
Namun Saras tetap berdiri di tempatnya, tak berkutik sama sekali.
"Kamu tega, mas? mau menalakku, setelah apa yang aku berikan untukmu?" mata Saras berkaca-kaca.
Reno hanya melirik sinis, kemudian berlalu pergi meninggalkan Saras. Dia lekas mengejar perawat yang mendorong brankar di mana saat ini Intan tengah berbaring.
"Aku tidak akan membiarkan Intan merebut Mas Reno dariku. Aku telah bersusah payah mendapatkannya, dan takkan aku lepaskan begitu saja." Saras berlari kecil mengejar kepergian Reno.
Dia berinisiatif akan mendampingi Reno, karena dalam pikirannya, Intan akan merayu Reno kembali.
"Jika aku tak mengawasi Mas Reno, kemungkinan besar Intan akan merayunya kembali. Apa lagi sekarang Intan sudah menjadi kaya raya, pasti Mas Reno dengan mudah berpaling dariku," batin Saras.
Reno memberanikan diri masuk ruang periksa di saat Intan selesai di periksa. Sementara Saras tak berani mendekat, dia mengintai dari jarak lumayan jauh namun yang bisa menjangkau untuk melihat aktifitas Reno dan Intan.
"Anda suami dari pasien?" tanya dokter pada Reno.
Belum juga Reno dan Intan menjawab pertanyaan dokter, dokter telah berkata lagi.
"Tuan, anda nggak usah khawatir. Istri anda baik-baik saja, kandungannya juga sehat saja. Kadang memang ada yang merasakan kram saat usia kandungan masih muda. Di karenakan janin sedang dalam pertumbuhan, dan otot perut mulai terdesak karena janin," kata dokter menjelaskan.
"Alhamdulillah terima kasih, dok," Reno dan Intan serentak berkata.
"Wah, suami istri kompak sekali. Semoga rumah tangga kalian langgeng, dan kelak anak kalian lahir sehat,sempurna, tidak kurang suatu apapun. Kalau begitu saya permisi, anda boleh langsung pulang. Tapi saya sarankan, jangan terlalu cape." Dokter tersenyum ramah dan berlalu pergi meninggalkan ruang periksa.
"Kamu dengar, Intan. Apa yang barusan di ucapkan oleh dokter, berati kita masih bisa bersama." Reno tersenyum riang.
"Jangan mimpi kamu." Intan melirik sinis seraya turun dari brankar.
"Mana kontak mobilnya, aku mau pulang. Untuk urusan ke kantor polisi, lain waktu saja karena aku mau istirahat di rumah," Intan menengadahkan tangannya meminta kontak mobilnya.
Namun Reno tak memberikannya.
"Biar aku antar sampai rumah, setelah itu aku pulang naik ojek. Kamu kan lagi sakit, aku nggak akan tega kalau kamu mengemudikan mobil sendiri," Reno menyunggingkan senyum.
"Nggak perlu, biar aku telpon suamiku saja untuk menjemputku kemari," Intan melangkah keluar dari ruang periksa tersebut.
__ADS_1
"Mas, kamu nggak usah mengantar dia. Biar dia pulang sendiri saja," tiba-tiba Saras muncul.
"Kenapa kamu keras kepala, masih saja mengikutiku. Aku memintamu pulang, tapi kenapa masih di sini?" tanya Reno ketus menatap sinis Saras.
"Mas Reno, tolong berikan kontak mobilku sekarang juga. Dan kamu pulanglah bersama dia!" Intan menunjuk kasar pada Saras.
Namun Reno tetap pada pendiriannya, dia tetap tak bersedia mendengar apa yang di katakan oleh Intan.
"Intan, untuk kali ini menurutlah padaku. Apa kamu ingin terjadi hal buruk pada janinmu?" Reno tetap memaksa ingin mengantarkan Intan.
"Aku nggak ingin Mas Reno dan Saras tahu rumahku, lebih baik aku memintanya mengantarku ke restoran saja," batin Intan.
"Baiklah, antar aku ke restoranku saja yang lokasinya nggak jauh dari sini." Intan melangkah ke parkiran mobil.
