
Tara kembali lagi meyakinkan mertuanya.
"Laras sempat bingung, dia akan percaya pada cerita papi atau mami. Aku sempat menasehatinya, jika dia lebih baik percaya dengan cerita papi. Karena nggak ada yang namanya ibu kandung tega meninggalkan anak yang baru di lahirkannya. Akhirnya dia percaya, pih. Bahkan memintaku membantunya mencari tahu keberadaan ibu kandungnya. Aku sengaja meminta Laras mengajak pergi mami, supaya tidak ada yang mengganggu pembicaraan kita, pih."
Sejenak Reno terdiam, seolah sedang berpikir tentang apa yang di ucapkan oleh Tara.
"Benar juga apa yang kamu katakan, memang Saras tidak pernah menginginkan jika Laras bertemu ibu kandungnya."
"Makanya ini bisa buat pelajaran bagimu juga, janganlah kamu main hati dengan wanita lain. Setialah pada Laras, jangan seperti papi dulu."
"Papi tergoda dengan Saras yang merupakan janda kaya raya, dan melupakan Intan istri papi yang sangat baik."
"Bahkan papi tega memisahkan Saras dengan Intan, di saat Intan selesai melahirkan. Papi langsung menalak Intan dan membawa serta Laras."
"Penyesalan datangnya terlambat, kini papi ingin menebus kesalahan di masa lalu, dengan mempertemukan Laras dan Intan."
"Namun Saras selalu saja menghalangi usaha papi. Berkali-kali tinggal satu langkah saja, berhasil. Semua di gagalkan oleh Saras."
"Makanya semalam pasti yang membalas notifikasi chat pesan dari Laras adalah Saras."
Demikian penuturan Reno panjang lebar menceritakan kisah masa lalunya pada Tara sang menantu.
"Pi, apakah saat ini papi punya foto ibu kandung, Laras? biar aku saja yang mempertemukan mereka, karena papi pasti akan selalu di halangi oleh mami," Tara mencoba membujuk Reno untuk menunjukkan foto ibu kandung Laras.
"Banyak, sebentar ya." Reno meraih ponselnya dan membuka di bagian galeri penyimpanan foto.
"Loh, kok fotonya nggak ada? padahal banyak sekali aku menyimpan foto Intan, niat hati ingin aku tunjukkan pada Laras." Reno terhenyak kaget saat mendapati semua foto Intan sudah tidak ada.
"Mungkin ulah, mami." Tara menimpali.
"Hem, iya. Siapa lagi kalau bukan dia!" Reno mengepalkan tinjunya seraya mendengus kesal.
"Pi, apa papi tahu saat ini keberadaan ibu kandung Laras?" Tara masih sangat penasaran.
"Ya tahulah, seperti yang tadi papi ceritakan. Papi beberapa kali berusaha memberitahu pada Laras, karena papi telah mengetahui keberadaan Intan. Namun semua terhalang oleh Saras, bahkan dia saat ini sedang berusaha menghancurkan Intan."
__ADS_1
"Dia juga berusaha menyakiti Intan, dengan ingin melenyapkan janin yang saat ini di kandungnya. Waktu itu kan sempat satu rumah sakit, saat Risky di opname. Di rumah sakit itu pula, Intan juga sedang di rawat."
"Jalan satu-satunya menyingkirkan Saras adalah dengan cara menjebloskannya ke penjara. Karena secara tidak sengaja papi mendengar sendiri pembicaraan dia dan orang bayarannya."
"Dimana dia membuat gaduh di restoran Intan, dengan menaruh kecoa mati di makanan yang orang itu pesan. Dia merekayasa seolah makanan itu dari restoran ada kecoanya."
"Restoran itu sekarang tutup karena ulah Saras. Dan pada saat itu, aku bertemu Intan. Bertujuan untuk melaporkan Saras ke kantor polisi, karena kebetulan Intan juga punya bukti rekaman vidio CCTV."
"Dimana di dalam rekaman vidio CCTV, perempuan itu menaruh sendiri beberapa kecoa ke dalam makanan yang dia pesan."
Demikian Reno bercerita mendetai tentang kejahatan Saras pada Intan, tanpa ada yang si tutupinya.
