tak akan ada ujung pangkalnya dan tak akan ada habisnya," pinta Intan mengingatkan Atin.


"Baiklah, kalau begitu aku resign dari kantor Tara," ucap Atin singkat.

__ADS_1


"Iya, mba. Memang lebih baik seperti itu saja," Intan menyunggingkan senyum pada Atin.


"Bagiku yang terpenting Laras telah lepas dari Tara, itu saja sudah cukup bagiku. Hem, kapan Mba Atin akan menikah?" tiba-tiba Intan bertanya seraya menaik turunkan alisnya menatap Atin.


"Haduh, kok topik pembicaraan jadi merembet ke aku?" Atin menggelengkan kepalanya.


"Memangnya kenapa, mba? apa mba nggak ingin memiliki pendamping hidup? apa mba juga nggak ingin memiliki anak?" serentetan pertanyaan keluar lagi dari bibir Intan.


"Jujur, aku ini normal seperti wanita pada umumnya ingin memiliki suatu keluarga, suami dan anak. Tapi karena perpisahan orang tua kita dulu, yang membuat aku jauh dari pria. Tapi sekarang sudah telat bagiku untuk menikah. Umurku sudah tidak muda lagi, selisih satu tahun denganmu. Kamu sudah memiliki cucu, sedangkan aku belum pernah menikah sama sekali. Lagi pula mana ada pria yang mau dengan perawan tua," Atin tertunduk malu.


"Entahlah, Intan. Aku nggak tahu seperti apa kelak hidupku di masa depan," Atin menghela napas panjang.


"Mba Atin, nggak boleh berputus asa. Hidup itu penuh perjuangan, aku saja yang telah gagal berumah tangga dua kali, tak pernah putus asa." Intan kembali lagi mensuport Atin.

__ADS_1


"Berarti kamu akan mencari pendamping lagikah?" tanya Atin penasaran.


"Bukan itu maksudku, mba. Aku tetap bertahan hidup demi Laras dan Adam maksudku," Intan mengerucutkan bibirnya.


"Tapi aku yakin, tidak lama lagi kamu akan mendapatkan pendamping hidup. Kali ini aku yakin rumah tanggamu akan langgeng," Atin sangat yakin dengan perkataannya.


"Ist, Mba Atin. Seperti seorang cenayang saja, bisa meramal masa depan orang," Intan terkekeh saat mendengar ucapan dari Atin.


"Aku serius dengan perkataanku, masa kamu nggak peka dengan seorang pria yang selalu membantumu dan selalu ada di dekatmu?"


"Jika dia tak mempunyai rasa cinta padamu, tak mungkin dia akan selalu ada di sampingmu. Pikirkanlah akan hal itu."


Atin berkata panjang lebar untuk meyakinkan Intan.

__ADS_1


"Aku masih bingung dengan semua yang mba katakan padaku. Siapa pula orang yang mba maksud?" Intan masih saja belum tahu siapa yang sedang di bicarakan oleh Atin


*******


__ADS_2