
Tara memutuskan memesan ojek, tetapi bayarnya di rumah. Kebetulan tak jauh dari, Tara melangkah ada pangkalan ojek.
Dia lekas memesan satu ojek tersebut, dan hanya beberapa menit saja telah sampai di depan rumah, Monalisa.
"Bang, berapa ongkosnya?"
"Dua puluh lima ribu, mas."
"Sebentar, bang. Aku ambil uang dulu, kebetulan nggak bawa uang cash." Tara melangkah masuk dan menemui, Mona yang sedang menyusui, Marsya.
"Mona, aku minta uang dua puluh lima ribu sekarang juga untuk bayar tukang ojek." Tara menengadahkan tangan kanannya.
Belum juga, Mona menjawab. Tara telah meraih dompet yang kebetulan tergeletak di atas nakas. Dan membuka dompetnya mengambil sejumlah uang yang dia butuhkan.
Secepat kilat, Tara berlari kecil ke arah pelataran dan memberikan uangnya pada tukang ojek. Tara bisa bernapas lega karena sudah sampai di rumah, tapi hatinya masih belum ikhlas uangnya di jambret orang.
__ADS_1
"Mas Tara, kamu dari mana saja? pulang malah minta duit buat bayar ojek, lantas dimana mobilmu? setahuku kamu pergi membawa mobil," Monalisa menatap sinis pada Tara.
"Kemana ponselmu? aku telpon nggak aktif." Tara di tanya bukannya menjawab malah balik bertanya.
"Noh, lagi di ces." Monalisa menunjuk ponsel yang sedang di isi daya.
"Aku habis kena apes, uang hasil aku menjual mobil di jambret. Tadi aku menelponmu untuk minta di jemput, tapi nomor ponselmu nggak aktif," celoteh Tara.
"Lantas sekarang kamu nggak punya mobil dan nggak punya uang sama sekali? lantas mau makan apa kita?"
"Aku sudah berusaha, dengan menjual mobilku untuk modal usaha. Jadi kamu jangan terus menyalahkanku dan memojokkanku. Seharusnya kamu iba dengan musibah yang baru saja aku alami barusan," Tara mendengus kesal.
"Sudah aku katakan berapa kali? jika aku tak mau melakukan hal itu, kamu anggap apa aku ini?"
"Lantas mau makan apa kita? jika kamu mencari kerja nggak mau, di minta tolong mengerjakan urusan rumah juga nggak mau."
__ADS_1
"Kamu pikir kita bisa makan tanpa tak bekerja? cape aku lama-lama ngadepin kamu, mas."
Terjadi lagi percekcokan antara Tara dan Monalisa.
"Baiklah, mas. Jika kamu terus saja egois dan keras kepala. Lebih baik rumah tangga kita cukup sampai di sini. Lagi pula untuk apa bertahan dengan pria yang tak bisa menafkahi istri?" tiba-tiba keluar ultimatum dari mulut, Monalisa.
"Loh, kok kamu ngomong seperti itu? bukannya dulu kamu yang memaksa untuk menikah denganku, bahkan memintaku menalak, Tia. Tapi kenapa sekarang berubah seperti ini?" Tara menautkan alis dengan napas memburu menahan emosi.
"Karens dulu aku belum mengenalmu sepenuhnya, aku pikir kamu pria pekerja keras. Tapi ternyata cuma pria benalu saja, yang hanya bisa numpang hidup pada wanita," ucap Mona mencemooh.
"Tega kamu menghinaku, setelah apa yang aku lakukan padamu?"
"Aku bukan menghina, tapi berkata fakta. Memang apa yang telah kamu lakukan untukku? hanyalah sebuah penyesalan yang mendalam. Karena aku terlalu percaya dengan semua bujuk rayumu," ucap Mona semakin mencemooh Tara.
Sejenak Tara terdiam, dia berpikir jika dia berpisah dengan, Monalisa. Hidupny akan bagaimana? sementara dia sudah tak memiliki apa pun lagi.
__ADS_1
Tapi dia tak ingin menjadi budak Monalisa, dengan melakukan pekerjaan rumah tangga.
*****