Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Reno Bertemu Intan


__ADS_3

Pagi menjelang, suasana di rumah Reno seperti biasa. Sejak Reno bertemu dengan Intan, kehidupan rumah tangganya bersama Saras tidaklah tentram.


"Aku mau pergi, suntuk di rumah terus mendengar ocehanmu yang tak pernah berhenti bak petasan." Reno melangkah keluar dari rumahnya menuju ke garasi mobilnya.


"Aku melarangmu pergi, paling kamu akan ke restoran Intan kan?" Saras mencekal tangan Reno untuk mencegahnya pergi.


Namun Reno menepis cekalan tangan Saras, dan dia melanjutkan langkahnya menuju ke mobil.


"Aku ingin pergi sejenak ke rumah temanku saja yang ada di kota B. Daripada aku suntuk, biasanya pelarianku ke rumah Laras, namun beberapa bulan ini aku kehilangan kontak dengannya." Reno melajukan mobilnya.


Sementara Saras menangisi kepergian Reno, dia semakin benci dan dendam pada Intan.


"Semua ini gara-gara Intan, jika dia tak muncul kembali, kehidupanku bersama Mas Reno dan Laras harmonis."


"Dia yang telah menghancurkan semua ini. Mas Reno bersikap dingin padaku sejak bertemu Intan. Laras pergi entah kemana, sudah berbulan-bulan nggak ada kabar."


Demikian gerutuan Saras menyahkan Intan,untuk apa yang terjadi pada kehidupan rumah tangganya bersama Reno.


********


Beberapa jam kemudian, Reno telah sampai di kota B. Dia sengaja bermalam beberapa hari di rumah temannya.


"Ren, tumben kamu kemari? memangnya kamu lagi nggak ada kerjaan, biasanya kalau aku minta kamu kemari, susah sekali." Sapa Rendi menyalami Reno.


"Ternyata orang hidup bukan hanya uang yang di butuhkan, tapi juga butuh refresing juga ya penat otakku ini mikir kerjaan terus." Reno menghela napas panjang.


"Ya begitulah, tapi tumben kamu kemari sendiri? biasanya kemana-mana bareng sama Saras, kalian itu tak pernah terpisahkan lengket banget seperti perangko pada amplopnya," canda Rendi terkekeh.


"Aku lagi suntuknya sama Saras," kata Reno menghela napas panjang.


"Loh kok bisa?" Rendi menjadi penasaran.


Reno menceritakan semuanya pada Rendi tanpa ada rasa malu sedikitpun. Karena Rendi adalah teman baiknya.


Sesaat Rendi dengan sangat fokus mendengar cerita dari Reno. Setelah itu dia baru berkomentar.


"Sudah ku duga, bukankah dulu aku sudah pernah menasehatimu? supaya berpikir secara matang dulu jika akan meninggalkan Intan hanya demi Saras. Karena aku sangat paham tabiat Saras, dulu kan aku pernah menjadi tetangganya." Rendi berkata panjang lebar.

__ADS_1


Reno hanya diam saja saat Rendi berkata panjang lebar, dia hanya bisa berkata menyesal.


"Memang penyesalan di akhir, kalau di awal namanya ya pendaftaran," ledek Rendi terkekeh.


"Hem, senang benar jika temannya sedang kesusahan dan menderita," Reno mengerucutkan bibirnya.


"Hem, bukannya begitu. Sekarang nggak mungkin jika kamu ingin kembali pada Intan. Sedangkan dia telah bersuami dan seperti yang kamu katakan Intan sedang hamil pula kan?" Rendi mengernyitkan alisnya.


"Kita kan nggak tahu takdir Allah, bisa jadi pertemuanku dengan Intan karena Allah ingin menyatukan kami kembali," kata Reno dengan percaya dirinya.


"Kamu jangan terlalu tinggi dalam berkhayal, nanti jatuhnya sakit loh," canda Rendi terkekeh.


"Hem, kebiasaan dari dulu hingga sekarang. Jika di ajak ngobrol serius malah bercanda terus," kembali lagi Reno mengerucutkan bibirnya.


"Eh, besok kita ke perkebunan teh aku yang ada tak jauh dari sini. Sejuk segar kalau pagi loh," ajak Rendi.


