Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Terbongkarnya Kebohongan Tara


__ADS_3

Tara menepis cekalan tangan Keano. Dia pergi begitu saja dari hadapan Keano dan Kevin.


Tangis Intan masih saja pecah, dia belum bisa menenangkan hatinya. Kevin merasa iba pada Intan.


"Mah, sudahlah. Kalau dia berulah lagi, biar Kevin yang hadapi! mamah nggak usah takut," Kevin menenangkan hati Intan.


"Apa benar tadi itu suamimu, Intan?" tanya Keano menyelidik.


Intan hanya menganggukkan kepalanya, sementara Kevin membersihkan keonaran yang telah di buat oleh Tara, dia di bantu oleh para pelayan.


"Ceritalah, siapa tahu hatimu lega. Karena aku tahu, saat ini di hatimu menyimpan rasa sedih," Keano menatap sendu pada Intan.


Hingga Intan akhirnya menceritakan semua pada Keano. Dari awal hingga akhir tidak ada yang di sembunyikan. Kini dia sudah benar-benar kecewa dan kesal pada tuduhan Tara.


Selama ini, dia selalu menutupi aib Tara dari semua orang, bahkan dari istri sah Tara dan juga ibu dia. Kini dia tak ingin lagi menutupi aib Tara setelah apa yang Tara lakukan padanya.


Mendengar cerita dari Intan, entah kenapa hati Keano berkecamuk emosi atas perilaku Tara pada Intan.


"Lihat saja, Intan tidak membongkar aibmu pada istri sahmu. Tapi aku akan mencari tahu keberadaan kalian, dan aku akan membongkar semua kebusukanmu pada istri sahmu!" batin Keano geram.


Dia sendiri heran, kenapa dia merasa emosi pada kelakuan suami Intan. Padahal dia cuma sahabat Intan.


Sementara saat ini Tara telah sampai rumah, dan dia mencari keberadaan Bu Mita.


"Bu, ibu." Tara mencari dari sudut ke sudut.


"Ada apa, Tara?" Bu Mita datang menghampiri Tara.


"Anak ibu sungguh keterlaluan, dia telah selingkuh dariku! harusnya dia bersyukur, aku mau menikah dengan dia yang dulu statusnya janda. Kurang baik apa aku padanya?" Tara mengadu pada Bu Mira.


"Tara, ibu sama sekali tak tahu arah pembicaraanmu?" Bu Mita mengernyirkan alis.


Tara menceritakan apa yang di lihatnya barusan di restoran pada Bu Mita. Namun Bu Mita hanya menyunggingkan senyum sinis.

__ADS_1


"Sudah pengaduanmu? ibu sudah tahu siapa yang Intan temui setiap hari, bahkan ibu juga sempat berkenalan dengan Kevin dan Keano."


"Mereka orang baik, tidak sepertimu yang hanya jadi benalu bagi anakku. Justru kamu yang tak tahu malu!"


"Kamu pikir ibu nggak tahu perbuatanmu di belakang Intan? biarpun selama ini Intan menutupi aibmu dari ibu, tapi ibu telah mengetahuinya."


Bu Mita sengaja berkata menyindir, karena ini saat yang tepat untuk melabrak Tara. Sudah sejak lama Bu Mita ingin melakukan hal ini, tapi dia sengaja menunggu moment yang tepat.


Tara mengernyitkan alis mendengar semua yang di katakan oleh mertuanya.


"Maksud ucapan ibu apa? ibu mengetahui tentang hal apa?" Tara merasa penasaran.


"Ibu tahu jika kamu telah membohongi Intan, dulu saat kamu menikah denga Intan mengaku masih lajang. Ternyata kamu sudah beristri. Makanya saat Intan memintamu menikahi dia secara resmi, kamu terlalu banyak alasan!" sindir Bu Mita


"Ibu tahu darimana? apa Intan yang mengatakannya?" tanya Tara menutupi rasa gugupnya.


"Sudah ibu katakan barusan, jika Intan tidak pernah bercerita apapun pada ibu. Tapi ibu menyelidiki sendiri, karena ibu merasa curiga padamu yang tak bisa setiap hari di rumah. Kamu di rumah hanya tiga hari dalam seminggu," ucap Bu Mita panjang lebar.


