Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Intan Pindah


__ADS_3

Sementara di rumah Keano, Kevin menceritakan semua yang terjadi saat dia menemani Intan ke makam yang ternyata kosong.


Mendengar anak semata wayangnya itu, Keano merasa ada hal yang janggal. Dia berniat ingin membantu Intan menguak tabir rahasia ini.


"Pah, jika Allah mengijinka aku ingin Mamah Intan kelak bisa menjadi mamah sambung buatku. Saat aku ada di sampingnya, serasa berada di samping mamah kandungku. Karena semua yang ada pada diri Mamah Intan, sama seperti yang ada pada almarhumah mamah." Tiba-tiba Kevin berkata yang membuat Keano terhenyak kaget dan tersedak saat minum kopinya.


"Uhuk uhuk, kamu ini ngomong apa sih?" Keano tak bisa berkata lain.


"Pah, mau kan? jika suatu saat Mamah Intan pisah dengan suaminya, papah menikahinya?" pinta Kevin menatap sendu Keano.


"Siapa yang mengatakan jika Mamah Intan akan berpisah dengan suaminya? apa itu cuma penafsiranmu saja?" Keano menyelidik.


"Memang ini penasafsiranku, pah. Tapi aku yakin sekali, tidak lama lagi mereka akan berpisah. Karena sudah banyak sekali kesalahan yang di lakukan suaminya," Kevin sangat yakin dengan ucapannya.


"Nak, harusnya yang kamu pikirkan itu pelajaran sekolah. Bukan urusan orang dewasa," tegur Keano terkekeh.


"Aku sudah dewasa, pah. Sebentar lagi aku lulus SLTA, hanya menunggu ijazah keluar saja. Lagi pula umur tidak bisa untuk tolak ukur orang itu telah dewasa. Banyak orang yang telah berumur tapi kelakuan seperti anak kecil. Banyak pula yang masih muda tetapi bersifat dewasa, sepertiku ini." Kevin terkekeh.


"Waduh, kalau kamu sudah dewasa berarti sebentar lagi papah punya menantu dong," goda Keano terkekeh.


"Ist, kalau yang satu itu jangan dulu. Kerja saja belum," Kevin mengerucutkan bibirnya.


Suasana di rumah Keano selalu rame, walaupun mereka cuma berdua saja. Kebetulan Kevin anak yang penurut dan baik, dia tidak nakal dan tidak suka keluyuran. Kevin keluar rumah jika ada urusan sekolah saja.


Waktu berjalan begitu cepatnya, tak terasa sudah pagi kembali. Kini saatnya Intan dan ibunya menjalankan niatnya. Namun menunggu Tara pergi dulu.


"Sayang aku pamit ke kantor ya?" Tara mencium kening Intan.


"Ke kantor yang mana, nggak usah berbohong terus. Bilang saja kamu akan ke rumah Laras, kan?" sindir Intan tersenyum sinis.


"Memangnya kenapa kalau aku ke rumah Laras, toh dia itu masih istri sah aku," dengan sombongnya Tara berucap.

__ADS_1


"Ya nggak kenapa-kenapa, cuma nggak usah berbohong. Hanya menambah dosamu saja, apa karena sudah terbiasa berbohong jadi jika nggak berbohong kurang afdol ya," sindir Intan kembali.


Tara hanya diam saja, lantas dia pergi begitu saja menyalakan mobilnya.


"Ini kesempatanku untuk segera berkemas-kemas." Intan melangkah ke kamar ibunya.


"Bu, ini saatnya kita berkemas. Tara sudah pergi, pasti dia ke rumah istri sahnya." Intan memberi tahu pada ibunya.


"Baiklah, nak. Ibu akan berkemas- kemas." Bu Mita langsung mengambil kopernya.


Intan tak lupa ke paviliun belakang, ke kamar asisten rumah tangganya.


"Bi Mira, Mang Jajang. Sekarang juga kalian kemasi barang-barang kalian." Pinta Intan.


Sepasang suami istri ini salah paham, di kira Intan akan memecat mereka.


"Bu, apa salah kami? Jika kami punya salah tolong maafkan kami, tapi jangan pecat kami. Bagaimana nasib kedua anak kami, jika kami tidak bekerja," Bi Mira tiba-tiba ketakutan.