"Boleh dech," Reno menyunggingkan senyum.


Waktu tak terasa begitu cepat berlalu, kini telah malam. Reno segera memejamkan mata di kamar yang telah di sediakan oleh Rendi.


Sementara di rumah Saras, dia sedang gelisah karena Reno tak jua pulang padahal sudah larut malam. Apalagi di hubungi nomor ponselnya tidak aktif, membuat Saras semakin curiga pada Intan.


Hingga rasa lelah tiba, Saras memutuskan untuk tidur.


Pagi menjelang, Reno dan Rendi telah bangun pagi-pagi sekali. Mereka berjalan-jalan ke perkebunan teh milik Rendi.


"Ren, kamu betah sekali hidup menduda? apa nggak merasa kesepian?" tiba-tiba Reno bertanya di sela mereka berjalan bersama-sama.


"Sepi juga, sih. Tapi aku belum menemukan wanita yang bisa menggetarkan hatiku, seperti almarhumah istriku," jawab Rendi menghela napas panjang.


Mereka berjalsn seraya bercanda ria, hingga Reno tak konsen dalam berjalan, dia menabrak seorang wanita.


"Auw." wanita itu kaget dan akan terjatuh ke selokan, namun Reno langsung menopangnya supaya tidak terjatuh dalam selokan.


"Intan?" Reno menatapnya dalam topangan tangannya.


"Mas Reno?" Intanpun menatap Reno.

__ADS_1


Tak sadar mereka berdua saling bertatapan cukup lama, hingga suara Bu Mita mengagetkan mereka berdua.


"Ya Allah, Intan. Ibu mencarimu kemana-mana ternyata ada di sini," Bu Mita menghela napas panjang saat melihat Intan.


Dia sempat panik dan gelisah saat mendapati Intan tidak ada di apartementnya.


Reno langsung melepas topangan tangannya karena ada Bu Mita.


"Reno, Rendi? kenapa kalian berdua bisa ada di sini?" tanya Bu Mita menyelidik.


"Bu Mita, ini kan perkebunan miliku dan aku tinggal tak jauh dari sini. Kebetulan Reno sedang bermain di rumahku," Rendi menyalami Bu Mita seraya tersenyum ramah.


Reno mengulurkan tangannya ingin menyalami Bu Mita, tapi Bu Mita malah mengajak Intan pulang.


"Nak, kita pulang. Kamu kan nggak boleh kecapean." Bu Mita menggandeng tangan Intan.


"Kamu lihat kan, semalam baru kita bicarakan. Eh, pagi ini bertemu. Apa coba, kalau bukan jodoh namanya," Reno berkata dengan percaya diri.


"Serba kebetulan, jangan terlalu berharap. Nanti tidak sesuai harapan kamu bisa kecewa," Rendi menasehati.


"Kenapa sekarang Intan sangat jauh berbeda dengan dulu? aku saja hampir tak mengenalinya, karena sekarang lebih cantik, glowing, bersih, putih. Ahhhhh, kok aku jadi seperti ini ya," gerutu Rendi di dalam hati.


Ternyata Rendi malah menyukai Intan juga.


Sementara tak di sangka dan tak di duga, apartement Intan bersebelahan dengan apartement Rendi.


Pada saat Intan menyirami tanaman, seusai dari perkebunan teh milik Rendi. Reno dan Rendi bisa melihatnya dari halaman.


"Loh, bukannya itu Intan? wah, jangan-jangan Intan jodohku, karena rumahnya bersebelahan," Rendi tergelak tawanya meledek Reno.


"Awas ya, kamu jangan macam-macam sama Intan," Reno menatap tajam pada Rendi seraya menunjukkan tinjunya.


"Hem, dia itu siapa dan kamu itu siapa? harusnya kamu itu sadar diri dan koreksi diri, Reno." Rendi mencoba menasehati Reno.


Reno tak menanggapi perkataan dari Rendi, dia terus saja menatap Intan yang sedang menyirami tanaman seraya berdendang mendengarkan lagu di headsetnya.


Reno terus saja menatap Intan dari pelataran apartement Rendi.

__ADS_1


*******


__ADS_2