"Bukannya restorannya telah tutup, untuk apa pula dia ke restoran yang telah tutup. Setahuku lokasinya juga bukan di daerah sini," batin Saras.
Saras dan Reno juga melangkah ke parkiran mobil. Saat Intan dan Reno masuk mobil, tiba-tiba Saras ikut pula nyelonong masuk duduk di kursi belakang.
"Untuk apa kamu ikut, cepat turun!" bentak Reno menoleh ke arah Saras.
"Sialan, Intan menyindirku! awas kamu ya, Intan!" Saras mendengus kesal dalam hati.
Intan mencoba menelpon Tara, namun nomor ponsel tidak aktif.
"Selalu seperti ini, kalau sedang bersama Laras pasti susah di telpon!" batin Intan kesal.
"Kenapa, sepertinya kamu kesal sekali? apa suamimu susah di hubungi, mungkin sedang banyak kerjaan," Reno melirik tersenyum pada Intan seraya terus melajukan mobilnya.
Intan hanya diam saja tak menghiraukan ucapan dari Reno. Dia hanya melirik sinis pada Reno.
Tak berapa lama, Intan meminta Reno menghentikan mobilnya di depan sebuah restoran mewah dan ramai.
"Mas, berhenti di sini saja. Dan mana kontak mobilnya, aku sudah mengirim pesan pada suami supaya menjemputku di sini," pinta Intan seraya menengadahkan tangannya.
"Kamu serius, ini restoranmu?" Reno merasa tak percaya.
__ADS_1
"Kenapa, nggak percaya? biarpun satu restoranku tutup karena ulah istrimu, aku masih punya beberapa restoran yang lain," Intan melirik sinis pada Saras.
"Oh iya, Saras. Kamu jangan mencoba berulah lagi untuk membuat buruk nama restoranku. Jika kamu ulangi lagi, aku nggak akan segan-segan melaporkanmu pada polisi. Apalagi aku punga bukti kejahatanmu di restoranku yang di pusat kota," Intan melirik sinis pada Saras.
"Apa yang kamu katakan tadi, aku sama sekali nggak mengerti." Saras pura-pura tak tahu.
"Lagu lama, kali ini kamu lolos. Tapi lain kali aku akan melaporkanmu, karena aku sudah mempunyai buktinya. Siap-siap saja kamu mendekam di penjara," Intan menyeringai sinis.
"Kamu sok kaya, Intan. Restoranmu cuma satu kan, ini restoran orang kamu akui. Kamu pikir bisa membodohiku?" Saras malah mengalihkan pembicaraan.
Inran turun dari mobil, di ikuti oleh Reno dan Saras.
"Selamat siang, Bu Intan. Apakah kondisi ibu sudah membaik sehingga datang kemari?" sapa salah seorang waiters.
"Alhamdulillah, sudah. Aku ingin ketemu Tasya, tolong panggilkan." Perintah Intan pada karyawatinya.
"Baik, bu. Akan saya panggilkan." Waiters langsung mencari asisten pribadi Intan yang bernama Tasya.
"Apa kalian ingin mencicipi menu restoranku?" Intan menatap Reno dan Saras.
"Sombong kamu, Intam!" Saras berkata ketus.
"Kamu itu aneh, tadi kamu nggak percaya jika restoran ini adalah milikku. Kini mengatakan aku sombong. Lebih baik kalian berdua pulang saja sana," Intan mengusir Reno dan Saras.
Intan melangkah masuk menuju restoran untuk ke ruang kerjanya, dia tak menghiraukan Saras dan Reno. Reno lekas pulang seraya menarik paksa tangan Saras.
"Untuk apa kamu mempermalukan diri sendiri!" Reno melotot pada Saras.
Saras hanya diam saja mendengar ocehan Reno. Dia tak bisa berkata apapun, namun hanya rasa iri dan dengki di hati Saras.
Mereka pulang ke rumah sakit di mana saat ini anak Laras sedang di rawat inap. Tanpa ada tegur sapa dari keduanya.
Hanya beberapa menit mereka naik taxi on line, sampai juga di rumah sakit tersebut.
******
__ADS_1