
Tak terasa pagi menjelang, Intan dan Bu Mita telah terlebih dulu bangun. Sudah menjadi rutinitas sehari-hari, mereka selalu membantu para asisten rumah tangganya di dapur.
Baik Bu Mita dan Intan mempunyai hobi yang sama yakni memasak. Mereka lebih suka berkreasi di dapur, dan tidak pernah mengandalkan pada asisten rumah tangga.
Satu jam berlalu, berbagai menu masakan telah tersaji di meja makanan. Aromanya sungguh menggugah selera bagi yang menghirup aroma wangi masakan tersebut.
Satu persatu telah berkumpul di meja makan. Semua sudah siap dengan peralatan makanan yang tersedia di hadapan mereka.
Yogi merasa terharu saat melihat menu masakan yang sangat dia sukai yakni ayam rica-rica dan gudeg.
"Ya Allah, sudah puluhan tahun berlalu namun Mita masih saja mengingat masakan kesukaanku," batin Yogi dengan mata berkaca-kaca.
"Pak, ini minum untuk bapak. Apakah sudah ganti selera atau masih suka minum ini?" Mita meletakkan teh manis hangat di hadapan Yogi.
"Terima kasih, bu. Kebiasaan bapak dari dulu hingga sekarang belum berubah kok," Yogi menyunggingkan senyum.
"Bu, kalau siang hari bapak sukanya minum apa?" tanya Atin menyelidik.
"Kalau dulu, setiap siang bapak sukanya minum kopi susu. Bapak kalau minum kopi hitam perutnya suka perih," ucap Mita dengan sangat yakinnya.
"Wah, ternyata ibu masih ingat semua yang di suka maupun tidak di suka oleh bapak," celoteh Atin terkekeh.
"Pak, bu. Apa nggak sebaiknya kalian bersama lagi? supaya aku dan Intan juga bisa bersama," pinta Atin menatap sendu pada orang tuanya.
"Benar apa yang di katakan, Mba Atin. Kalau perlu bapak dan Mba Atin tinggal di sini. Supaya rumahku lebih hangat. Lagi pula rumah ini kan luas, jadi kalian pasti kerasan," pinta Intan.
"Biar nanti bapak pikirkan dulu ya, nak." ucap Bapak Yogi.
"Pak-pak. Apa lagi yang membuat risau hati bapak? bukankah dari dulu kira selalu berharap saat yang seperti ini yang lama kita nantikan?" Atin mengerucutkan bibirnya.
"Nak, bapak merasa tidak pantas lagi bersanding dengan ibumu setelah apa yang telah bapak lakukan padanya," Bapak Yogi tertunduk malu.
__ADS_1
"Ibu, kami juga ingin tahu apakah ibu masih bisa menerima, bapak?" tanya Intan menatap sendu pada Bu Mita.
Sejenak Bu Mita terdiam seolah sedang berpikir, semua orang menatap pada Mita membuatnya salah tingkah.
"Kalian semua kenapa menatap ibu seperti itu?" Bu Mita tertunduk malu.
"Jawab, bu. Jangan buat kami menunggu lebih lama lagi. Dan jangan buat kami menjadi penasaran," pinta Atin mengedipkan mata pada Bu Mita.
Suasana di meja makan menjadi ramai karena ada suatu hal yang sangat membuat penasaran semua yang ada di meja makan. Hanya Laras yang tak ikut berkomentar, dia hanya diam saja.
Tak lama kemudian, akhirnya Bu Mita berucap.
"Demi kedua anak ibu dan para cucu dan cicit, ibu memutuskan akan menerima kembali bapak menjadi pendamping, ibu." Bu Mita tertunduk malu.
"Alhamdulilah." Serentak Atin dan Intan mengucap syukur.
Keduanya bertepuk tangan tertawa riang seraya bangkit dari duduk saling berpelukan satu sama lain. Setelah itu keduanya secara bergantian memeluk bapak dan ibu mereka.
"Setuju, mba. Lebih cepat lebih baik." Intan mengacungkan kedua ibu jarinya.