Sejenak Tara terdiam tak bisa berkata lagi, dia tertunduk lesu.


"Ibu bisa merasakan betapa menderitanya Intan harus berbagi suami dengan wanita lain, yang dia anggap sahabat. Apalagi kondisi dia yang sedang hamil. Tapi ibu yakin, kelak setelah dia melahirkan, pasti akan meminta pisah darimu. Dan kamu bersiaplah jadi gembel, karena semua yang kamu dapatkan mutlak milik Intan." Bu Mita berlalu pergi begitu saja dari hadapan Tara.


"Sialan, niatku mencari pembelaan, malah aku mendapat hinaan. Sebisa mungkin, aku tidak akan melepaskan Intan. Karena dia sumber keuanganku selama ini. Jika aku berpisah dengannya, aku tak bisa menafkahi Laras dan Risky," batin Tara sedang memutar otak mencari cara supaya Intan kelak tidak pergi dari hidupnya.


Tara pergi untuk kembali ke restoran dimana dia telah membuat kegaduhan. Dia ingin meminta maaf pada Intan, atas apa yang dia lakukan barusan.


Namun saat dia sampai di restoran tersebut, Intan sudah tidak ada. Dia tidak tahu jika saat ini Intan sedang berada di makam palsu buatan Tara.


Intan pergi tidak sendiri, dia bersama Kevin. Karena Kevin ga tega membirkan Intan pergi sendirian.


"Mah, ini makam siapa?" tanya Kevin penasaran.


"Ini makam almarhumah Laras, anak mamah." Jawab Intan seraya menitikkkan air matanya.

__ADS_1


Intan tak sungkan menceritakan semua pada Kevin, karena dia telah menganggap Kevin layaknya anak sendiri.


Tak terasa kembali lagi keluar buliran putij bening dari mata Intan, saat dia menceritakan tentang Laras.


Saat sedang fokus bercerita pada Kevin, datang dua orang pria menghampiri mereka.


"Ibu, maaf mengganggu. Sudah sejak lama kami ingin bertemu dengan peziarah makam kosong ini," ucap salah satu bapak tersebut.


"Makam kosong? apa maksud bapak?" tanya Intan mengernyitkan alisnya.


"Sebelumnya kami mohon maaf, bu. Secara tidak langsung, kami juga telah membohongi, ibu."


"Beberapa bulan yang lalu, ada seorang pria datang pada kami. Saat kami sedang menggali lubang untuk makam seseorang."


"Pria tersebut meminta kami membuatkan makam palsu ini dengan memberi imbalan uang yang lumayan banyak."


"Pada saat itu, kami langsung setuju. Karena kami benar-benar membutuhkan uang."


"Tapi setelah beberapa hari berlalu, kami merasa berdosa dan bersalah. Hampir tiap hari, kami gelisah. Tidur tak nyenyak, makanpun tak enak."


"Sudah lama kami ingin bertemu dengan ibu, tapi selalu saja gagal. Sekali lagi kami minta maaf."


Panjang lebar orang tersebut menjelaskan pada Intan, seraya tertunduk malu.


"Baiklah, pak. Saya memaafkan kalian, tapi jangan mengulangi hal ini lagi. Karena sama saja penipuan," Intan menyunggingkan senyum keterpaksaan.


Hatinya tambah benci pada Tara, karena kebohongan ini. Dia tidak menyangka jika kelicikan Tara sampain sejauh ini.


"Astshhfiruloh alazdim, aku telah di tipu lagi oleh suamiku sendiri." Intan mengusap dadanya seraya menghela napas panjang.


"Mah, yang sabar ya. Jangan terbawa emosi lagi, aku nggak ingin mamah sakit, juga dede bayi ini." Kevin berusaha menenangkan hati Intan seraya mengusap berkali-kali perut Intan.


"Terima kasih ya, nak. Kamu selalu menghibur hati mamah." Intan menghela napas panjang seraya mencoba tersenyum.

__ADS_1


Intan memutuskan pulang ke rumah diantar oleh Kevin. Selama dalam perjalanan pulang, hatinya gundah gulana. Sudah tak sabar ingin melabrak Tara.


*******


__ADS_2