"Terus, papi sudah melaporkan mami ke kantor polisi?" Tara menjadi tambah penasaran.
Reno menceritakan pula, bagaimana Intan kesakitan perutnya saat bertemu dengannya dan bagaimana pula Saras terus mengikutinya.
"Fix, jika Intan istriku adalah ibu kandung Laras. Tapi aku ingin lebih jelas lagi meminta keterangan dari Papi Reno. Supaya benar kepastiannya," batin Tara.
"Pi, memangnya papi tahu di mana restoran milik ibu kandungnya Laras?" tanya Tara kembali bagaikan seorang wartawan.
Reno kembali berkata menunjukan dimana letak restoran Intan.
"Tara, kamu kenapa wajahnya panik seperti itu setelah papi cerita tentang semuanya?" Reno merasa curiga dengan perubahan expresi wajah Tara.
"Nggak kok, pi. Aku itu heran saja sama mami, kok jahat sekali," Tara mencoba menutupi rasa gugupnya.
"Semua sudah jelas kan, papi minta bantulah Laras untuk bisa bertemu ibu kandungnya secepatnya. Karena kamu telah mengetahui semuanya." Reno menepuk bahu Tara.
"Iya, pi. Pasti aku akan membantu papi untuk mengungkap kebenarannya," Tara meyakinkan Reno seraya menyunggingkan senyum.
"Pi, kalau begitu Tara pamit ya. Terima kasih sudah bersedia jujur padaku," Tara bangkit dari duduknya akan pergi.
Namun Reno menahannya.
"Kamu mau kemana? kok ingin pergi begitu saja?"
__ADS_1
"Aku masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan dengan segera, pi. Assalamu alaikum." Tara pergi dengan menyalami mertuanya.
"Walaikum salam wr wb."
Seperginya Tara, Reno sangat geram saat mengetahui jika Saras telah menghapus semua foto Intan begitu saja.
"Awas kamu ya, Saras! aku akan memberimu pelajaran setimpal karena kelancanganmu membuka ponselku!" gerutunya mengepalkan tinjunya.
Sementara saat ini Tara sedang dalam perjalanan pulang, namun dia menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang tidak terlalu ramai.
"Kehidupan ini memang gila, dan nggak bisa di tebak. Aku menikahi dua wanita yang ternyata adalah ibu dan anak!" Tara mengacak-acak rambutnya sendiri.
"Bagaimana cara aku, supaya semua tetap berjalan sesuai yang aku mau?" Tara memutar otaknya memikirkan rencana selanjutnya.
Setelah menemukan cara yang tepat, dia melajukan mobilnya ke sebuah tempat pemakaman umum.
Dia meminta beberapa orang, untuk membuat makam palsu dan di beri nisan bertuliskan nama Laras. Namun Laras ini bukan Larasati seperti nama istrinya.
Dia memberi nama pada batu nisan yakni Laras saja, tidak sama seperti istrinya yakni Larasati. Tanggal kematian di rekayasa oleh Tara, dia memikirkan yang tepat dan masuk akal.
Setelah semua sesuai dengan rencana, barulah Tara pulang ke rumah. Dia memasang wajah sedih. Intan yang melihatnya menjadi penasaran.
"Apa ada masalah? kok wajahmu murung?" Intan mengernyitkan alisnya.
"Sebelumnya aku minta maaf, jika aku memberikan kabar buruk padamu," Tara tertunduk lesu.
"Memangnya kabar apa? jangan membuatku semakin penasaran." Intan mengguncang lengan Tara.
"Aku sudah menemukan dimana keberadaan Laras, anak kandungmu." Tara sejenak menghentikan ucapannya seraya menghela napas panjang.
"Benarkah, kalau begitu antar aku bertemu dengannya sekarang juga," Intan sangat antusias.
"Baiklah, tapi kamu jangan kaget jika telah bertemu dengannya." Tara melangkah menuju ke mobilnya.
"Apa maksud ucapanmu?" Intan semakin penasaran.
__ADS_1
"Ikut saja, nanti kamu juga akan tahu," ucap Tara singkat.
*******