Pagi itu juga, Atin dan Intan mengurus semua yang di perlukan untuk pernikahan ulang Bapak Yogi dan Ibu Mita. Sementara Laras tetap di rumah menjaga Adam dan Risky.
Hanya satu jam saja, Intan dan Atin mengurus surat-surat untuk pernikahan ulang orang tuanya. Semua juga di bantu oleh pengacara pribadi Intan yakni Pak Imron.
Intan juga telah memesan baju gamis yang warnanya senada dengan koko, baju couple untuk acara ijab dan qabul. Serta batik couple untuk semua anggota keluarga dan juga calon pengantin.
Pernikahan akan di adakan siang ini juga pukul satu siang, setelah selesai waktu sholat dhuhur.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya waktu yang telah di tunggu telah tiba yakni ijab qabul. Hati sepasang calon pengantin ini merasa berdebar, walaupun sebelumnya mereka juga pernah menikah.
Acara sangat khusyu, dan Bapak Yogi sangat lancar dalam melafalkan kata-kata di acara tersebut. Semua merasa lega, karena acara pernikahan yang mendadak ini berjalan lancar tidak ada halangan apapun.
__ADS_1
Sore hari akan di adakan acara syukuran, Intan telah menyiapkan semuanya. Dia juga telah meminta tolong pada Ustad Soleh untuk memimpin doa di acara syukuran tersebut.
Sore menjelang, acara syukuran telah tiba. Intan hanya mengundang tetangga terdekat saja, juga Keano dan Kevin ikut pula hadir.
Semua merasa bahagia hanya Laras yang selalu murung. Dia sama sekali tidak bisa tersenyum. Dan sejak tinggal di rumah Intan, dia lebih banyak diam. Tidak seperti waktu dulu, yang gampang tersenyum, dan apapun selalu di tanyakan pada Intan.
Hati Laras terus saja tertuju pada Tara yang tak jua ada kabarnya. Sementara saat ini Tara sedang gelisah, karena Atin tidak berangkat bekerja. Atin sengaja menon aktifkan nomor ponsel urusan kantor.
Dia tidak ingin terganggu hari ini, karena ini adalah hari bahagia dirinya. Setelah sekian lama Atin mengharapkan bertemu ibu dan adik kandungnya.
"Cantika, kemana sih kamu? kenapa pula nomor ponselmu tidak aktif, dan kenapa pula kamu tidak memberi kabar padaku? sebenarnya kamu nggak kerja karena apa? semoga saat ini kamu baik-baik saja." Gerutu Tara terus saja mencoba menelpon nomor ponsel Atin.
Tara sama sekali tidak memikirkan Laras dan Risky. Di pikirannya saat ini hanyalah Cantika saja, dia tidak tahu jika saat ini Laras mengharapkan dia menghubunginya.
Berbeda dengan Saras yang sangat mengkhawatirkan Laras.
"Pi, beberapa hari nggak ada kabar dari Laras, kok papi nggak ada rasa khawatir sama sekali?" Saras menatap tajam Reno seraya mengernyitkan alis.
"Laras ksn sudah dewasa, mi. Dia pasti sudah bisa memutuskan langkah apa yang terbaik untuk dirinya," ucap Reno singkat.
"Pi, tumben kamu nggak ada rasa gelisah sama sekali. Nggak seperti biasanya kamu merasa gelisah jika sehari saja nggak ada kabar dari Laras," Saras merasa heran dengan sikap Reno yang menurutnya agak aneh.
Reno tidak merasa gelisah karena sudah tahu keberadaan Laras. Sejak ponsel pernah di buka oleh Saras, mulai sekarang Reno selalu mengunci ponselnya.
"Sudah dua hari ini, Laras tidak menghubungiku, ada apakah gerangan?" batin Reno di liputi tanda tanya.
"Semoga suasana hatinya lekas riang kembali," gerutunya kembali.
Baik Intan maupun Laras tidak memberitahu tentang pernikahan ulang Mita dan Yogi.
********
__ADS_1