
Seperti biasa, saat Intan berkata panjang lebar. Setelah itu, Tara pasti hanya diam saja tak bisa merespon segala yang di ucapkan oleh Intan.
"Sebenarnya apa yang di katakan oleh Intan memang ada benarnya. Aku sudah merasakan betapa susahnya bersikap adil pada kedua istriku. Pasti ada saja hati yang tersakiti, tapi aku juga tidak bisa memilih salah satu di antara mereka. Karena aku benar-benar cinta dan sayang keduanya. Baik istri muda maupun istri tua," batin Tara seraya menghela napas panjang.
"Kenapa kamu diam, pasti sedang merenungkan apa yang barusan aku katakan bukan?" Intan menghardik Tara yang terus saja bengong.
"Tidak kok, itu cuma perasaanmu saja," Tara mencoba menutupi rasa gugupnya.
Intan hanya bisa menghela napas panjang, di dalam batinnya merasa geram pada Tara yang menurutnya tak bisa bersikap tegas dalam mengambil keputusan.
Sementara Reno ingin mencari tahu nomor ponsel Intan. Karena dia ingin sekali membuka kejahatan Saras yang telah memerintah Bu Tuti membuat gaduh di restorannya.
Reno mencari tahu nomor ponsel Intan lewat resepsionist di rumah sakit. Setelah mendapatnya, dia mengirim pesan pada nomor ponsel milik Intan. Namun kebetulan ponsel Intan sedang tidak aktif karena sedang di isi daya batre.
"Kenapa nomor ponsel Intan tidak aktif? apakah resepsionist itu memberikan nomor yang salah padaku?" berkali-kali Reno mencoba menelpon Intan.
"Aku yakin, saat ini Mas Reno sedang menelpon Intan," batin Saras terus saja menatap curiga pada Reno.
"Pi, sedang ingin menelpon siapa? sepertinya nomor yang papi telpon nggak merespon ya?" tiba-tiba Laras bertanya seraya mengernyitkan alisnya.
"Telpon klien, tapi nomornya nggak aktif juga. Padahal ada hal penting yang ingin papi sampaikan," Reno berbohong pada Laras seraya terus saja mencoba menelpon Intan.
"Klien apa klien?" tiba-tiba Saras menyindir dan menatap sinis pada Reno.
"Mi, kok mami mengatakan seperti itu pada papi?" Laras merasa curiga dengan hubungan orang tuanya yang sepertinya sedang ada masalah.
"Ya, mamimu berapa hari selalu memancing emosi papi. Terutama hari ini, dia selalu berulah," Reno menatap sinis pada Saras.
__ADS_1
"Sebenarnya papi dan mami sedang ada masalah apa sih? Seharusnya jika sedang ada masalah, di selesaikan secara baik-baik. Jangan saling sindir menyindir, tapi kalian coba bicara dari hati ke hati," Laras mencoba menasehati orang tuanya.
"Bagaimana mami nggak kesal dengan papimu! beberapa hari terakhir papimu sering menemui mantan istrinya, bahkan waktu itu di rumah sakit ini juga." Saras tak bisa mengendalikan diri. Dia kecepplosan mengatakan hal itu.
"Apa, mantan istri?" Laras terhenyak kaget mendengar penuturan Saras.
"Aduh, kenapa aku keceplosan berkata, bodohnga aku! pasti Mas Reno malah akan semakin marah padaku," batin Saras menghela napas panjang.
"Pi, setahuku papi sebelumnya tidak punta mantan istri. Hanya mami istri satu-satumya papi." Laras masih belum percaya.
"Kamu sendiri yang telah membukanya, Saras. Jadi aku akan menceritakanya semusnya," batin Reno menyeringai puas.
"Apa yang mamimu ucapkan memang benar adanya, jika papi dulu pernah menikah dengan seorang wanita yang sangat baik, ucap Reno melirik sinis pada Saras.
"Papi, sedang bercanda kan?" Laras tak percaya pada ucapan Reno.
Karena selama ini baik Reno maupun Saras menutup rapat masa lalu. Sehingga Laras tak pernah tahu jika Reno pernah menikah.
