
Selagi Atin asik melamunkan Tara dan Tia, tiba-tiba Tara sudah ada di hadapannya. Atin sempat terhenyak kaget.
"Astaghfiruloh alazdim, bikin kaget saja," spontan Atin memegangi dadanya seraya menatap sinis pada Tara.
"Aduh-aduh, pagi hari kok sudah di bawa melamun sih? entar kesurupan loh," canda Tara terkekeh.
Atin hanya diam saja, dia sama sekali tidak terpengaruh dengan gurauan dari Tara. Tatapannya masih saja sinis pada Tara.
Atin memberanikan diri bertanya pada Tara, tentang keberadaan Tia yang dari kemarin tidak datang ke kantor.
"Pak Tara, kenapa dari kemarin Tia nggak kelihatan?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Tia sudah resign, dia sudah tidak bekerja lagi karena repot. Dia memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga, mengurus babynya yang masih butuh ASI," jawab Tara sekenanya.
Setelah mendengar penuturan dari Tara, Atin hanya berhooh ria tanpa berkata lagi. Sementara dia mulai pekerjaanya, tanpa menghiraukan Tara yang masih terpaku di hadapannya dan terus saja menatapnya tanpa berkedip sekalipun.
__ADS_1
Namun di dalam hati Atin mengumpat, karena dia merasa tidak nyaman dengan adanya Tara di hadapannya yang tak juga pergi meninggalkan ruangan Atin.
"Harus di apakan ini orang ya, supaya lekas pergi dari hadapanku?" batin Atim menahan rasa geram.
Atin juga sedang memikirkan Tia.
"Perasaanku waktu pertama kali bertemu Tia, dia sangat ketakutan dan nggak mau di pecat karena harus membiayai ibu dan anaknya. Lah ini kok resign? terus siapa yang menafkahi ibu dan babynya?" batin Atin terus saja penasaran dengan keputusan Tia berhenti dari pekerjaanya.
"Nanti aku telpon saja saat jam istirahat kantor," batin Atin.
Sementara Tara masih tetap saja mematung di hadapan Atin.
"Oh iya, maafkan saya. Saya tidak sadar dengan apa yang saya lakukan, semua karena kecantikanmu yang sangat menyilaukan dan saya seperti terkena hipnotis oleh pesona wajahmu," Tara terkekeh kembali.
Tara membalikkan badannya dan keluar dari ruangan Atin. Setelah di rasa aman tidak ada Tara. Dia memutuskan untuk menelpon Tia saat ini juga.
__ADS_1
"Aku tidak akan bisa fokus dalam bekerja jika belum mengetahui kebenarannya." Atin mulai mencari nomor ponsel Tia.
Dia mengurungkan niatnya menelpon Tia saat jam istirahat kantor, dia memutuskan saat ini juga menelpon Tia supaya terjawab rasa penasaran di hatinya.
Panggilan telpon yang di lakukan oleh Atin kepada Tia akhirnya tersambung juga.
π±"Asalamu alaikum. Apa kabarmu, Tia?"
π±"Walaikum salam wr wb. Alhamdulilah kabar aku baik, bagaimana dengan kabarmu, Cantika?"
π±"Alhamdulilah, baik juga. Apa benar kamu sudah resign dari kerja?"
π±"Iya, Cantika. Akhirnya Mas Tara menikahiku walaupun secara siri. Dan dia memintaku untuk menjadi ibu rumah tangga saja. Mengurus anak kami yang masih baby. Bahkan saat ini aku sudah tidak tinggal di rumahku yang jelek. Mas Tara memberiku rumah di sebuah perumahan elite yang tak jauh dari rumahku yang buruk."
π±"Syukurlah kalau begitu, aku turut senang."
__ADS_1
Atin dan Tia sama-sama mematikan panggilan telponnya. Kini Atin sudah tidak penasaran lagi. Kerjanya jadi lebih fokus setelah mengetahui tentang resign Tia.
**********