
"Ko aneh ya, masa melihat foto anaknya malah pingsan? apa mungkin dari awal mereka telah saling mengenal, tapi Intan pada saat itu belum mengetahui jika Laras adalah anak kandungnya?" Rendi menafsirkannya.
"Entahla, aku juga bingung. Pada saat aku ingin menolong Intan yang sedang pingsan, malah aku di usir di pukul pakai sapu sama Bu Mita," Reno menggelengkan kepala seraya menghela napas panjang.
"Hhhhaaa asik dong di usir pake sapu layaknya kotoran," ejek Rendi terkekeh.
Reno mengerucutkan bibirnya mendengarkan ejekan dari Rendi. Dia masih saja penasaran dengan Keano, tapi bingung bagaimana caranya untuk menyelidikinya.
Sementara Keano telah menggendong Intan dan membaringkannya di pembaringan. Intan belum juga sadarkan diri.
Bu Mita terus saja menangis, dia masih lemas di sofa ruang tamu. Membuat Keano mengernyitkan alis, heran dan penasaran.
"Bu, sebelumnya aku minta maaf jika terlalu lancang ingin mengetahui semuanya? sebenarnya apa yang terjadi pada Intan dan ibu?" Keano menatap sendu Bu Mita yang terus saja menangis seraya pandangannya kosong.
Bu Mita akhirnya menceritakan semuanya dari masa lalu Intan saat di talak begitu saja oleh Reno dan sampai Intan tahu jika anan kandungny adalah istri sah suaminya.
Keano sangat fokus dan seksama mendengar semua cerita dari Bu Mita. Awalnya Keano sempat tertegun heran mendengar cerita dari Bu Mita. Namun dia mencoba untuk tidak kaget dan bersikap biasa saja.
"Ya Allah, ternyata kisah hidup Intan sangatlah tragis. Padahal selama ini Intan selalu mampu membuat Kevin tersenyum."
"Jadi ini alasan kenapa suami Intan membuat makam kosong untuk anak Intan. Supaya kebusukan tidak di ketahui. Intinya suami Intan telah tahu jika dia menikahi ibu dan anak sekaligus. Mungkin saat ini anak Intan belum tahu tentang Intan," batin Keano sedari tadi menggerutu.
"Bu, lebih baik kita lihat kondisi Intan. Ibu yang sabar ya, demi Intan dan bayinya. Karena saat ini Intan pasti sangat membutuhkan kehadiran ibu," Keano mencoba menghibur Bu Mita.
Bu Mita di tuntunnya melangkah ke kamar Intan. Mereka bersama-sama melihat kondisi Intan. Bu Mita mengolesi kaki dan pelipis Intan dengan minyak kayu putih.
Bu Intan masih saja meneteskan air mata, dia merasa iba dengan nasib yang menimpa Intan.
Tak berapa lama kemudian Intan membuka matanya perlahan, namun matanya masih saja sembab.
"Bu, Mas Keano?" kata Intan lirih.
"Bagaimana Mas Keano bisa ada di sini?" tanya Intan lirih.
__ADS_1
"Kamu nggak usah memikirkan hal ini dulu. Sekarang pikirkan dulu kesehatanmu, sebentar lagi Kevin kemari. Dia sangat merindukanmu," Keano tersenyum sangat manis.
"Terima kasih, mas." Kata Intan lirih.
"Tenangkan hatimu dulu, jangan memikirkan masalahmu. Pikirkanlah kesehatan janin yang ada di kandunganmu," Keano mencoba menghibur Intan.
"Nggak bisa, mas. Semua ini sungguh menyakitkan bagiku, aku nggak menyangka sama sekali akan mengalami hal sepahit ini," jatuhlah kembali bulir bening dari mata Intan.
"Semua sudah takdir dari Allah, jadi kamu sebisa mungkin harus bisa sabar dan kuat. Yakinlah Allah tidak akan memberikan masalah di luar batas kemampuan manusia itu sendiri. Yakinkan hatimu, bisa menghadapi semua ini. Demi anakmu ini, jadi bangkitlah." Keano tiba-tiba mengusap perut Intan.
"Maaf, aku reflek." Keano menghentikan usapan pada perut Intan.