"Pi, bisa kita bicara sebentar." Saras menarik paksa tangan Reno menjauh dari Laras.
"Sepertinya ada yang mereka sembunyikan dariku, jika tidak mana mungkin mami mengajak papi ngobrolnya menjauh dariku," Laras terus saja menatap kepergian orang tuanya.
Saat ini Reno dan Saras berada di luar ruang rawat Rizky.
"Pi, kenapa kamu mengatakan hal yang tak semestinya kamu katakan. Apa kamu lupa dengan janjimu padaku dulu?" Saras berbisik karena tak ingin Laras mendengarnya.
"Kenapa kamu malah marah padaku, bukannya kamu tadi yang terlebih dulu memulainya. Aku cuma mengikuti saja apa kemauanmu, kenapa malah menyalahkanku. Menurutku bagus juga jika Laras tahu sekarang, toh dia saat ini sudah dewasa," Reno tersenyum sinis.
__ADS_1
"Mas, tolong jangan kamu lakukan hal ini. Aku tak bisa membayangkan jika kelak Laras pergi dariku, sementara aku sudah sangat menyayanginya walaupun dia tidak lahir dari rahimku," kata Saras memohon dengan mata berkaca-kaca.
Tanpa mereka sadari, Laras telah mendengar semua pembicaraan dari balik tembok. Laras lantas melangkah keluar pintu menghampiri orang tuanya.
"Jadi aku ini bukan anak kandung, mami? lantas di mana ibu kandungku? apakah yang tadi papi katakan sebenarnya adalah benar? jika papi sebelumnya pernah menikah, dan apakah aku anak dari mantan istri, papi?" serentetan pertanyaan keluar dari mulut Laras.
Baik Reno maupun Saras terhenyak kaget karena tak mengetahui kedatangan Laras yang secara tiba-tiba. Reno dan Saras saling berpandangan, sejenak keduanya terdiam tak bisa menjawab pertanyaan dari Laras.
"Pi, mi. Kenapa kalian diam saja, jawab pertanyaanku? aku sudah mendengar semua yang barusan kalian katakan. Jadi tak usah kalian menyembunyikan rahasia yang bertahun-tahun kalian simpan rapat. Benar yang tadi papi ucapkan, aku sudah dewasa, jadi sudah saatnya aku tahu semuanya," Laras kembali membujuk orang tuanya untuk mengatakan yang sebenarnya.
Saat Reno akan mengatakan berkata jujur, Saras menatap memelas pada Reno.
"Pi, aku mohon." Saras berkata lirih seraya menggelengkan kepalanya.
Saras meminta supaya Reno tidak menceritakan masa lalu mereka. Namun Reno tidak memperdulikan larangan dari Saras. Dia tetap akan berkata jujur pada Laras.
"Nak, memang dulu papi pernah menikah. Tapi papi berbuat salah padanya, dan selingkuh dengan dia," Reno menatap sinis pada Saras seraya menunjuknya.
"Bahkan papi telah mengambil paksa dirimu dari ibu kandungmu, saat kamu baru di lahirkan. Itu semua karena perintah dia," kembali lagi Reno menunjuk pada Saras.
"Tidak, cerita itu tidak benar. Jangan kamu dengarkan papimu! Justru ibu kandungmu yang telah meninggalkanmu begitu saja, dan akhirnya mami yang merawatmu."
"Kami tidak pernah selingkuh, justru papimu menikahi mami supaya kamu ada yang merawatnya. Karena ibu kandungmu meninggalkanmu begitu saja, Laras."
Saras sengaja berkata dusta untuk menghasut Laras supaya membenci Intan.
"Tolong kalian jangan ada yang berbohong, aku bingung harus percaya pada papi atau mami. Karena hanya kalian yang tahu kebenarannya, tolong jangan buat aku gelisah memikirkan hal ini," Laras menangkupkan kedua tangannya di dada.
__ADS_1
"Nak, papi telah berkata yang sebenarnya. Ibu kandungmu tidak pernah bersalah, pasti saat ini dia juga masih mengharapkan bertemu denganmu," Reno mencoba meyakinkan Laras.
**********