
Sejenak Laras terdiam mendengar penuturan dari Tara.
"Berarti Mami Saras telah berbohong padaku?" Laras masih ragu.
"Bisa jadi, dia sengaja melakukan hal itu supaya kamu membenci ibu kandungmu sendiri, sehingga dia menang terhadap papi dan dirimu. Mendengar ceritamu ini, aku jadi merasa iba pada ibu kandungmu. Pasti dia sangat menderita bertahun-tahun karena berpisah denganmu."
"Ya Allah, kasihan sekali ibu kandungmu. Sudah harus berpisah dengan papimu, di tambah lagi berpisah denganmu. Aku tidak bisa membayangkan betapa hancurnya ibu kandungmu."
Tara mulai berakting, dan terus menghasut Laras supaya dia membenci Saras. Karena selama ini Tara dan Saras tidak pernah akur.
"Sayang, aku ingin membantumu mencari keberadaan ibu kandungmu. Kamu pasti nggak akan sanggup melakukannya sendiri, karena repot mengurus Rizky," Tara menawarkan diri.
"Serius, mas?" Laras masih merasa tak percaya.
"Sangat sangat serius, sayang. Apa kamu punya foto ibu kandungmu, apa Papi Reno pernah menunjukkan fotonya padamu?" Tara menyelidik.
__ADS_1
"Sayangnya, aku nggak punya fotonya. Cuma tahu namanya saja, yakni Intan. Mirip nama Bu Intan kenalanku ya, tapi aku tak tahu nama lengkap ibu kandungku. Hanya papi pernah mengatakan jika nama ibu adalah Intan," jawab Laras sekenanya.
"Deg deg deg." jantung Tara berdetak kencang.
"Ya Allah, apakah memang Intan istriku adalah ibu kandung, Laras? bagaimana jika memang benar, berarti aku menikahi anak dan ibu sekaligus?" batin Tara menjadi sangat gelisah.
Raut wajah Tara berubah pucat seketika, membuat Laras mengernyitkan alis tanda heran.
"Mas Tara, kenapa sepertinya kamu gelisah sekali? apa perkataanku aneh atau bagaimana?" Laras merasa penarasan.
"Aku juga kaget, mas. Aku sempat berpikir, apakah Bu Intan yang selama ini aku kenal adalah ibu kandungku? karena dia juga memiliki cerita yang sama, yakni berpisah dengan anak kandungnya saat dia melahirkan. Sayang sekali, papi belum sempat menunjukkan padaku foto ibu kandungku, yang membuatku menjadi tambah penasaran," ucap Laras panjang lebar seraya menghela napas panjang.
"Ya sudah, mulai sekarang janganlah terlalu banyak berpikir. Karena aku nggak ingin, istriku yang cantik ini menjadi sakit. Kasihan dengan Risky jika kamu kenapa-kenapa. Biar masalah ini jadi urusanku." Tara menyunggingkan senyum seraya mengusap surai hitam Laras.
"Terima kasih ya, mas. Kamu memang suami yang sangat pengertian, tidak seperti suami Bu Intan yang selalu menyakiti hatinya. Kadang aku suka iba padanya, tapi aku tak berani turut campur masalah rumah tangga Bu Intan," Laras menyunggingkan senyum.
__ADS_1
Berbeda dengan Tara, agak sedikit tersinggung dengan perkataan Laras. Namun dia mencoba menahan rasa geramnya itu.
"Sialan, kenapa juga Intan berkata buruk tentangku pada Laras. Jika dia tidak kaya, aku tidak akan bertahan sampai sekarang dengannya. Dia juga cantik dan sangat menarik walaupun usianya lebih tua dariku," batin Tara menahan rasa kesalnya.
Tara akan segera menyelidiki hal ini, supaya lekas mendapat kejelasannya. Tara meminjam ponsel Laras.
"Sayang, aku ingin pinjam ponselmu sejenak bisa nggak?" Tara meminta ijin.
"Untuk apa, mas? " Laras mengernyitkan alis.
"Untuk tanya tentang foto ibu kandungmu. Biar aku yang selidiki, kamu nggak usah mengatakan apapun pada orang tuamu," Tara memperingati Laras
Laras memberikan ponselnya pada Tara.
*******
__ADS_1