"Bi, saya meminta kalian berkemas bukan ingin memecat kalian. Tapi akan membawa kalian berdua ikut denganku pindah dari sini. Tapi saya minta, kalian jaga rahasia ini. Jika suatu saat suami saya, tanya pada kalian menghubungi lewat ponsel, kalian jangan memberitahu keberadaan kita. Kalian alasan saja nggak tahu atau alasan lainya." Panjang lebar Intan menjelaskan.


Sepasang suami istri ini langsung mematuhi perintah majikannya. Mereka langsung saja berkemas-kemas.


Intan juga telah meminta tolong pada beberapa asisten pribadinya yang ada di restoran untuk membantu kepindahan Intan.


Dia juga telah meminta supaya semua asisten dan karyawan supaya jangan memberitahukan kepindahannya pada Tara.


Banyak orang yang berbaik hati membantu kepindahan Intan dan ibunya, hanya dalam waktu sebentar saja telah selesai.


Kini mereka sedang dalam perjalanan menuju ke apartement milik Intan yang ada di kota B. Intan memilih apartement yang di kota B, supaya tidak terlalu jauh dari restorannya.


Hanya beberapa jam saja, mereka telah sampai di apartement tersebut. Sepasang suami asisten rumah tangga, mengemasi barang-barang milik majikannya ke dalam kamar.

__ADS_1


"Nak, sebaiknya kamu istirahat saja dulu. Supaya hilang rasa lelahmu, setelah perjalanan jauh." Saran Bu Mita.


"Iya, bu. Sebentar lagi, mau hubungi pengacaraku dulu," Intan sibuk dengan ponselnya.


"Lebih baik, ibu saja dulu yang istirahat. Pasti ibu juga cape kan?" Saran Intan.


Bu Mita menuruti Intan, dia melangkah ke kamarnya untuk beristirahat. Intan melanjutkan kembali dengan ponselnya.


Intan segera menelpon pengacaranya untuk menawarkan rumahnya, dan untuk membekukan semua kartu yang ada di tangan Tara, serta melarang Tara masuk ke kantor expedisi.


"Aku ingin lihat, Tara. Seberapa hebatnya kamu tanpa aku," gerutu Intan tersenyum sinis.


Dia sudah tidak bisa memaafkan Tara kembali, apa lagi barusan dia mendapat laporan dari pihak bank jika Tara telah menarik tunai uang dalam jumlah besar.


"Dasar pria tidak tahu malu dan tidak tahu diri, hanya bisa numpang hidup dan menjadi benalu. Aku yakin uang yang Tara ambil untuk kebutuhan istri sahnya!" Intan mendengus kesal.


Namun sejenak dia beristighfar, dan bisa meredakan amarahnya. Intan melangkah ke kamarnya dan merebahkan badannya di pembaringan.


Dia langsung memejamkan matanya dan terlelap dalam tidur. Sementara saat ini Tara memang bukan berada di kantor melainkan di rumah Laras.


"Aku tidak bisa memintanya pada Intan, setidaknya aku bisa minta pada Laras."


Tara mulai beraksi menghampiri Laras untuk meminta haknya. Dan Laras selalu saja menuruti kemauan Tara, tanpa pernah menolaknya sama sekali.


Walaupun Tara meminta di pagi hari maupun di siang hari, Laras tidak pernah menolaknya sama sekali. Walaupun kadang dia enggan, tapi dia tak ingin membuat marah suaminya.


"Sayang, terima kasih. Kamu memang istri yang sangat baik dan penurut. Terima kasih," Tara langsung meraih handuk dan melangkah ke kamar mandi untuk melakukan ritual mandi siangnya.


Laraspun merapikan kembali seluruh pakaiannya, sebelum Risky terbangun dari tidur siangnya.


Tara berendam di dalam bathup seraya menyunggingkan senyum kepuasan.

__ADS_1


"Ternyata punya dua istri enak juga, yang satu ngambek masih ada istri yang satunya lagi. Hhaa aku juga masih belum percaya, menikahi ibu dan anak sekaligus," batin Tara menyeringai puas.


*********


__ADS_2