"Intan, berjuanglah dan bangkitlah. Ada ibu, aku, dan Kevin yang akan selalu mendukungmu," Keano kembali lagi mencoba menghibur Intan.
Tak berapa lama, datanglah Kevin berlari kecil memeluk Intan.
"Mamah."
Berbeda situasi di rumah Saras, dia saat ini sedang marah hebat. Dia juga gelisah karena tak ada kabar baik dari Reno maupun Laras.
"Sebenarnya kemana bapak dan anak? apa mereka saat ini sedang bernostalgia bersama Intan? karena aku cari ke restorannya Intan juga tidak ada," gerutunya seraya mondar mandir.
Saras tak tahu harus mencari kemana lagi keberadaan Laras dan Reno. Begitu pula dengan Tara yang saat ini bingung, harus kerja dimana lagi karena dia sudah tidak di ijinkan bekerja ke kantor.
"Hem, aku ambil saja saldo ATM yang banyak untuk modal usahaku. Dengan begini aku tidak akan pusing memikirkan pekerjaan." Tara melajukan mobilnya menuju ke ATM terdekat.
Namun saat sudah di dalam ATM, dia sama sekali tidak bisa tarik tunai.
"Aduh, pasti ini ulah Intan lagi kartu ATMku juga di bekukan. Kalau seperti ini aku mati kutu, sama sekali tidak bisa bergerak lagi," Tara mengacak-acak rambutnya sendiri.
"Jalan satu-satunya aku harus menemukan keberadaan Intan dan membujuknya." Tara melajukan mobilnya kembali mencari keberadaan Intan.
Berkali-kali dia mencari di beberapa restorannya sampai beberapa kali juga kembali ke restoran tersebut namun tidak jua di temuinya Intan.
__ADS_1
"Lebih baik aku telpon saja dan menanyakan dimana keberadaannya saat ini." Tara lekas menelpon Intan.
"Intan, apa aku saja yang mengangkat telponnya?" Keano melirik ke ponsel Intan yang terus saja berdering.
Biarkan saja, mas." Jawab Intan lirih.
"Nak, sebaiknya kamu ganti saja nomor ponselmu dengan yang baru. Supaya Tara tidak terus mengganggumu," Bu Mita memberi saran.
"Ya, bu. Nanti kalau aku sudah enakan beli kartu yang baru. Untuk sementara rijek saja jika Tara telpon," air mata Intan melelehkan kembali.
"Mah, jangan menangis lagi. Aku dan dede bayi sedih jadinya." Kevin mengusap air mata Intan.
"Sungguh keterluan Tara, bisa-bisanya membohongi ibu dan anak sekaligus!" batin Keano sangat geram.
Tapi dia tak bisa berbuat apapun karena hubungan dia sebatas teman saja. Ingin sekali menolong Intan tapi tak bisa.
Sementara Intan masih saja tidak habis pikir, bagaimana bisa Tara melakukan hal ini padanya dan Laras.
"Ya Allah, berikan hamba petunjukMu. Bagaimana aku bisa menghadapi Laras? bagaimana pula aku bisa berkata jujur padanya, jika aku ini ibu kandungnya sekaligus madunya?"
"Kenapa sejak aku berpisah dari Reno, dan telah di hianti. Bukannya hidup menjadi lebih baik, malah semakin rumit saja."
"Ya Allah, jalanku telah buntu. Aku sama sekali tak tahu harus berbuat seperti apa untuk menyelesaikan permasalahanku ini?"
Demikian gerutuan Intan di dalam hati seraya air mata mengalir begitu derasnya tak habis-habisnya. Dia putus asa tak tahu jalan mana yang harus dia tempuh untuk menyelesaikan permasalahannya.
"Bu, kami pulang dulu. Karena nggak enak jika terlalu lama di sini. Jika ada apa-apa jangan sungkan telpon saja." Keano menyalami Bu Mita.
Namun Kevin tak beranjak dari duduknya di tepi ranjang.
"Pah, aku nggak bisa meninggalkan mamah dalam kondisi seperti sekarang ini. Pah, boleh ya? aku menginap di sini, lagi pula kan sekolah libur tinggal menunggu ijasah saja," Kevin menatap sendu Keano.
********
__ADS_1