Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Reno Telah Sadar


__ADS_3

Laras merasa lega, mendengar kabar dari Intan jika Reno kondisi baik-baik saja hanya sampai saat ini belum juga sadarkan diri.


"Alhamdulilah, bude. Kata, ibu saat ini kondisi papi sudah stabil hanya belum juga sadarkan diri. Apa yang bude katakan ada benarnya juga, seharusnya aku jangan terlalu khawatir dan gelisah," Laras menghela napas lega.


"Alhamdulilah jika memang papimu kondisinya sudah stabil. Kita berdoa saja semoga lekas sadar. Karena semua kejadian ini kuncinya ada pada papimu."


"Siapa tahu, papimu mengenal orang yang telah menusuknya. Supaya kita bisa melaporkannya pada aparat hukum."


Atin ikut merasakan senang mendengar berita baik tentang Reno. Tak berapa lama, mereka telah sampai di apartement. Mereka langsung mendapat sambutan hangat dari Bu Mita dan Pak Yogi.


Nenek dan kakeknya telah mengetahui semuanya dari Intan, hingga mereka tak bertanya apa pun tentang kedatangan Laras yang membawa banyak barang.


"Laras, sebaiknya kamu langsung istirahat saja. Pasti kamu lelah karena kejadian buruk yang menimpa papimu. Biar bude dan pakde menyusul ibu dan ayahmu ke rumah sakit," pinta Atin.


"Baiklah, bude. Terima kasih."


Laras menuruti saran dari Atin, dia sejenak beristirahat mumpung Risky juga tertidur pulas.

__ADS_1


Atin dan Rendy berpamitan pada Bu Mita dan Pak Yogi untuk segera ke rumah sakit. Sementara anak mereka bersama baby sitternya. Perjalanan ke rumah sakit hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja.


"Mba Atin, nyusul toh?"


"Iya, Intan. Kami sengaja kesini supaya kalian berdua bisa pulang, biar kami yang bergantian menjaga, Reno. Istirahatlah di rumah," pinta Atin.


"Tapi apa nggak apa-apa, Mas Rendy?" Intan merasa ragu seraya mengernyitkan alisnya.


"Pulanglah, justru aku yang menyarankan pada Atin supaya kita menggantikanmu di sini. Nggak usah merasa nggak enak hati, kaya sama siapa. Lagi pula Reno itu teman baikku, apa kamu lupa akan hal itu, Intan?" Rendy terkekeh.


Seperginya Intan dan Keano, perlahan jemari Reno bergerak.


"Mas, lihatlah. Reno mulai menggerakkan jemarinya." tukas Atin.


Perlahan pula, Reno membuka matanya.


"Rendy-Atin, kalian ada di sini? aku pikir diriku telah mati."

__ADS_1


"Hestah, baru juga sadar bukannya mengucap syukur alhamdulilah malah ngomongnya seperti itu," celoteh Rendy.


"Healah, astaghfiruloh alazdim. Alhamdulilah ya Allah, aku masih di beri kesempatan untuk hidup. Aku pikir telah mati," Reno menghela napas panjang.


"Trimakasih kalian telah bersedia menjagaku di sini. Maaf ya, aku telah merepotkan kalian berdua," tukas Reno.


"Seharusnya kamu berterima kasih pada, Intan dan suaminya. Kami baru saja datang, dari kemarin yang menjagamu ya, Intan dan suaminya. Mereka baru saja pulang, dan kami baru datang," celoteh Rendy.


Tak berapa lama, datang beberapa aparat polisi.


"Alhamdulilah, anda telah sadar dan terhindar dari maut. Bagaimana kondisi anda saat ini, Tuan Reno?" tanya salah satu aparat polisi yang bertugas.


"Alhamdulilah, saya sudah agak baikan tak merasa pusing seperti waktu itu, hanya perut masih terasa sakit sekali, pak," jawab Reno menyunggingkan senyuman.


"Keberuntungan masih berpihak pada anda, Tuan Reno. Dan yang paling utama, Allah masih berbaik hati memberi umur pada anda. Padahal jika di lihat secara medis, luka anda cukup memprihatinkan karena begitu dalam tusukan pisaunya dan juga pendarahan yang sempat anda alami," tukas salah satu pihak polisi.


*******

__ADS_1


__ADS_2